Jumat, 13 Januari 2012

PRINTEMPS A PARIS

1
Un

Angin bertiup kencang, membuat butiran tipis salju melayang-layang tanpa tujuan. Bunyinya yang mendesau-desau itu, terdengar bagai orkestera aneh ketika menyerang telinga. Minus tujuh derajat celsius. Sempurna. Suhu jahat musim dingin telah sampai pada titik serendah itu dan sialnya aku masih berada di jalanan. Kuharap tak lama lagi, ini akan berakhir dan aku akan segera menikmati musim semi yang hangat.
Musim semi, ah, betapa aku sangat menantinya.

Kuperlambat langkah karena mendengar suara dari dasar hati yang berbisik agar aku melakukan itu. Kuputar kepala dan langsung setuju dengan feelingku sendiri yang bilang; ada orang TELAH membuntutiku. Sosok itu sudah kulihat sejak tadi, sejak keluar dari kampus dan sejauh itu dia mengikutiku. Sambil terus berjalan, kuhirup udara pelan-pelan dan spontan hidungku perih bagai tersayat sembilu. Ini musim dimana dinginnya adalah dingin yang paling dingin yang pernah aku rasakan.

Aku mengutuk diri sendiri, mengapa telat pulang. Perkuliahan baru usai pukul lima sore tadi dan aku terpaksa tinggal lebih lama bersama beberapa teman untuk menyelesaikan tugas. Yeah kau tahu, lazimnya semua orang disini berlomba menyelesaikan pekerjaannya justru pada musim dingin agar ketika musim semi atau musim panas nanti mereka bisa berpuas-puas diri pergi berlibur. Oh, tentu saja aku juga sudah punya rencana dengan teman-teman untuk mengisi liburan nanti.


Kurapatkan jaket dan syal yang menggantung di leher, melintasi Place de la Contrescarpe kemudian belok ke jalan Lacépède. Aku menoleh lagi dan dia masih disana. Aku melangkah cepat, dia cepat. Aku melambat, diapun ikut melambat. Terkesiap aku sadar, mungkinkah dia memang sengaja menguntitku? Oh yeah, beberapa bulan ini, aku dihantui seorang secret admirer dan itu sangat mengerikan! Bayangkan: Dia, telah mengirimkan bermacam-macam hadiah padaku. Sebut saja dia mengirimi aku bunga. Bermacam-macam bunga, bukan hanya satu jenis bunga seperti rose yang sudah sangat biasa. Ini bunga-bunga yang namanya saja aku tidak tahu. Tidak berhenti disitu, dia juga mengirimi aku coklat dan baju-baju dari boutique di Avenue des Champs Elysées . Itu mengerikan? Tidak. Yang mengerikan tentu saja hadiah-hadiah itu dikirimkan padaku, tanpa nama!

Bagiku, orang itu bukan sekedar secret admirer tapi perbuatannya dengan mengirimkan hadiah-hadiah tanpa nama itu, telah menjurus pada tindakan psychopath. Kau pasti menduga, aku ini seorang selebritis karena punya pengagum. Bukan. Aku bukan artis, bukan orang terkenal, bukan selebritis. Tapi, aku punya banyak penggemar karena bentuk wajah dan fisikku berbeda dengan orang kebanyakan disini.  Baiklah, aku kasih gambaran, kau pasti setuju jika kukatakan Dian Sastrowardoyo adalah potret wanita Indonesia sejati. Aku sih tidak bermaksud bilang kalau wajahku ini mirip Dian Sastro, tapi aku memiliki wajah Indonesia meskipun separuh darah Prancis mengalir di tubuhku.


Dalam keterdiaman sambil terus mempercepat langkah, aku menyesal telah menolak tawaran Sébastien untuk menjemputku. Ya, dia menelponku ketika aku berada di dalam kelas tadi. Aku hanya sedikit sungkan dan merasa selalu merepotkan kakak tiriku itu. Toh, kini hatiku sedikit lega ketika mendapati diriku telah sampai di jalan Mouffetard. Kulihat butiran-butiran salju yang tercerai berai dan kebingungan karena terombang ambing angin tak berperasaan itu, membentuk bayangan-bayangan aneh di depan sana. Meliuk-liuk, melambai-lambai, serupa penari yang sudah tampil all out, tetapi tidak ditonton. Putus asa.

Apartemenku tinggal beberapa meter saja dan aku berdoa, semoga segera terlepas dari orang itu. Kesadaranku belum mencapai titik tertinggi ketika aku merasa, tangan orang itu telah memegangi pundakku dan oh, dia mencengkeramnya! Aku terkesiap dan ingin berteriak tapi tak satu nadapun kuhasilkan dari tenggorokan. Pria yang tengah mencengkeram bahuku kini adalah laki-laki dengan tinggi 170 sentimeter, bertubuh kurus, dan wajahnya tak dapat kukenali karena tertutup tudung kepala. Segera kupejamkan mata dan memohon pada Tuhan jika aku harus mati jangan malam ini dan dalam keadaan seperti ini. Aku akui, aku memang banyak dosa tapi kan tidak harus mati dalam keadaan mengenaskan sebagai korban mutilasi seorang psikopat seperti yang banyak diberitakan koran.

“Au..Secours..!” setelah beberapa kali mencoba teriak, keluar juga suaraku. Aku berteriak meminta tolong, namun kurasa itu hanya sebuah bisikan yang mungkin hanya terdengar oleh orang ini. Tapi tiba-tiba saja, sebuah tinju yang datang dari arah belakang laki-laki itu, melayang tepat mengenai kepalanya.

Begitu cepat. Buk! Buk! Buk!

“Séb!” teriakku setelah mengenali siapa yang memukulnya. Sébastien! Aku sudah cerita, bukan? Saudara tiriku! Sejak kapan dia di belakangku? Sébastien berhasil membuat laki-laki itu jatuh tersungkur dan teronggok di tepi jalan. Sedikit niatku untuk menolongnya bangkit namun ketika aku menjulurkan tanganku untuk membantunya berdiri, Sébastien menepis tanganku.

“Touches pas!” jerit Sébastien menyuruhku untuk tidak menyentuh keparat itu. Dengan satu injakan kaki, Sébastien lagi-lagi berhasil membuat laki-laki itu terjengkang sambil memegangi dadanya. Kemudian dengan sigap, tangan kekar Séb menarik jaketnya dan melayangkan tinju lagi ke arah wajah dan tubuh laki-laki itu. Berkali-kali.

“Sudah Séb! Assez !!” kataku setelah kudengar erangan kesakitan dari mulut pria itu.
“Aku lihat dia mengikutimu sejak tadi. Kurasa, dia adalah orang yang selama ini menterormu dengan parcel-parcel tanpa nama!” kata Séb.  Mengingat itu, aku mundur selangkah, menjauhi laki-laki itu walau sebenarnya dia tampak tidak berbahaya samasekali. Buktinya, tidak melawan ketika dipukul Sébastien. Orang itu terhuyung-huyung, berusaha bangkit sambil memegangi kepalanya.
“Sekarang kita apakan orang ini?” tanyaku. Sébastien meraih tudung kepala yang menutupi wajah orang itu dan menyingkapnya. O là là! Betapa terkejutnya aku ketika melihatnya. Wajah itu? Demi Tuhan, aku mengenalnya!
“Julie..”  orang itu berkata lirih dan melempar senyum tipis kepadaku. Aku sempat oleng karena tidak percaya pada mataku sendiri dan akupun berjongkok untuk melihat wajahnya lebih dekat dan astaga, benar! Aku mengenalnya!!
“Kamu..?”
“Iya ini aku” jawabnya, lalu mengerang lagi sambil memegangi perutnya. Sébastien menatapku dengan pandangan bertanya-tanya. Mungkin dia heran karena ternyata aku mengenali ‘korban’nya. Alis matanya naik tanda minta penjelasan. Segera kubantu laki-laki itu untuk bangkit dan membopongnya.
“Séb, bantu aku, dong. Jangan bengong saja seperti itu!”
“Apa? Aku harus menolongnya setelah kupukuli? T’es folle, toi !” seru Sébastien sambil mengetok-ketok pelipisnya dengan ujung jari telunjuk, gestur orang Prancis ketika mengatakan bahwa seseorang sudah gila.
“Sudah! Bukan saatnya berdebat. Aku kenal orang ini. Ayo kita bawa ke rumah. Kulihat pelipisnya sobek akibat tinjumu tadi”

Meski terlihat berat hati, Sébastienpun akhirnya menuruti perintahku, sambil mengomel tentu saja. Bersamaku, Sébastien membopong lelaki itu dan membawanya ke rumah kami yang hanya berjarak beberapa meter lagi. Seraya menuntun tubuh lemas itu aku meliriknya. Dalam hati aku tidak percaya, apakah dia sang secret admirer itu?


2
Deux

Jakarta, beberapa tahun yang lalu..
Hujan turun sangat deras. Kamu tahu? Deras bukan main. Kurasa ini hujan pertama yang balas dendam kepada musim kemarau yang kelamaan bercokol di Bumi Pertiwi. Enam, errr, tidak, tujuh bulan lamanya musim kemarau betah menjajah negeriku. Aku bilang ‘menjajah’ sebab dia telah membuat sejumlah besar kesengsaraan; sawah di Indonesia kering kerontang, mata air dan sungai-sungai juga kering hingga penduduk tidak punya sumber air, hasil padi menjadi tidak bagus, harga beras lokal  melambung sehingga pemerintah perlu mengambil kebijakan impor beras, jutaan petani kehilangan penghasilan akibat gagal panen, kelaparan mendera sebagian Maluku dan Papua dan berita-berita lain yang merupakan efek domino dari kemarau panjang.

Ditengah hujan badai dan angin ‘balas dendam kepada musim kemarau’ itulah, aku menerima telepon dari kakek, yang mengabarkan bahwa papaku, kini sedang terbaring di RS Jantung Harapan Kita. Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, kau tahu artinya? Papaku sedang mengalami serangan jantung, untuk yang ketiga kalinya, secara berturut-turut, dalam kurun waktu dua minggu.

 Kumasukkan ponsel ke dalam tas seraya melihat langit. Jika hujan sudah tidak terlalu deras lagi, aku akan segera kesana. Naik taksi tentu saja. Sebab jika naik mikrolet atau metro mini, aku tidak bisa menjamin berapa lama aku akan sampai ke rumah sakit itu dan apakah aku masih sempat bertemu papaku. Sepertinya aku pesimis, ya? Mungkin saja. Lebih tepatnya pasrah. Bisakah kau bayangkan, jika orangtuamu mengidap penyakit jantung yang cukup parah dan telah beberapa kali keluar masuk rumah sakit, apakah kau masih bisa berharap? Oh, yeah, aku memang berharap papaku sembuh, namun aku juga pasrah jika dirinya harus pergi menghadap Yang Maha Kuasa. Kurasa itu adil. Aku tidak tega jika harus melihat papa hidup dengan penderitaan yang begitu berat seperti itu.

Halaman sekolah yang tadi dipenuhi siswa bergerak menuju sepi, berbarengan dengan meredanya hujan. Seperti yang lain, akupun beringsut meninggalkan halaman sekolah, menyebrang jalan untuk kemudian menunggu taksi dari halte di tepi jalan raya di depan sekolah. Semua sibuk. Mobil penjemput, mikrolet dan metro mini berebutan menjaring siswa yang baru bubar ini. Semoga ada taksi yang melintas, doaku dalam hati.

Kakek menyambutku, dengan mata merebak. Mata yang merah dan sembab  itu mengidentifikasi bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi. Hatiku bergetar namun belum bisa menangis. Yeah, ternyata naik taksipun tidak menjamin aku bisa segera sampai dan sempat bertemu papaku sebelum meninggal dunia. Tergesa, aku segera mengikuti langkah kakek menuju suatu ruangan yang mempunyai nama cukup terkenal, namun kujamin kau tidak akan berminat mengunjunginya: Ruang Jenazah. Oke, mungkin menakutkan jika scene ini kau tonton dalam film horor dan bisa saja aku berlagak seperti Luna Maya dalam film Bangsal 13 yang sedang ketakutan dikejar hantu. Tapi bagaimana jika adegan yang sedang kulakoni ini adalah skenario sebuah drama tragedi, dimana seorang bocah perempuan berusia 16 tahun, masih SMA, korban broken home, dan kini, orangtua tunggalnya, wali asuhnya sedang terbujur kaku? Apakah aku akan tetap berakting seperti Luna Maya dikejar hantu?

Kakek memberi isyarat padaku untuk mendekati tubuh kaku yang terbujur horisontal itu. Sementara di sudut sana, seorang petugas sigap membantuku membuka selimut yang menutupi wajah papa. Dan duh, Tuhan, berilah aku kesanggupan menatap orang terkasihku dengan ketabahan seorang Pangeran William yang diharuskan secara protokoler, tidak menampakkan wajah sedih ketika menyaksikan ibunya dikebumikan. Kakek menarik tubuhku, ketika melihat cucunya ini sudah mulai emosional. Aku memeluknya dan kutumpahkan semua disana. Aku menangis sejadi-jadinya. Ya, mungkin aku tidak bisa dibilang anak yang tabah seperti Pangeran William, meskipun di dalam skenario kehidupanku, scene yang mengatakan bahwa aku akan kehilangan papa, sudah aku duga sebelumnya. Kau juga tidak akan mengejekku sebagai anak cengeng gara-gara ini, bukan?

Para tetangga sesama penghuni kompleks satu persatu telah meninggalkan rumahku. Kau tahu, rumah duka tidak ada yang hangat meskipun suasana disini nyaris seperti Lebaran hari pertama. Semua, maksudku seluruh keluarga papaku datang berkumpul. Keluarga bude, pakde yang di Kebayoran, keluarga oom yang di Lenteng Agung, dan keluarga paklik yang di Pancoran dan Radio Dalam. Juga yang dari Malang, yang baru datang sore itu. Mereka langsung ‘terbang’ begitu kakekku mengabarkan salah satu saudara mereka, Jusuf Aristanto, telah meninggal dunia tadi siang. Jika semua yang datang adalah keluarga papa, lalu, dimanakah keluarga mama? Jika kau berada di rumahku sekarang, kau akan tahu bahwa tidak satupun keluarga mama hadir disini. Mungkin kau penasaran. Baiklah nanti akan kuceritakan mengapa keluarga mama tidak datang untuk berbela sungkawa atas meninggalnya papa.

Kakak papa yang paling tua –aku memanggilnya pakde-, yang berprofesi sebagai pengacara, tiba-tiba memanggilku dan mengundang semua yang hadir untuk bersama-sama duduk dengan kami. Cyntia, salah satu sepupuku, duduk di sebelah dan menyediakan bahunya untuk kusandari. Dari percakapan berbau orang dewasa ini aku tahu, bahwa papa sebelumnya telah menunjuk pakde sebagai pengacara pribadi dan menulis surat wasiat untukku beberapa tahun lalu. Surat wasiat? Apakah ini surat wasiat seperti dalam sinetron Indonesia yang isinya tentang pembagian harta warisan? Ah, aku selalu tidak menyukai ide surat wasiat karena menurutku itu sedikit bersifat mistis. Yeah, membaca surat orang yang sudah meninggal, apakah bukan mistis? Surat itu masih tersegel rapi, menandakan jika pakde yang dipercaya papa memegang surat wasiat ini, tidak pernah membukanya. Disaksikan saudara-saudaranya yang lain, pakde menyerahkan surat itu kepadaku.

“Bacalah keras-keras di depan kami, Julie” kata pakde.
Aku membukanya dan benar itu adalah sebuah surat yang ditulis dan ditandatangani papa sendiri. Aku amat hapal model tulisan dan tandatangannya. Surat itu mengatakan jika dia meninggal sebelum aku berumur 18 tahun, maka hak asuh atas diriku, akan kembali pada Marie-Anne Clemenceau, yaitu mamaku dan aku harus tinggal di mana Marie-Anne Clemenceau tinggal. Papa menyerahkanku kembali pada mama? Nah, tanpa aku bilang, kau kini tahu, mengapa keluarga mama tidak hadir disini? Ya, mamaku bukan orang Indonesia dan tidak tinggal di Indonesia. Baiklah, kini aku terisak dan semua orang menatapku nanar. Kurasakan tubuhku bergetar dan mataku berkunang-kunang, tapi kupaksaan untuk membaca kelanjutan isi surat wasiat itu di depan keluarga besar. Papa bilang, sejumlah tabungan di rekeningnya cukup untuk membiayai perjalanan dan hidupku selama beberapa tahun ke depan. Sedangkan rumah, sepenuhnya hakku dan hanya aku yang berhak menjualnya atau tidak. Surat itu diakhiri dengan salam dan tandatangan papa.  Tanganku gemetar ketika melipatnya. Setelah itu entah bagaimana aku lupa, tiba-tiba saja aku tak mampu lagi duduk tegak. Aku  oleng dan semua yang kulihat berubah menjadi gelap. Aku pingsan.

Berhari-hari aku tidak mau makan dan masih tidak habis pikir, kenapa papa menyerahkanku pada mama jika dia meninggal? Bukankah mama juga telah meninggalkan aku sejak masih kecil? Aku kenal mama, tapi sekilas-sekilas. Dia hanya menelponku sesekali dan mengunjungiku sekali-sekali juga. Aku tidak pernah diajaknya ke negerinya sana dan aku ingat papa memang tidak pernah mengijinkan mama membawaku ke negerinya. Tidak jelas alasannya mengapa. Penyesalanku semakin menjadi ketika ingat bahwa segala pertanyaan ini tak akan bisa terjawab sebab tidak mungkin aku berkomunikasi dengan papa yang telah tenang di alam sana.

Ketika alasan keengananku pergi ke negeri mama kusampaikan pada kakek, laki-laki tua itu bilang bahwa bagaimanapun aku harus melaksanakan wasiat itu. Mendengarnya, aku langsung dihantam ombak tsunami. HARUS? Itu suatu keharusan? Kakek memelukku dan berkata lagi bahwa tidak ada salahnya pergi kesana, toh aku punya hak sebagai warga negara Prancis dan itu memudahkanku hidup disana.

“Aku warga negara Prancis, Kek?” tanyaku heran.
“Benar. Anak yang lahir dengan kedua orang tua atau salah satu orang tuanya warga negara Prancis, otomatis anak-anaknya juga menjadi warga sana”
“Kukira aku warga negara....Indonesia” desisku lirih.
“Kelak kau bisa memilih, tapi sekarang belum saatnya. Lagipula Julie, kau akan tinggal dengan ibu kandungmu sendiri. Itu lebih baik daripada siapapun di dunia ini. Kau mengerti?”
Aku termenung mendengarnya. Kau akan tinggal dengan ibu kandungmu sendiri. Yeah, kau dengar kan? Ibu kandung. Sudah lama orang tidak menyebut kata itu bahkan papa. Jika tidak diingatkan, aku sendiri lupa jika masih punya ibu kandung.
*
    Mama datang tepat sebulan setelah papa meninggal. Aku menjemputnya bersama kakek di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Mama, atau biasa aku menyebutnya maman, tidak berubah samasekali. Wajah aristokrat Prancisnya enggan enyah darinya. Aku masih ingat dari dulu, gaya rambutnyapun masih seperti itu. Rambut ikal pirang keemasannya digulung begitu saja membentuk gelungan kecil. Tubuh mamaku juga tetap langsing dan tentu saja jangkung jika dibandingkan dengan Tante Ratna, bundanya Dewi, teman sekelasku. Dia hanya lebih tinggi sedikit dari Tante Wita yang mempunyai tinggi badan 170 sentimeter. Tante Wita adalah ibunya Narotama, kawan karibku, tetangga sebelahku.

Kini, setelah sekian lama tidak bertemu, maman –dilafalkan mamong- masih tetap menunjukkan dirinya wanita Prancis yang lekat dengan kata ‘modis’. Menyandang tas tangan yang mungil atau clutch dan sepatu teplek yang memperingan gayanya melangkah. Pakaiannya, jangan kau tanya. Modis banget! Penampilannya berbeda dengan ibu-ibu orangtua teman-temanku disini. Dia, berbalut longdress motif abstrak warna hijau daun dengan cardigan rajutan hijau tua, melenggang cantik di sisiku sambil memeluk pinggangku. Seketika aku terperangah mendapati kenyataan bahwa diriku kini hampir sejangkung dirinya!

    “Maman kangen sama Julie..” bisiknya dan aku hanya bisa tersenyum. Suaranya, tidak berubah samasekali meskipun sudah sepuluh tahun, sejak perceraiannya dengan Papa, dia meninggalkanku disini. Aku masih sering mendengar suara itu via telepon, juga sesekali ketika dia datang ke Indonesia pada liburan musim panas di Prancis, atau sekitar bulan Juni-Agustus.
    “Apa kabar, Pak Widyo?” tanyanya pada kakekku, mantan mertuanya. “Saya turut berduka cita atas meninggalnya Jusuf” lanjutnya dengan Bahasa Indonesia yang menurutku sangat lancar untuk ukuran orang asing.

Maman bicara dalam bahasa Indonesia dengan aksen Prancis yang kental. Kakek menjawab ucapan bela sungkawa itu dengan datar saja. Baginya, tak ada urusan lagi dengan Marie, kecuali untuk urusan cucunya yang satu ini, yaitu aku.  Selama di Jakarta, aku menemani maman jalan-jalan melihat mal-mal baru dan dia memintaku menemaninya mengunjungi tempat bersejarah baginya dan papa. Aku hampir tak bisa menahan tawa, ketika mengetahui tempat yang konon bersejarah baginya dan papa itu. Kau tahu? Stasiun Gambir! Ya ampun, stasiun. Apa tidak ada tempat yang lebih bagus?

    “Ditempat inilah kami, ton papa et moi  bertemu. Ketika itu, aku bersama beberapa teman di kampus melakukan ekspedisi keliling kota-kota tua dan klasik di Asia. Kami sampai di stasiun ini, hendak melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta, setelah sebelumnya kami mengunjungi Kyoto, Jepang. Waktu itu disini, sedang high season, mungkin Lebaran Haji, dan kami tidak kunjung dapat tiket. Lalu datanglah dia, yang memperkenalkan diri dengan nama Jusuf, yang rela membantu kami mendapatkan tiket. Dengan membayar dua kali lipat, aku dan teman-temanku akhirnya berhasil dapat tiketnya. Kurasa, aku telah menjadi korban seorang calo bernama Jusuf waktu itu”
Aku tergelak.
    “Jusuf yang mengetahui ekspedisi ini tertarik, lantas membelokkan rencananya yang mulanya ke Lombok, jadi ke Yogyakarta. Bukan Ge-er, Julie, tapi aku merasa pemuda Indonesia ini bukan tertarik pada ekspedisinya, tapi telah terpikat padaku. Un coup de foudre, cinta pada pandangan pertama”
Aku tergelak lagi. Tak kusangka papaku memiliki selera yang tinggi akan wanita dan mudah percaya pada cinta pandangan pertama. Astaga!
    “Selanjutnya, bisa kau tebak, bukan? Kami pacaran jarak jauh sampai Jusuf  lulus kuliah dan berangkat ke Prancis untuk memintaku menjadi istrinya. Kami menikah dan akupun diboyong ke Jakarta”
    “Setahun kami menikah, lahirlah kau, yang kami namai Julie-Anne. Julie, karena kau lahir pada bulan Juli. Anne dari namaku Marie-Anne”
    “Maman,...” potongku, bernada interupsi. Mama membulatkan matanya,
    “Ya?”
“Aku ada pertanyaan yang dari dulu ingin kutanyakan”
    “Apa itu?” tanya maman.
     “Kenapa maman bercerai dengan papa?” tanyaku. Wajah mama berubah sedih dan sumpah, aku menyesal telah bertanya itu. Kau tahu? Ini seperti langit Jakarta yang tiba-tiba mendung setelah teriknya hampir membakar ubun-ubun.
    “Maman....,” mama menggantung kalimatnya “Mungkin maman yang salah. Maman yang tidak berusaha dengan keras mempertahankan perkawinan itu”

    Kau tahu, sebagai orang yang bersalah karena bertanya itu, aku terdiam. Sebenarnya ada satu pertanyaan lagi yang ingin kuajukan, yaitu mengapa maman meninggalkanku di Indonesia? Tapi aku takut jawaban maman adalah, oh yeah aku tak mungkin membawamu karena Jusuf yang memenangkan soal hak asuh dirimu di pengadilan dan Jusuf tidak pernah mengijinkanku untuk membawamu dengan alasan apapun. Jadi kupikir, sudahlah, lebih baik jika hal itu tidak perlu diperpanjang lagi. Cukuplah membuat maman bersedih hari ini meski itu sebenarnya tidak kusengaja. Aku hanya penasaran, mengapa kedua orangtuaku bercerai. Ketika kutanya, papa juga tidak pernah mengungkapkan alasannya, begitu juga dengan maman sekarang. Mungkin, tidak semua perbuatan perlu alasan. Mereka hanya ingin berpisah, itu saja.

    “Ohya, Maman, semalam aku telah memutuskan bahwa aku tidak akan pergi ke Prancis denganmu”

    Mama membelalak dan bibirnya mengatup tanda bahwa dia sedang bingung. Sekali lagi aku merasa bersalah. Aku tidak mau dianggapnya seperti papa yang tidak bisa dimengertinya. Bagaimanapun, dialah waliku sekarang. Apapun yang akan terjadi, aku seharusnya pasrah dalam perwaliannya. Tapi ketidakinginanku pergi ke Prancis dengannya sekarang bukan tidak kupikirkan matang-matang. Tidak seperti mereka yang tidak punya alasan bercerai. Aku, punya alasan sendiri.

    “Pourquoi, Chérie?” tanyanya sendu “Aku telah jauh-jauh kesini, untuk menjemputmu”
    “Maaf, Maman, tapi aku punya alasan sendiri”
    “Apa alasan kamu? Apa karena aku telah menikah lagi dan kau punya papa dan saudara tiri hingga itu membuatmu takut?”
    “Bukan, Maman. Bukan itu. Jika aku pergi ke Prancis denganmu sekarang, bagaimana dengan sekolahku? Aku usul, seandainya aku menunda keberangkatanku sampai aku lulus SMA, untuk mempermudah masalah tentang sekolah, apa itu tidak cukup reasonable buatmu?”
    Mama berubah cerah.
    “Ah, Syukurlah! Kukira kau akan menolak kubawa ke Prancis. Ya, aku baru ingat jika sistem jenjang pendidikan menengah antara disini dan Prancis, berbeda. Kau akan mengalami kesulitan jika sekarang pindah kesana. Baiklah, jika itu keputusanmu. Selesaikanlah sekolahmu sampai lulus SMA, setelah itu kau bisa mengikuti prosedur kuliah di Prancis dan tinggal denganku”
    “Itu ide yang bagus, kan?”
    “Sangat bagus! Maman akan bantu kamu mendaftar di Sorbonne. Beberapa alumninya yang sekarang menjadi dosen adalah teman kuliahku dulu. Ngomong-ngomong, darimana seorang gadis 16 tahun sepertimu dapat pemikiran ini? Kakekmu?”

    Aku tersenyum, membiarkan mama menebak-nebak. Kau tahu, seorang anak yang ditinggalkan orangtuanya dengan segudang masalah tak terselesaikan, akan mempunyai pemikiran dua kali lebih dewasa dari umurnya sendiri.



3
Trois

Setahun kemudian..
Pramugari mengumumkan jika sebentar lagi, pesawat akan mendarat. Aku bernapas lega, yeah, setelah melayang-layang selama kurang lebih tigabelas jam pada ketinggian tigapuluh ribu meter di atas permukaan laut tentu saja aku patut lega dengan pengumuman itu. Kuintip keadaan di luar dan terlihat daratan yang kuduga pasti bernama Prancis. Astaga, lututku tiba-tiba bergetar-getar. Kau tahu, dulu lututku pernah bergetar-getar hebat begini ketika akan menari di atas panggung untuk yang pertama kali, pada acara perpisahan SD. Kupikir, aku mengidap penyakit yang sering disebut orang dengan istilah demam panggung yaitu kegugupan luar biasa ketika akan memulai sesuatu untuk yang pertama kali.

Paris adalah kota di luar negeri yang pertama kali aku kunjungi. Dulu, baik papa maupun aku memang tidak pernah merencanakan pergi main-main ke negeri orang. Kau tahu artinya? Aku terlalu nyaman hidup di Indonesia, hingga tak sempat memikirkan luar negeri.

Pikiranku melayang kembali ke Jakarta. Rasanya baru tadi aku tinggalkan kota itu. Tubuhku serasa tercabut dan  nyawaku terbang lagi ke sana. Kami menyusuri selasar pada jalur keberangkatan luar negeri Bandara Soekarno-Hatta. Kami? Yeah, aku, yang akan berangkat dan kakek yang mengantarku. Sebenarnya aku cukup senang jika hanya kakek yang mengantar kepergianku. Tapi, ya ampun, coba kau lihat, ada satu orang lagi yang membuntuti langkah kakek dibelakang itu, yang sedang kerepotan menyeret-nyeret koperku itu. Narotama! Aku pernah cerita, kan? Iya, dia teman masa kecilku, tetanggaku selama bertahun-tahun. Usia kami hanya terpaut dua bulan. Meskipun sudah berulang kali kukatakan padanya agar tidak usah mengantarku, namun Narotama tetap ngotot. Kau tahu? Dia memang laki-laki yang keras kepala. Pagi sekali, dia sudah sangat sibuk, menyiapkan mobil, menghitung jumlah bawaanku dan mengangkutnya ke dalam mobil. Ketika berangkat tadi, dia yang paling sibuk menyuruhku cepat berangkat padahal aku masih ingin berlama-lama menatap halaman depan rumahku.

“Cepat, Jul” katanya. Ijul, adalah panggilan ‘sayang’ Narotama untukku.
 Aku hampir tak kuasa menahan diri. Airmataku tumpah di halaman rumah. Kakiku seperti pasak tenda yang menghujam ke tanah, menancap kuat, tak mampu kugerakkan sedikitpun. Berkali kakek berusaha membujukku untuk berangkat namun aku bergeming. Kau tahu artinya, bukan? Aku sangat berat meninggalkan semuanya. Inilah sebenar-benarnya perpisahan, ketika kau harus pergi dalam keadaan setengah hati, tidak siap dan tidak rela untuk meninggalkan sesuatu yang kau cintai.

Sampai belokan ujung perumahanku menuju jalan raya, aku masih memandangi jalan masuk kompleks dan kulihat sebuah menara televisi yang menjulang tinggi. Menara RCTI Kebon Jeruk. Menara itu bertahun-tahun berdiri, menyaksikanku bangun pagi setiap hari, tergopoh-gopoh berangkat sekolah, menyiram kebun, bertengkar dengan Naro dan lain-lain. Ketika aku membalikkan badan karena menara itu sudah tidak terlihat lagi, Naro berkata padaku,
    “Sudahlah, jangan terlalu didramatisir, nanti juga kau akan melihat menara yang jauh lebih indah daripada menara RCTI itu dan segera melupakannya. Percaya padaku”
Aku menyusut airmataku. Sialan, kau, umpatku. Tahu apa kau tentang kesedihanku ini? Enak saja kau ngomong seperti itu, dasar Narotama yang tak tahu perasaan orang!! Inikah maksudnya mengantar, hanya untuk mengolok-olok kesedihanku?
    “Aku tahu kau sedih. Tapi kami semua disini akan lebih sedih jika kau berangkat dengan hati yang tidak rela seperti itu. Iya, tidak, Kek?”
    Kakek mengangguk sambil mengelus kepalaku dan dibenamkannya dalam peluknya. Aku menangis lagi, kali ini dengan penyesalan. Menyesali tindakan papa yang menulis surat wasiat itu dan menempatkan aku pada kondisi fait accompli, suatu keadaan yang sebenarnya tidak kuharapkan, namun harus kuterima.
    Kami berpisah. Ya, berpisah. Kakek memelukku lama sekali. Kurasakan dadanya berdebar kencang menahan tangis. Luar biasa kakekku itu. Mungkin penderitaan masa perang telah mengajarinya menjadi manusia yang tangguh hingga mampu menekan perasaan paling sedih sekalipun. Aku tahu dia akan kehilangan aku, meskipun cucunya bukan aku seorang.

Narotama menjabat tanganku. Erat sekali. Tak pernah kurasakan orang menjabat tangan dengan demikian erat. Mungkin lebih tepat kukatakan dia menggenggam. Lama sekali. Hm, tentu saja ini bukan kali pertama dia menggenggam tanganku. Meski tidak bisa dibilang pacar karena tidak ada deklarasi cinta diantara kami, tapi bukan berarti kami tidak pernah berpegangan tangan, berangkulan, bahkan berpelukan. Hanya saja, Narotama tampaknya tidak pernah berniat untuk menciumku dan aku juga tidak pernah kepikiran untuk diciumnya. Amit-amit. Kulihat matanya berkilat, mengisyaratkan bahwa dia ingin berbuat lebih dari ini. Benar saja. Dia menarik tanganku dan sialnya tubuh kerempengku ini jatuh begitu saja dalam pelukannya. Aku meleleh lagi.
    “Jaga dirimu baik-baik, Jul”
Astaga, dia masih saja memanggilku Ijul. Keterlaluan. Tak bisakah dia menghiburku sedikit saja dengan memanggilku Julie, yang dilafalkan dalam bahasa Prancis menjadi zyuli? Bukankah itu lebih terdengar sexy ketimbang Ijul?
    “Jangan lupa, keep in touch with me, okey?”
Aku melepaskan pelukan itu. Satu jam lagi, pesawat akan membawaku terbang jauh. Tak ada gunanya berlama-lama menahan diri demi menikmati detik-detik kebersamaan dengan orang-orang yang kucintai. Ups! Kucintai? Pada kakekku, iya. Tapi Naro? Tidak ya! Oke, mungkin lebih tepat kukatakan ‘dengan orang-orang yang kusayangi’.
Kupaksakan diri untuk mengembangkan senyum dibalik pintu kaca yang telah memisahkanku dengan kakek dan Naro sambil menahan diri untuk tidak meleleh-leleh lagi. Dengan ketegaran penuh, kulambaikan tanganku pada mereka. Ini bukan sekedar pergi sebentar lalu kembali lagi, tetapi pindah, yang jika diartikan secara ekstrim, kau pergi dan tak kembali lagi. Duh, betapa sedihnya aku mendengar kata itu. Enam belas tahun aku menghirup udara Indonesia tanpa pernah berkesempatan mengenal negeriku yang satu lagi dan kini akankah sisa hidupku akan kuhabiskan di negara asing nan jauh itu?
**
Aku berusaha tenang dengan melurus-luruskan kakiku. Perjalanan tigabelas jam dari Bandara Changi Singapura ini membuat pinggangku serasa rontok. Jika boleh kubandingkan lama perjalanan ini sama dengan aku pergi dari Jakarta ke Malang, naik kereta api ekspres Gajayana. Pramugari mengumumkan lagi bahwa pesawat ini akan segera mendarat di Paris dalam beberapa menit. Kuintip keadaan di luar sana. Beberapa ratus meter di bawahku, terbentanglah kota Paris yang masyur itu dan lututku makin bergetar-getar. Excited dan gugup. Dari atas, kota yang dijuluki dengan sebutan La ville de lumière atau kota cahaya itu terlihat seperti sarang laba-laba. Gedung-gedungnya tinggi diselingi jalan yang bersalur-salur, sangat teratur. Melihat ini, Jakarta yang baru kutinggalkan beberapa belas jam yang lalu itu jadi seperti sarang semut. Acak-acakan dan tidak rapi seperti ini. Ya Tuhan! Kenapa aku mulai membandingkan Paris dengan Jakarta!

Itu menara Eiffel, satu-satunya bangunan yang aku kenal dan menonjol diantara yang lainnya, berkilat-kilat tertimpa matahari, indah sekali. Lalu, mana Bandaranya? Kata Maman dalam teleponnya kemarin, dia tidak bisa menjemputku karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dan sebagai gantinya, dia akan mengutus anak tirinya untuk menjemputku. O,ow! Saudara tiri? Cewek atau cowok? Seperti apa ya tampangnya? Apakah aku mampu berkomunikasi dengannya nanti? Selama setahun penuh kemarin, aku telah membekali diriku dengan pengetahuan budaya dan bahasa Prancis, dan rela bolak balik ke Centre Culturel de Français (CCF) Salemba Jakarta untuk mempelajarinya. Kau pasti akan mengatakan Julie-Anne ini bodoh sekali. Peranakan Prancis, tapi buang-buang duit untuk belajar bahasa ibunya! Wait, bukankah bahasa ibuku adalah bahasa Indonesia?  Tapi ibuku asli orang Prancis. Jadi apa seharusnya bahasa ibuku?

Aku mengikuti pelajaran bahasa Prancis tingkat dasar. Tingkat dasar, yeah cukuplah, kata maman. Setidaknya itu akan membantuku membuka percakapan dengan orang Prancis yang enggan menanggapi orang yang berbahasa lain selain bahasa mereka. Nanti disana, aku bisa kursus sambil menunggu ujian masuk universitas. Inilah ruginya jika tidak mau belajar bahasa asing sejak dini dan kau tahu? Bahasa Prancis itu susahnya minta ampun! Setengah tahun belajar, aku belum bisa dikatakan mahir ngomong Prancis. Jangankan ngobrol seru dengan native speaker, membentuk kalimat yang utuh saja aku terbirit-birit. Kerepotan belajar menelan huruf R dan sibuk menyengau-nyengaukan suara. Yang lebih parah tentu saja aku tergagap-gagap menghafalkan konjugasi kata kerja yang berbeda di setiap subjek personalnya.

Kuberi satu contoh: kata kerja être, yang punya arti to be dalam bahasa Inggris, bisa berubah-ubah (berkonjugasi), mengikuti subjek yang ada didepannya, seperti ini:
Konjugasi kata kerja être:
Je suis [ze swi]            =saya adalah
Tu es [tyu e]            =kamu adalah
Il/elle est [il e/el e]        =dia(laki-laki), dia(perempuan) adalah
Nous sommes [nu som]        =kami adalah
Vous êtes [vuzet]        =mereka/anda adalah
Ils/elles sont [ilzong/elzong]    =mereka(laki-laki)/mereka (perempuan)adalah
Itu baru satu kata kerja dan bahasa Prancis punya ratusan kata kerja. Belum lagi persoalan kata benda. Bersyukurlah para pengguna bahasa Indonesia tidak mengenal jenis kelamin kata benda yang disebut atribut (dalam bahasa Inggris kita mengenalnya dengan The). Dalam bahasa Prancis kata benda dibedakan atas dua jenis kelamin, yaitu benda feminin yang ditandai dengan La dan benda maskulin ditandai dengan Le.
Buku, le livre.
Rumah, la maison.
Tentu saja kata benda-kata benda itu harus dihafalkan jenis kelaminnya, bukan asal main tebak. Jadi kau tidak bisa sembarangan menentukan sebuah benda itu laki-laki atau perempuan. Semua ada dalam kamus dan kau harus menghafalkan!
**
Lamunanku buyar ketika roda-roda pesawat jumbo SQ milik negara tetangga Singapura ini, mantap menyentuh aspal landasan Bandara Roissy-Charles de Gaulle dan kudengar suaraku sendiri mengucap syukur tak terkira. Aku bernapas lega. Yeah, begitulah penerbangan. Selalu mendebarkan dan lega ketika mendapati dirimu telah menyatu lagi dengan bumi.

Paris, j’arrive!,  seruku. Paris, aku datang, begitu artinya.

Sambil berjalan menuju pengklaiman bagasi, aku melihat sekeliling. Jika tadi ketika transit di Singapura aku sudah cukup terkagum-kagum dengan kemegahan bandara Changi, kini aku dibuat terganga dengan keindahan desain interior Roissy yang supermewah dan modern. Atapnya tinggi, didominasi besi, alumunium dan banyak kaca sehingga aku menduga pengelola bandara tidak lagi memerlukan banyak pengeluaran untuk lampu penerangan di siang hari. Tapi, kenapa aku merasa berjalan melawan arus? Astaga, aku baru sadar bahwa aku salah arah. Aku masih membawa kebiasaanku di Indonesia, berjalan disisi kiri, sementara disini orang berjalan disisi sebelah kanan. Pantas saja semua orang yang berpapasan denganku melihat dengan pandangan aneh.

Petugas menungguku dengan sabar ketika aku berusaha mengeluarkan seluruh dokumen perjalanan termasuk paspor dari tas selempangku. Dengan tampang serius petugas bandara yang mungkin saja cantik kalau tersenyum itu menanyaiku; berapa lama aku akan tinggal di Prancis, untuk keperluan apa dan lain-lain. Yeah, mungkin dia akan tersenyum kalau aku bisa ngomong Prancis sama dia, atau rutinitas yang membosankan sebagai petugas bandara telah memutuskan urat senyumnya? Tapi aku bersyukur karena wanita itu bertanya dalam bahasa Inggris sebab aku tidak bisa membayangkan seandainya dia hanya mau bicara bahasa nasional negara ini, apakah aku akan menjawab dengan bahasa Prancis standar tingkat satu saja untuk apapun yang dia tanyakan?

Beres urusan bagasi dan dokumen-dokumen keimigrasian, aku menuju next level dalam bandara ini, yaitu pintu keluar. Kata teman sekelasku di SMA yang sering bolak balik ke luar negeri, kita belum bisa dikatakan masuk sebuah negara sebelum keluar dari bandaranya. Aku jadi ingat cerita seorang pengungsi bernama Nasseri yang terjebak di bandara Charles de Gaulle ini dan ditahan pihak imigrasi karena bukti pengungsinya hilang dicuri. Setelah beberapa tahun baru diketahui bahwa Nasseri telah memasuki bandar udara Prancis secara ilegal dan tidak dapat keluar dari sana. Ia tinggal di dalam bandara selama kurang lebih 18 tahun karena pemerintah Prancis tidak punya negara tujuan untuk mendeportasinya.  Nasseri bermaksud mengungsi ke Prancis, tapi ia tidak benar-benar berada di Prancis.

Di pintu keluar, di area penjemputan, aku bingung, celingak celinguk serupa pelanduk yang kecewa kehilangan mangsa. Para penjemput berderet-deret menanti dan  aku mengalami shock cultureku untuk yang kesekian kalinya. Semua orang sepertinya berwajah sama di mataku, mereka berkulit putih dan rambutnya berwarna. Lalu dimanakah saudara tiri yang katanya akan menjemputku? Kubaca deretan nama-nama yang ditulis di karton putih, yang diacung-acungkan para penjemput itu. Tapi tidak satupun namaku tertulis disana. Oh, bagaimana ini? Jika dia tidak datang, kemanakah aku harus pergi? Segudang pertanyaan meruap dan kegugupanku semakin menjadi.

Berjam-jam aku aku gelisah menunggunya. Sejam pertama tadi, masih tenang. Masih sanggup berdiri di pintu keluar sambil tak henti-hentinya mataku ini jelalatan mencari sosok itu. Tiga jam kemudian? Aku terpaksa jongkok diantara tumpukan koperku. Ketika aku menelpon rumah maman dari kabin telepon umum tadi, tidak ada yang mengangkat. Aku menepuk dahi dan berkata bodoh pada diri sendiri, kenapa aku tidak tanya pada maman, berapa nomor ponsel saudara tiriku?

Lima jam kemudian aku nekat, naik taksi. Ketika ditanya sopir taksi kemana tujuanku, aku bermaksud menunjukkan alamat rumah maman yang tertulis pada secarik kertas yang kupegang ini, tapi yang keluar dari mulutku adalah: Oui, La Tour Eiffel, s’il vous plaît !!


4
Quatre

Di Bandara tadi, aku telah menggumam Paris, j’arrive! Sekarang, aku menggumam: Eiffel, aku datang! Yeah, kini aku berdiri di taman yang luas dengan air mancur indah dengan background sebuah menara tinggi menjulang. Dengan berdiri disini, siapapun akan yakin jika ia sudah berada di Prancis, seperti turis-turis yang sibuk berfoto itu. Tapi jika kau melihatku saat ini, kau pasti percaya jika aku lebih mirip anak hilang daripada seorang turis. Ditengah keramaian orang lalu lalang menikmati indahnya sore itu, aku berjongkok diantara tas dan koperku. Celingukan dan tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Aku hampir putus asa, bahkan tidak peduli seandainya Satpol PP akan mencidukku kemudian dibawa ke kantor polisi. Oh, itu mungkin lebih baik daripada semalaman aku nongkrong disini karena tak tahu arah tujuan dan mungkin saja polisi tibum itu akan mengantarku sampai ke rumah maman.

Ngomong-ngomong, apa bahasa Prancisnya Satpol PP?

    Aku mengamati orang-orang yang hilir mudik. Ya, ini musim panas dan kemungkinan besar mereka itu bukan penduduk lokal, tapi turis mancanegara. Berbagai bahasa sliweran di telingaku. Inggris, Rusia, Jerman, juga Jepang, eh mungkin Korea. Entahlah. Telingaku tidak bisa membedakan antara bahasa Jepang dan bahasa Korea. Adakah orang Prancis diantara mereka itu? Mata dan telinga kupertajam, lalu mulai mencari orang Prancis. Kau tahu sebabnya? Aku mencari penduduk lokal yang bisa kupinjami telponnya. Gotcha! Aku melihat seorang madame sedang berjalan dengan laki-laki tua dan mereka berbahasa Prancis. Langsung saja kukejar dia.

    “Madame, excusez-moi. Pourriez-vous m’aider ...” kataku sesopan mungkin. Ya, akhirnya aku bisa mempraktekan ilmu kursus di CCF Jakarta itu di tanah Prancis sendiri. Berdebar rasanya.
    “Oui, s’il vous plaît, mademoiselle ...” jawabnya riang.
Nah lho, selanjutnya apa, ya? Terbata-bata kukatakan bahwa aku baru tiba dari Indonesia dan seterusnya lalu segera menyentuh inti persoalan jika aku ingin meminjam telponnya untuk menelpon mamaku di rumah. Madame itu dengan senang hati mengeluarkan ponselnya dan memberikannya padaku. Aku menelpon rumah dan mama yang menerima. Mama bilang tadi anak tirinya sudah menjemputku di bandara tapi tidak ketemu lalu wanita itu berteriak menyuruh anak tirinya untuk segera berangkat lagi menjemputku di menara Eiffel.

    “Merci beaucoup, Madame, merci” ujarku seraya menyerahkan ponsel itu lagi sambil memanggut-manggutkan kepala berkali-kali. Oh, aku belum bisa meninggalkan gesture Indonesiaku ketika berucap terimakasih. Jadilah ucapan merci itu terdengar seperti ucapan matur nuwun atau nuhun ditelingaku. Madame itu tersenyum sambil melontarkan kalimat yang tidak kupahami, aku hanya bisa tersenyum sambil mengangguk-angguk.
*
Sambil menunggu jemputan, iseng aku mengeluarkan kamera digitalku dan mulai berfoto-foto narsis seorang diri. Hasilnya memang tidak maksimal, menara Eiffelnya selalu terlihat separuh dan wajahku mendominasi. Ketika kucoba mengambil menara Eiffelnya secara penuh, wajahku tidak terlihat samasekali. Aku menggeser-geser posisi yang tepat sampai ke tepi kolam dan hampir saja aku terpeleset. Untung saja tidak tercebur kolam, jika iya, mungkin aku akan jadi tontonan turis paling menarik disana.

Aku tertawa-tawa sendiri sambil melihat hasil jepretanku yang kurasa kurang keren untuk kupamerkan pada Naro, Cyntia atau Dewi. Sambil berselonjor kaki, kusebarkan pandangan pada orang-orang di sekitar situ. Ah, untung saja ini musim panas jadi meskipun sudah jam tujuh malam, matahari masih bertengger seperti jam empat sore. Aku mengeluarkan jaket karena kurasa hawa sudah mulai dingin. Yeah, musim panas di Eropa tidak sama dengan musim kemarau di Indonesia. Musim panas disini tetap saja dingin!

Diantara orang yang lalu lalang itu, pandanganku terpaku pada seorang lelaki bule yang jangkung, mungkin sekitar 180 sentimeter, sedang berkeliling-keliling. Dia mempunyai potongan rambut spike berwarna coklat tua, memakai stelan jeans dan t-shirt. Penampilannya secara  overall, sangat sporty, segar dan tentu saja wajahnya tampan. Lebih tampan dari bule-bule CCF Salemba yang jadi native speaker. Yang membuatku tak bisa mengalihkan tatap padanya adalah, dia memegang selembar karton putih yang ditulisi besar-besar dengan spidol hitam: Julie-Anne Clemenceau. Julie-Anne itu seperti namaku, tapi siapa Clemenceau? Ketika laki-laki itu membalikkan badan, aku ingat sesuatu, astaga! Bukankah Clemenceau adalah nama keluarga maman? Berarti cowok keren yang membawa karton putih itu, saudaraku? Sambil berteriak girang seorang diri, kukejar dia.

    “Excusez-moi...Je suis Julie-Anne. Je suis de Jakarta” kataku sesopan mungkin, mempraktekkan pelajaran bahasa Prancis tingkat dasar yang terbata-bata. Dia menurunkan kartonnya kemudian dengan alis berkerut, dia memandangiku dari atas ke bawah.
    “Mais, non! C’est Julie, toi ?” tanyanya kemudian dilanjutkan dengan kalimat-kalimat panjang dalam bahasa Prancis. Aku mengerut-ngerut alis. Ya, Tuhan, tidak sedikitpun aku memahaminya! Gawat!
    “Pardon?” tanyaku. Dia lalu mengulangi perkataannya dengan begitu cepat, intense, mengalir deras dari bibirnya dan sekali lagi aku berkata pardon, suatu kata singkat berarti maaf, yang kita ajukan jika kita tidak mengerti perkataan lawan bicara. Aku meminta dia mengulanginya pelan-pelan, jangan terlalu cepat sebab aku tidak mengerti. Oh yeah, kini dia hanya diam sambil mengacak-acak rambut, terlihat putus asa. Begitupun aku, tak kalah putus asanya.
    “Ok, never mind!” katanya, kali ini dengan bahasa Inggris. Aku membelalak, lebih tepatnya berbinar karena laki-laki penjemputku itu, bicara bahasa Inggris. Kau tahu, bahasa yang kumengerti untuk saat ini.
    “Just come with me!” serunya. Sesaat setelah mencegat taksi, dia menyambar koperku dan memasukkan dalam bagasi taksi yang telah siap menunggu. Kami meluncur.
    “Aku sudah melihatmu di bandara tadi, tapi aku tidak mengira kau itu Julie-Anne” katanya dalam bahasa Inggris “Aku membayangkan kamu pirang, tidak menyangka jika wajahmu sangat Asia dan berambut hitam seperti ini”
    “Apa maman tidak cerita? Papaku kan orang Indonesia” kataku.
    “Cerita sedikit. Tapi tidak nyangka saja. Dan satu lagi, kukira kau sudah mahir bahasa Prancis. Marie bilang, kau sudah belajar français selama satu tahun dan aku menduga pasti bahasa Prancismu sudah lancar” katanya.
    “Marie?”
    “Iya, mama kamu!  Namanya Marie, kan?”
Oh, aku mengangguk paham. Tanpa dijelaskan, aku mengerti jika disini, tidak ada keharusan memanggil mama tiri dengan sebutan maman, mama, ibu, bunda, tante atau apapun. Menyebut nama saja sudah cukup.
    “Aku belajar français untuk pemula, tingkatan yang paling dasar” timpalku “For your information, bahasa kalian sulit sekali dipelajari. Aku yakin, butuh tujuh tahun untuk bisa mahir”
    “Tujuh tahun untuk belajar satu bahasa? Selama itukah?” tanyanya membelalak sehingga mata birunya yang bening seperti kelereng itu terlihat jelas.
“Aku berani bertaruh aku bakalan bisa bicara bahasa Indonesia dalam waktu seminggu jika kau ajari”
Walah! Sombong sekali Prancis yang satu ini. Bisa bahasa Indonesia dalam waktu seminggu, katanya? Yang benar saja!!
    “Ohya kau pasti bisa. Bahasaku memang mudah dipelajari. Tidak seperti bahasa kalian yang super ribet itu” balasku, tidak mau kalah.
    “Masa, sih? Mungkin memang ribet jika dipelajari oleh orang yang tidak teacheable seperti kamu” ujarnya lalu menoleh kearahku “Kalau semua orang di negerimu berpikiran sama sepertimu, bahwa belajar bahasa asing memerlukan waktu yang lama, mana bisa maju bangsamu itu? Pantas saja kalian gampang sekali diintimidasi bangsa lain. Aku yakin banyak orang di negaramu yang masih tergagap-gagap  bicara bahasa Inggris, ya kan?”

Hey! Ini keterlaluan! Aku baru menginjak Prancis dan sudah bertemu orang yang bicaranya seperti ini? By the way, bagaimana aku bisa punya saudara yang begitu menyebalkan begini? Gawat, deh! Baiklah, ini adalah pertemuan pertamaku dengannya dan aku tidak mau merusaknya. Aku mencoba untuk berdamai. Ah, orang Indonesia memang cinta damai. Eh, ngomong-ngomong siapa sih yang tamu? Dia atau aku? Kenapa harus aku yang berbaik-baik padanya? Jadi kuputuskan untuk diam saja, sambil sedikit cemberut. Kemudian dia menoleh padaku.

    “Ohya, kita belum kenalan secara resmi” katanya, seperti tersadar sesuatu. Tangannya diulurkan padaku dan mengenalkan diri.
    “Je m’appelle  Sébastien. Sébastien Riquet dan kau bisa panggil aku Séb” katanya seraya melempar senyum. Ya, melihat senyum mengembang di bibirnya, aku merasa lebih baik dan merasa lebih nyaman. Kau tahu, ternyata dia sangat manis kalau tersenyum. Aku jadi ingat senyum Cyril Descours dalam short movie “Quais de Seine” ketika pertama kali bertemu Leïla Bekhti.
“Umurku 19 tahun. Mungkin lebih pantas jika kau menyebutku kakak” katanya lagi.
    “Oke, brother Séb!”
Séb tersenyum kecil lalu menggeleng.
“Frère  Séb ...?”
Séb menggeleng lebih kuat, lalu mulai tertawa mendesis.
“Whatever!” kataku putus asa.
    “Non! Non! Tidak usah begitu. Cukup tahu saja, jika aku ini lebih tua darimu”

Kemudian aku tertawa lepas, seperti baru terhindar dari sesuatu yang buruk, lalu membuang pandangan ke luar. Di luar jendela taksi ini, pemandangannya sangat indah. Sinar orange dari barat memantulkan cahaya ajaib yang menyulap kota bagai sebuah panggung besar dengan seribu pesona yang siap diisi para seniman untuk naik pentas. Taksi melintasi bangunan-bangunan indah berwarna natural diselingi dengan jembatan-jembatan, juga taman-taman kota yang asri. Senja telah menjadikan semua yang kulihat seakan berwarna coklat kekuning-kuningan, ditambah lampu-lampu yang menyala meriah di tiap sudutnya. Artinya, sineas-sineas yang mengambil setting di kota ini untuk film mereka ternyata tidak bohong dan mereka tidak merekayasa. Kota ini benar-benar indah.

    “Ohya, Séb, terimakasih mau bicara bahasa Inggris. Maafkan aku, ya!” kataku, setelah beberapa menit larut dalam keindahan di luar sana.
    “Terpaksa! Ini untuk antisipasi saja karena aku baru pertama kali bertemu denganmu dan aku punya tanggung jawab pada Marie untuk membawamu ke rumah. Setelah ini, aku tidak akan menggunakan Anglais lagi jika bicara padamu. Harus bahasa Prancis. You got it?”
Cepat-cepat aku mengangguk paham. Malas mendebat.


5
Cinq

    “Julie! Julie! Bangunlah. Ini Maman, Sayang” sayup kudengar suara wanita yang terdengar lembut seperti marshmallow ditelinga. Aku mengusap-usap mata dan masih belum sadar dimanakah aku ini? Bukankah aku sedang ada di halaman rumah dan kakek sedang membujuk-bujukku untuk berangkat? Yeah, kemudian aku berada dalam kabin bersayap, melayang-layang di udara dan terdampar di sebuah taman luas dengan pemandangan menara indah. Hm, kepalaku berputar-putar dan samar kudengar lagi suara selembut marshmallow itu.
**
Jika tadi aku mengucap Paris, J’arrive dan Eiffel aku datang, kini aku harus mengucap, rumah, I’m coming. Séb dengan bahasa Prancisnya yang super lancar itu, menyuruh sopir taksi untuk berhenti. Oh, sudah sampai, gumamku.

“Namanya adalah rue Mouffetard, okey?” kata Séb “Cinquième arrondissement, distrik kelima. Kuberitahu ini, supaya jika kau kesasar nanti, kau bisa menyebut nama jalan tempat tinggalmu plus nomor daerahnya”
Baiklah, aku belum menyimak benar-benar apa katanya tadi, karena masih sibuk celingukan melihat kanan kiri. Tapi aku mendengar kok Sébastien menyebut jalan Mouffetard di distrik kelima ini sebagai alamat tempat tinggal kami. Ruas jalan ini tidak begitu lebar, cukup diisi dua mobil saling dempet saja, namun padat terisi oleh deretan toko-toko dan kafe juga bangunan-bangunan tinggi berlantai lebih dari 3. Bantalan jalannya bukan diaspal seperti jalanan pada umumnya, tapi menggunakan paving block. Kau tahu, jalan ini mirip sekali dengan jalan Braga di Bandung. Tidak terlalu persis, memang. Hanya jika kau mau tahu seperti apa suasana jalan ini, kira-kira seperti itulah.

Setelah membayar ongkos taxi, Séb kini sibuk menurunkan koper dan tas-tasku. Sambil membawakan seluruh barang-barangku, dia menuju sebuah pintu yang bentuknya mirip pintu gereja, yang letaknya terhimpit diantara dua toko. Dengan sikunya, Séb mendorong salah satu daun pintu mirip pintu gereja itu.

“Ayo!” ajak Séb seperti tahu jika aku ragu-ragu masuk kesana. Aku bukannya ragu, hanya berusaha merekam tempat ini dengan mataku yang setengah watt lagi menjelang redup. Kami terus masuk melewati semacam lorong kecil dan didepan sana, terhampar halaman yang ditata dengan lantai paving block, sedikit rumput dan bebatuan kecil. Halaman yang tak begitu luas itu sangat asri disertai taman kecil dengan air mancur mini. Di sebelah kananku sekarang, ada bangunan bertingkat empat dengan jendela-jendela yang besarnya serupa pintu balkon. Bangunan itu seakan merengkuh halaman. Di sebelah kiriku, di depan bangunan berlantai empat itu, ada satu bangunan lagi yang lebih kecil. Modelnya nyaris sama. Kedua bangunan itu saling berhadapan dan masing-masing pintu dan jendelanya, menghadap ke taman. Rupanya, gerbang tadi merupakan pintu masuk menuju tempat ini. Séb menggiringku masuk ke bangunan yang lebih kecil dan mempersilahkanku masuk.

Well, actually, ini adalah apartemen, sama seperti bangunan yang ada di depan itu. Jadi, aku dan keluarga baruku akan bertempat tinggal di apartemen? Yeah, setelah meninggalkan rumah ‘normal’ yang besar di Jakarta, kini aku harus menerima diriku tinggal di apartemen.

“Welcome home” kata Séb, setelah pintu terbuka “Marie pulang sebentar tadi kemudian pergi lagi. Tidak tahu kemana. Tadi dia sempat menerima telponmu, kan?”
Aku hanya mengangguk kecil, kemudian kuedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Bentuk kecil saja, namun terlihat efektif. Aku melewati ruang tamu, ruang keluarga dan dapur  yang menyatu dengan ruang makan, kemudian naik tangga. Séb membawaku naik ke lantai atas.
    “Silahkan masuk. Inilah kamarmu” ujarnya, seraya membuka pintu. Kamarku, katanya? Wow! Kamar ini seukuran 3x4 saja namun indah sekali. Dindingnya dilapis wallpaper bermotif bunga-bunga kecil berwarna merah maroon. Yang bikin aku tertarik adalah jendela serupa balkon itu, sama persis dengan bangunan di depan.
    “Ini dulu kamarku. Sekarang aku pindah disana, di bâtiment  depan itu” katanya sambil menunjuk bangunan di depan sana.
    “Maksudnya? Kau tidak tinggal di sini?” tanyaku.
    “Aku sudah besar, Nona. Sudah saatnya mandiri, meskipun tinggal di apartemen milik orangtua sendiri belumlah disebut mandiri secara total. Setidaknya aku sedang berusaha” kata Séb meninggalkan kebingungan dalam hatiku. Tapi aku memutuskan untuk tidak bertanya apa-apa pada Séb. Aku masih punya banyak waktu untuk mengenal keluarga baruku. Séb lalu bangkit mendekati jendela dan membuka tirainya. Terlihatlah bangunan dengan jendela kaca yang besar.

    “Kau lihat jendela di depan itu, kan? Dulu disana, ada penyewa namanya Claudine. Dia mahasiswi dari Marseille yang cantik dan seksi” kata Sébastien sambil tersenyum. Oh, yeah rupanya dia adalah orang yang senang menebar senyum. Mungkin sadar jika senyumnya itu menarik.
“Claudine tidak pernah menutup tirai jendelanya jika sedang ganti baju dan aku sering mengintipnya. Padahal ketika itu aku masih kelas 5 SD, lho! Nah sekarang kamar Claudine itu, aku sewa pada papa untuk jadi kamarku” katanya lagi, kali ini sambil tertawa “Mungkin kau menganggap aku gila. Tapi aku memang terobsesi dengan Claudine” Sébastien tertawa geli, mentertawai kekonyolannya. Aku jadi ikutan tertawa.
“Kira-kira dimana dia sekarang?”
“Setelah lulus dan keluar dari sini, aku tidak tahu kabarnya lagi. Mungkin sudah bekerja dan menikah” jawab Séb.
    “Aku kira, kau tinggal di sini juga” kataku, sambil lalu.
    “Kenapa? Kau mulai menyukaiku, ya?”
    “Euhm, bukan begitu,” aku tersipu, sedikit malu dengan keterusterangannya “Aku baru saja senang dapat teman sepertimu, aku jadi tidak merasa asing disini”
    “Hey! Bukankah jendela kita saling berhadapan? Kita masih bisa saling komunikasi bukan? Ohya, kamar Françoise ada di depan kamar ini. Tuh pintunya. Jika kau perlu apa-apa dengannya, kau bisa memanggilnya. Papa sengaja menempatkan kamar anak cewek di lantai ini supaya kalian bisa saling komunikasi”
    “Françoise?” tanyaku.
    “Adikku. Umurnya dua atau tiga tahun lebih muda darimu dan masih duduk di lycée, première degree” jawabnya.
    “Oke,” sahutku cepat setelah berhasil mentransformasi frasa lycée, première degree itu dengan kata kelas satu SMA dalam Bahasa Indonesia.
“Sedangkan kamar Didier di bawah, bersebelahan dengan kamar papa et maman”
    “Didier, siapa lagi tuh?”
    “Adikku juga. Ups maksudku adik kita berdua, karena dia adalah anak dari papa dan maman. Jadi, Didier adalah adikku juga adikmu”
“Surprise! Maman tidak pernah cerita dia telah punya anak dari papa tiriku. Berapa umurnya?”
“Lima tahun. Jika kau lihat nanti, pasti gemas padanya. Dia gendut, berambut merah dan chubby sekali. Pokoknya lucu, deh!”

Séb kemudian bercerita panjang lebar tentang papanya, adik perempuannya yang bernama Françoise, adik kami Didier yang membuat hatiku makin berdebar-debar menanti orang-orang baru di kehidupanku yang disebutkan Sébastien tadi. Aku berusaha menanggapi obrolannya walaupun rasa kantuk ini tidak bisa kutahan. Aku menguap untuk yang kesekian kalinya.

Mungkin karena bosan bicara terus daritadi sementara aku hanya diam karena berjuang menahan diri untuk tidak ketiduran mendengar ocehannya, Sébastien bangkit dan mempersilahkan aku untuk istirahat sambil menunggu maman dan lainnya pulang.

    “Séb” panggilku. Meski senang akhirnya dia mau beranjak dari kamar, aku ingin bertanya sesuatu dulu, sebelum dia pergi.
    “Oui?”
    “Boleh tanya, gak? Siapa nama papamu?”
    “Namanya Alain Riquet. Jika kau ada sesuatu yang ingin kau ketahui tentang keluarga barumu, jangan ragu untuk tanya sama aku, ya! Now, I want to say: selamat datang di keluarga Riquet! Semoga betah disini” kata Séb lalu melangkah keluar kamar.
“Kutunggu di bawah saat makan malam, ya!!” lanjutnya sambil menutup pintu dan tak lupa meninggalkan senyum. Astaga, senyumnya memang benar-benar manis!
Aaahhhhh...! Aku menarik napas panjang dan merebahkan diriku di kasur. Selamat datang di Paris, di kamar ini dan di keluarga Riquet, kataku pada diri sendiri. Sambil menatap langit-langit kamar yang berwarna hijau tosca, warna yang membiuskan. Akupun terlelap dan senyum Sébastien Riquet menjadi bunga tidurku.
**
Mendengar suara lembut tadi, pelan-pelan, sukmaku masuk ke raga. Perlahan ingatanku kembali lagi. Yeah, aku sudah di Prancis bukan di Jakarta lagi. Kau tahu, ini seperti mimpi saja, baru kemarin aku berangkat diantar kakek dan Naro, kini aku sudah tidur di sebuah kamar berwallpaper merah maroon di sebuah rumah di jalan Mouffetard Paris. Ketika kubuka mata,  maman memelukku.

    “Julie! Maman kangen” begitu ucapnya “Lama sekali kau tertidur, hah? Tapi tidak apa-apa. Pasti kau jetlag hingga tidur tidak tahu waktu” lanjutnya lagi.

Ohya? Berapa lama aku tertidur? Seingatku, aku tertidur sore-sore ketika aku baru tiba. Yeah, benar dan jam berapa sekarang? Astaga! Aku hampir terjengkang ketika melihat jam tangan yang masih menempel erat di pergelangan tangan. Jam 11 siang waktu Prancis! Kau tahu artinya? Aku telah tidur selama 14 jam!!
    “Semalam, semua menunggumu untuk makan malam bersama. Tapi kau tak muncul-muncul. Tadi pagi, semuanya menemuimu disini, tapi kau masih juga tidur”
Aku menepuk dahiku, kemudian menyatakan penyesalan.
    “Tidak apa-apa. Nah, sekarang mandilah, lalu turun ke bawah, okey? Maman sudah menyiapkan masakan khusus untukmu” Maman mencium dahiku dan berlalu dari kamar. Aku bengong sebentar sambil melihat jendela besar di depanku. Aku menghampiri dan membuka daun jendelanya. Tapi perkiraanku salah. Kau tahu? Ini samasekali bukan jendela. Tapi benar-benar pintu balkon!

 Aku keluar untuk menghirup udara dan menggeliat sepuasnya. Di depanku, pada bangunan empat lantai itu, aku melihat berbagai aktivitas yang terlihat di balik kaca dan tirai-tirai yang tipis. Siapa mereka? Tetanggakah? Atau mereka itu masih saudara dengan keluarga Riquet? Dan Séb kemarin bilang dia tinggal di apartemen milik orangtua sendiri? Tiba-tiba aku ingin segera mandi dan menemui mama. Aku ingin menanyakan segala hal tentang keluarga baruku. Ya, semuanya!
    “Julie, kau sudah rapi. Oh, anak gadisku, kau tampak segar dan cantik sekali! Kau pasti jadi rebutan pria-pria Prancis” kata maman. Aku tersipu. Ada-ada saja. Kulihat maman sedang menyiapkan sesuatu di dapur.
    “Mumpung Maman sedang libur” katanya sambil mengaduk-aduk Sukiyaki yang wanginya bikin aku lapar. Rupanya itulah makanan khusus untukku seperti yang dibilang maman tadi. Ternyata, meski tidak pernah mengasuhku sejak umur 6 tahun, maman tahu makanan kesukaanku. Mungkin maman sudah lebih dulu observasi dengan bertanya pada Mbok Waji, pembantu setiaku di Jakarta. Mataku menyapu ke seluruh dapur berdesain modern itu dan di sudut dapur, kulihat asap dari rice cooker sudah mengepul-kepul tanda nasi sudah matang.
    “Ada nasi, Maman?” tanyaku gembira. Terusterang, hatiku agak sedikit lega, sebab tadinya aku membayangkan jika di Prancis ini tidak ada nasi. Jelas, aku belum siap untuk meninggalkan nasi.
    “Hari ini ada, karena Maman sedang ada di rumah. Tapi jika nanti Maman kerja dan kau ingin makan nasi, masaklah di rice cooker ini, ya? Lauk pauknya terserah kau. Beli saja yang instan di supermarché di depan sana. Ya, disini kau sebisa mungkin mandiri, Julie. Sébastien saja sering masak sendiri, kecuali makan malam, dia pasti kesini” kata maman.
    “Maman tahu, kau pasti belum biasa makan makanan Prancis yang pastinya tidak mengenyangkan buatmu”
    “Tidak apa-apa, Maman, aku akan berusaha menyesuaikan lidah dan perutku, seperti orang Prancis” kataku.
    “Mais, non! Kau memang orang Prancis, Sayangku!” maman melotot.
    “Iya, Maman, maaf...”
Kami sunyi sesaat sebelum kemudian aku ingat ingin bertanya sesuatu padanya.
    “Maman,” kataku membuka percakapan “Aku penasaran. Bangunan apa yang terletak di depan itu?”
    “Itu apartemen. Sama dengan bangunan ini” jawab maman “Alain punya dua unit  apartemen, satu yang kita tempati ini dan satu lagi ada di bangunan depan itu, sekarang ditempati Séb. Ukurannya lebih kecil dari yang ini”
    “Oooh,” hanya itu yang keluar dari mulutku. Begitu rupanya. Rasa penasaranku terjawab.
    “Mana Didier, Maman? Aku ingin kenalan”
    “Ow, kau sudah tahu? Pasti Sébastien yang cerita ya?” tanyanya. Maman melongokkan kepala kearah ruang tamu.
    “DIDIER...???”
“Kurasa dia sedang main sepeda di taman depan. Ajaklah bicara” kata maman.
Aku segera berlari kesana.
“En français !” teriak maman.

Ketika membuka pintu, kulihat seorang anak kecil yang gendut dan lucu. Dia sedang asyik sendirian sambil mengayuh sepedanya mengitari halaman kecil di taman depan ini. Wah, ini tentu sebuah kejutan yang menyenangkan selama aku hidup. Aku-punya-seorang-adik!

    “Allô..!” sapaku, dia menoleh dan mengerut alis. Aku menghampiri dan mengajaknya salaman.
    “Tu es Didier, n’est-ce-pas? Je m’appelle Julie, euhmm...je suis ta soeur” kataku, memperkenalkan namaku dan memberitahunya jika aku ini adalah kakak perempuannya. Alis Didier naik turun dan tampaknya dia bingung atas perkenalan ini. Tapi dia mengulurkan tangannya, menerima tanganku.
    “Bolehkah aku bermain bersamamu?” tanyaku. 
    “Boleh” jawabnya “Ayo kita main basket saja. Aku sudah bosan main sepeda” katanya dengan bahasa Prancis yang sangat kumengerti karena dia bicara dengan sangat lambat sekali.

Meskipun belum terlalu jelas, tapi aku mengerti, kok. Tiba-tiba, aku merasa pede luar biasa berbicara Prancis pada anak kecil ini dan kekakuan yang tadi sempat terjadi diantara kami, perlahan-lahan melumer. Jika aku mentok karena tidak tahu bahasa Prancisnya apa, aku berteriak pada maman minta  diterjemahkan.

Setelah capek main basket, Didier mengajakku melihat-lihat mainannya yang dia simpan di kotak kayu di bawah kursi ruang tamu. Rupanya itu tempat rahasia bagi Didier. Dia berbisik, “Jika Maman tahu, dia akan marah karena aku tidak boleh menaruh mainan di ruang tamu”  katanya. Akupun berjanji untuk menjaga rahasia itu. Sementara Didier mengambil mainannya di sudut terpencil, mataku terpaku pada foto keluarga.  Dalam foto yang tercetak 20 R itu, aku melihat seorang laki-laki separuh baya yang berbadan besar dan berperut agak buncit, berjambang tebal dan memakai kacamata yang tampak kecil di wajahnya yang lebar. Mungkin dialah Alain Riquet, suami maman. Disebelahnya, ada maman dan Didier yang masih bayi. Kemudian yang jongkok di bawah itu adalah Séb lagi tersenyum lebar sambil mengacungkan ikan besar hasil tangkapannya. Berdiri di sebelah Alain adalah seorang gadis berambut lurus coklat keemasan yang cantik sekali. Bingkai matanya persis seperti Séb dengan sorot yang indah namun tajam dan dia tidak melempar senyum seperti yang lain.

    “Itu Françoise, kau belum pernah ketemu dengannya, bukan?” tanya bocah kecil itu. Oh, dia tahu aku sedang memandangi gadis itu. Jadi ini yang namanya Françoise?
“Julie, kau harus sedikit tenang jika berhadapan dengan Françoise nanti, ya!” katanya lagi, membuatku berkerut alis. Memang kenapa dengannya? Aku ingin bertanya namun kuurungkan dan membiarkan rasa penasaran itu menghinggap. Alain dan Françoise. Bagaimana sikap mereka terhadapku? Aku gemetar menghadapi mereka berdua nanti malam.



6
Six
   
“Julie, turunlah. Makan malam sudah siap” teriak Séb dari luar kamar, dengan bahasa Prancis yang sebetulnya masih belum kumengerti benar. Kira-kira begitulah maksudnya. Sedari tadi, aku memang tidak keluar kamar karena sibuk mengatur koper dan tasku untuk dikeluarkan isinya dan dimasukkan ke dalam lemari. Aku belum melakukan itu dari kemarin karena kau tahu, kan? Aku tidur terus selama 14 jam.

    “Okey! J’arrive!” hanya itu jawabku kemudian cepat-cepat merapikan diri untuk bergabung dengan mereka dibawah. Ada dua orang lagi yang belum aku kenal di rumah ini, Alain dan anak perempuannya, Françoise, dan aku sedikit was-was dengan peringatan Didier tadi siang bahwa aku harus sedikit tenang menghadapinya. Duh, seperti apa sih gadis itu? Ohya, mungkin lebih baik jika aku tidak usah banyak tanya lagi karena dengan menuruni tangga kayu ini, aku akan berjumpa dengannya. Hatiku berdebar ketika kulihat semuanya sudah berkumpul di meja makan.

    “Allô..” sapaku sambil melambaikan tangan.
    “Salut”
    “Coucou!” dan semuanya menjawab balik sapaanku. Tambah lagi kosa kataku, Coucou dan salut, rupanya adalah sapaan khas orang Prancis selain Allô, bonjour dan bonsoir.
    “Ayo! Bergabung!” kata Alain. Aku sudah tahu sosoknya dari foto. Segera kusalami dirinya seraya memperkenalkan diri. Alain, lebih kurus dan lebih tampan dibanding dalam foto. Ramahnya bukan main dan kurasa itu diwariskannya kepada Sébastien. Mata kecilnya menempel begitu saja di wajahnya yang lebar. Tentu saja yang mendominasi wajah Alain adalah hidungnya yang besar dan menggunung. Kau tahu hidung besar milik Gérard Depardieu pemeran Obelix dalam Asterix the movie? Ya, seperti itu hidung Alain.
    “Ayo duduk, Julie. Kita makan bersama!”
    “Merci”
    “Julie, c’est Françoise” kata maman “Françoise c’est ta soeur, Julie” lanjutnya dengan bahasa Prancis. Tadi siang maman bilang padaku,  dia akan berbahasa Prancis denganku jika berkumpul ramai-ramai begini untuk mengindari salah paham antara keluarga karena mereka tidak mengerti bahasa Indonesia. Aku setuju dengan itu. Sebetulnya tidak masalah jika maman bicara Prancis saja padaku karena aku sedang berusaha menerima diriku sebagai orang Prancis juga! Suatu kemajuan yang baik bukan?

Françoise-dilafalkan frangsoaz-, bergeming. Dia tidak menanggapi uluran tanganku dan hanya menatapku sekilas. Astaga! Meski wajah itu hampir secantik Lee Lee Sobieski, tapi aku menyayangkan kenapa rautnya begitu dingin dan judes! Serentak semua yang ada di meja makan itu terdiam, hanya saling pandang. Kulihat maman menundukkan kepalanya, tak berani menatapku. Sementara itu kulihat, suaminya mendelik.
    “Françoise!” bentaknya, membuat semua yang ada disitu kaget. Rupanya gadis itu mengerti jika papanya marah dengan kelakuannya. Dengan gerakan malas-malasan, gadis itu menyambut tanganku lalu cepat-cepat ditariknya kembali.
    “Julie” aku menyebut namaku pelan dan masih termanggu dengan sikap perempuan ini. Sambil makan, kupandangi dia dan aku segera paham maksud Didier tadi siang, bahwa aku harus sedikit tenang jika berhadapan dengannya. Rupanya begini.
    “Françoise, jika kau tidak kemana-mana, temani Julie mendaftar kursus bahasa di Sorbonne, ya. Kau tahu tempatnya, bukan?” tanya Sébastien mengawali kebisuan diantara kami. Tampaknya dia sengaja bicara lambat begitu, supaya aku mengerti.
    “Non, je peux pas!” jawab Françoise singkat. Aku tahu artinya, dia tidak bisa atau tidak mau menemaniku.
    “Tapi..”
    “Je te dis, je peux pas! Tu comprends ?” kata Françoise  “Jika kau mau, kau saja yang menemaninya, Séb” tukasnya, tajam. Sejenak, Françoise dan Sébastien saling bertatapan tajam. Aku jadi merasa tidak enak. Dalam hati aku ingin mengatakan pada mereka bahwa aku bisa kesana sendiri tanpa ditemani siapapun. Yeah, aku kan bisa pergi dengan bantuan peta. Meskipun belum yakin, sih.
    “Ajaklah dia jalan-jalan sekaligus untuk mengakrabkan dirimu dengannya, Françoise. Mungkin sikapmu akan berubah padanya jika kau kenal dia. De toute façon, elle est notre soeur, saudara perempuan kita” kata Séb melunak, meski kulihat sikap itu agak sedikit dipaksakan.
    “Kata siapa?” serang Françoise, berapi-api “Aku tidak pernah punya saudara lagi selain kau dan Didier!!”
    “CUKUP, FRANÇOISE!!” bentak Alain “Kalau kau tidak mau menemani Julie juga tidak apa-apa, tapi Papa harap kau bisa jaga sopan santunmu di meja makan ini” kata Alain, kemudian menoleh padaku,
“Maafkan dia, Julie, dia hanya belum bisa menerimamu sebagai..”
    “Bukan belum bisa, Papa” potong Françoise “Tapi TIDAK BISA. Papa harus tahu bedanya antara belum bisa dan tidak bisa!”
    “Papa bilang, kau HARUS bisa!!”
    “Sudahlah, Alain” kata Maman “Biarkan dia tenang dulu”
“Oke!” Françoise berdiri “Merci beaucoup à tous , kalian telah berhasil membuat nafsu makanku hilang” kata Françoise dingin dan dia meninggalkan meja makan, meninggalkan makan malam yang sengaja dirancang keluarga Riquet untuk menyambutku. Oh, itu sangat buruk. Kulihat Alain meradang dan itu sangat jelas teridentifikasi dari wajahnya yang memerah menahan amarah. Dia berdiri.
“FRANÇOISE!!” teriaknya. Maman memegangi tangan suaminya, menyuruhnya duduk kembali. Alain mengatur napasnya dan beberapa detik kemudian, amarah itu telah terkendali.
“Maafkan kami, Julie” ujar Alain pelan. Aku mengangguk pelan dan melirik maman yang menatapku sendu. Aku lihat ada sesuatu di mata maman. Mata itu, penuh ketidakberdayaan. Aku mengerti, maman pasti sedang kebingungan menghadapi situasi yang tidak diharapkan ini. Julie adalah anak kandungnya, sedangkan Françoise  adalah anak suaminya. Mana yang harus dia bela?
“Sudahlah, aku saja yang mengantar daftar kursus nanti” kata Séb, melanjutkan makannya.
“Tapi kau kan harus kuliah. Seharusnya memang Françoise. Dia bisa melakukannya sepulang sekolah” kata Alain.
“Jadwal kuliah bisa kuatur, Papa, jangan khawatir” katanya. Semua melanjutkan makan malam yang dingin itu dalam diam. Tiba-tiba Didier memegangi tanganku seolah menyatakan jika aku tidak usah terlalu memikirkan kakak perempuannya itu. Kau tahu, aku hampir saja menangis karena kejadian ini. Kini aku paham, bahwa Françoise  ternyata tidak menyukaiku, bahkan sejak awal ketika maman menghembuskan isu bahwa dia akan membawa anak kandungnya dari Indonesia dan tinggal dengan keluarga Riquet.

Oh, tentu saja, jauh di lubuk hatiku sebenarnya tidak bisa menerima. Namun aku kembali merenung dan berusaha menyadari posisiku di sini. Pikiranku melayang ke Jakarta dan ingat bahwa aku pernah menghadapi situasi seperti ini. Aku pernah dibenci oleh teman sekelasku bernama Nabilla dan kawan-kawannya hanya karena aku anak broken home, korban perceraian orangtua, minderan, kuper, kurus, dekil dan satu lagi, tidak modis!  Nabilla mulai membenciku dari kelas satu hingga kelas tiga SMA dan selama itu pula, aku berjuang melawan penindasan yang dilakukan Nabilla dan teman-teman ganknya dengan menunjukkan prestasi-prestasi belajar yang membuat mereka makin tidak menyukaiku. Kini, meskipun aku sudah pernah tahu bagaimana rasanya dibenci, tapi dibenci oleh orang yang tinggal serumah dengan kita, oh, sedihnya bisa berlipat-lipat kali.  Kau tahu, kesedihan itulah yang tengah kurasakan sekarang.




7
Sept

Namanya Évelyne. Dia wanita yang pemalu dan pendiam. Usianya mungkin sekitar 30 tahun dan célibataire, belum menikah. Évelyne adalah anak tunggal Monsieur Brugurière, la concièrge atau petugas yang mengurusi gedung apartemen ini dan gedung yang di depannya.

Tugas Évelyne adalah mengedrop Didier ke sekolah, pulang, lalu membereskan apartemen, juga mencuci dan menyetrika pakaian lalu menjemput Didier kembali. Évelyne datang jika maman bekerja. Jika maman libur, Évelyne otomatis libur juga. Selama aku tinggal disini, aku mengamati kebiasaan keluarga ini di pagi hari. Biasanya, Alain sudah berangkat lebih dahulu daripada Didier dan maman. Sedangkan Françoise, yang lokasi sekolahnya dekat dengan rumah, berangkat terakhir. Sepeninggal Françoise sekolah, tinggallah aku sendiri di rumah dan menunggu Évelyne datang setelah mengedrop Didier.


Aku melamun di balkon sambil melihat ke arah jendela kamar Sébastien. Sejauh ini, aku belum punya rencana apa-apa tentang masa depanku selain kuliah. Oh, apakah hanya kuliah? Aku hampir lupa bahwa aku kesini adalah melaksanakan wasiat Papa untuk tinggal di mana maman tinggal. Berarti aku akan selamanya tinggal di sini? Kurasa tidak. Sepertinya aku tidak ingin lama disini dan akan kembali ke Indonesia setelah kuliahku selesai nanti. Tidak apa-apa, kan? Setelah kuliahku selesai, mungkin usiaku sudah menginjak 21 tahun, dimana diusia itu orang sudah dianggap dewasa dan bisa menentukan sikapnya sendiri. Tiba-tiba aku ingat jika aku belum menelpon kakek! Segera aku berlari ke meja telepon dan kuputar nomor kakek. Kemarin maman sudah bilang agar aku tidak usah sungkan memakai telpon rumahnya jika sewaktu-waktu ingin menelpon kakek di Jakarta. Ada nada sambung dan..

“Hallo?”
Itu suara kakek!!
“Kakek! Ini aku, Julie, Kek!”
“Julie..?” kakek menjawab dengan suara serak seperti bangun tidur.
“Kek, apa aku membangunkanmu?” aku baru sadar “Jam berapa disana? Ya Tuhan, jam 2 siang ya ? Kakek maaf, aku lupa kalau ini waktunya kakek tidur siang!!”
 “Tidak apa-apa. Gimana, kau sehat-sehat saja? Aku mengkhawatirkanmu, Sayang. Bagaimana keadaan disana? Kau betah?” tanya Kakek bertubi-tubi. Entah begitu mendengar suara kakek aku jadi sedih sekali dan melelehlah airmataku.
“Kakek, aku sangat senang disini. Mereka, sangat baik padaku” kataku sedikit berbohong. Tentu saja aku tidak akan bilang bahwa Françoise tidak bersikap baik padaku. Jika kakek tahu ada orang yang membenciku di rumah ini, dia pasti akan sedih sekali.
“Syukurlah... Semoga kau betah di Paris, ya. Kota itu indah, kakek tahu, kau pasti senang disana. Kuliah pasti nyaman karena udaranya bersih dan fasilitasnya sangat lengkap. Baik-baiklah di sana ya. Jangan lupa selalu berdoa dan ingat Tuhan dimanapun kamu berada” kata kakek dengan suara bergetar. Kau tahu? Baru kali inilah aku merasa jika kakek sedang menangis. Ya, akhirnya kakek menangis juga.

Airmataku masih saja berderai ketika telepon kututup. Betapa aku sangat merindukan Kakek. Betapa aku sangat merindukan Indonesia yang meskipun morat marit tapi aku mencintainya lebih dari apapun! Aku merindukan Narotama dan teman-temanku yang lain. Aku rindu pada Mbok Waji pembantu setiaku, rindu pada rumahku di Kebon Jeruk, pada menara RCTI. Pada semuanya!!

Wajar bukan jika aku bersikap begini? Di Paris, aku belum punya siapa-siapa yang kusayangi. Oh, tentu saja selain maman, aku masih menganggap yang lain adalah orang asing bagiku, bahkan Didier sekalipun atau Sébastien yang begitu perhatian padaku. O, aku belum menyebut Alain. Ya, dia juga baik padaku. Meski semuanya (kecuali Françoise) tampaknya begitu menerimaku dan sayang padaku, tapi mereka belum bisa menggantikan orang-orang tersayangku di Indonesia.

Évelyne sudah datang setelah mengedrop Didier dan langsung melakukan pekerjaannya di apartemen ini. Aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar  di luar daripada melamun terus menerus memikirkan semua yang ada di Indonesia. Aku bilang pada Évelyne untuk keluar sebentar dan raut wajah itu tampak khawatir.

“Apakah kau tahu jalannya?” tanyanya. Aku mengangguk mantap dan tidak membiarkan dia mengkhawatirkanku sedemikian rupa. Hey, aku sudah 17 tahun kau tahu itu Évelyne?
“Jangan lupa telepon jika kau kesasar” pesannya. Kau tahu? Évelyne adalah wanita pendiam tapi penuh  perhatian.

Aku menyusuri jalan Mouffetard. Jalan ini kecil, namun padat dan ramai. Tentu saja karena jalan ini adalah pusat sejarah dan peradaban kuno di Paris dan pastinya banyak turis mancanegara yang ingin mengunjunginya. Disisi kanan dan kirinya penuh dengan toko, kafe, laundry, restoran, supermarket, barber shop, salon, agen perjalanan dan lain-lain. Diatas toko, kafe dan lain-lain itu terdapat hotel atau gedung apartemen. Di Paris, jarang sekali aku lihat rumah-rumah seperti di Jakarta. Sebabnya mungkin karena harga tanah di Paris ini sangat mahal. Punya satu atau dua apartemen saja sudah bagus.

Aku masuk ke supermarket mini, masih di jalan Mouffetard, karena ingat aku harus membeli lauk untuk makanku. Aku berdoa mudah-mudahan ada sardin kalengan atau mie instan. Karena masih pagi, tidak ada orang lagi di dalam supermarket selain seorang bapak setengah baya berwajah Arab, berdiri di belakang mesin kasir. Ketika hendak membayar, bapak itu berbicara bahasa Inggris padaku.

    “Kau sudah punya peta Paris, Mademoiselle?”
    “Belum, Pak” jawabku. Dia mengambilnya dari bawah dan menyerahkan padaku.
    “Kau ada di disini” katanya sambil menunjuk suatu titik. Aku manggut-manggut sembari mendengarkan penjelasannya kemana aku harus pergi untuk melihat Louvre, Eiffel dan lain-lain. Ya, ampun! Dia mengira aku ini turis!
    “My name is Abdul, what is yours?”
    “Julie, Monsieur, et j’amerais bien practiquer mon français avec vous ”
    “Bon. C’est très bien ! Saya tidak menyangka kamu bisa bahasa Prancis!”

    Itulah interaksi pertamaku dengan penduduk Paris selain keluargaku. Aku kembali menyusuri Mouffetard dan kaki ini menuntunku mampir ke sebuah kafe. Kafenya mungil. Kau tahu? Kafe disini ternyata kecil-kecil. Kuamati orang-orang yang duduk di kafe ini. Ada yang setengah baya, ada juga anak muda. Ada yang bergerombol, ada juga yang sendirian. Yang bergerombol asyik bercanda ria. Sementara yang datang sendirian, tampak asyik dengan dunianya sendiri. Dunia yang mereka selami melalui sebuah buku.
Sementara aku sibuk celingukan.
Datang sendirian, tidak bergerombol, pun tidak ditemani sebuah buku. Cultureku sebagai orang Indonesia membuatku tidak biasa membawa buku kemana-mana kecuali sekolah. Temanku hanya secangkir kopi yang belum kusentuh sejak lima belas menit yang lalu datang di hadapanku.

Kuhirup kopi Prancis yang hitam pekat dan pahit ini. Oh aku baru ingat, adalah kebiasaan orang Prancis minum kopi tanpa gula. Ketika aku menambahkan banyak gula dalam cangkirku, sang waitress, yang kebetulan melintas dan melihat aksiku, tersenyum dan bertanya aku turis dari mana. Bagus, dua kali aku dibilang turis hari ini. Mungkin gayaku harus kubuat lebih Prancis agar tak dibilang turis.


8
Huit

Séb mencuri waktu diantara kesibukan kuliahnya dan dia berencana mengantarku mendaftar kursus bahasa Prancis hari ini. Tentu saja aku senang karena hampir mati bosan di rumah terus dan hanya jalan-jalan keliling Mouffetard. Terlebih ini adalah kabar supergembira karena bukan Françoise yang mengantarku. Jujur, aku lebih senang Séb yang mengantarku daripada adiknya yang judes itu.

Untuk masuk universitas di Prancis, seseorang perlu mengikuti tes yang disebut le Test de Connaissance du Français (TCF)  atau ujian pengetahuan bahasa Prancis juga tes DELF semacam TOEFL untuk  bahasa Inggris. Siapapun, lulusan SMA manapun bisa masuk universitas yang dipilihnya asal memenuhi syarat administratif dan lulus tes itu.

Atas rujukan maman, akhirnya aku memilih untuk kuliah di Universitas Sorbonne jurusan Sejarah. Pilihan yang sama dengan maman ketika kuliah dulu. Bukannya ingin menjadi editor buku sejarah seperti dia, tapi pada dasarnya aku menyukai cerita dan aku pikir ilmu Sejarah akan mengajarkan kita mengenal siapa diri kita dan tidak lupa dari mana kita berasal. Kampusnyapun relatif dekat dengan rumah, bisa kutempuh dengan berjalan kaki, tidak perlu naik metro atau bus. Tes TCF akan dilakukan dalam waktu dekat dan perkuliahannya sendiri baru dimulai bulan September, tepat pada awal musim gugur. Aku tidak mau gagal, untuk itu, aku harus ikut kursus bahasa Prancis dulu agar bisa mengerjakan semua soal-soal TCF nanti.

Selesai mendaftar, Séb mengajakku berjalan kaki menyusuri Boulevard Saint Germain, berbelok ke kiri menuju jalan Saint Guillaume. Jalan ini mengingatkanku pada gang sempit di perkampungan padat penduduk di Jakarta, hanya saja aku tidak perlu ‘permisi-permisi’ ketika melewatinya karena tidak ada orang-orang nongkrong disana. Kemudian kami jalan lurus menuju jalan du pré aux Clercs. Sambil cerita tentang teman-temannya yang banyak tinggal di daerah ini, Sébastien mengajakku masuk ke rue de l’université terus ke utara dan kamipun sampai di Pont du Carrousel, menyeberang sungai Seine lewat jembatan itu, dan kami kini sudah berada tepat disamping museum Louvre. Yeah, setelah melewati gerbang, kini aku bisa melihat la Pyramide yang merupakan pintu masuk utama museum. Benda besar replika piramid Mesir itu duduk gagah di peluk gedung Louvre yang bergaya Renaissance dan dikelilingi kolam-kolam segitiga.

Bedanya jika piramid Mesir terbuat dari batu, piramid Louvre terbuat dari besi dan kaca. Kaca-kacanya yang berkilau diterpa matahari siap menyambut orang-orang yang datang.

Aku memilih duduk di tepi kolam di salah satu sisi la Pyramide sambil membayangkan jika yang duduk disini adalah aku bersama kakek atau aku bersama Naro. Pasti seru ceritanya. Tetanggaku itu pasti akan berfoto-foto seperti turis-turis Amerika yang bergerombol itu atau turis Jepang yang sibuk mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya, membentuk huruf V, gaya khas andalan mereka ketika difoto. Atau mungkin Naro akan mencoba gaya candide camera, berpose dengan pura-pura tidak lihat kamera.

Kalau kakek, pasti akan cerita panjang lebar tentang sejarah la Pyramide yang dibuat oleh arsitek asal China berkebangsaan Amerika pada masa pemerintahan presiden François Mitterand itu. Melihat kecantikannya, kau tidak akan percaya jika la Pyramide, sempat menuai protes dari para pecinta seni Renaissance karena dianggap tidak pantas disandingkan dengan bangunan klasik Museum Louvre. Hm, yeah, pasti kakek akan cerita tentang museum Louvre lengkap dengan isi-isinya yaitu benda-benda seni dari seluruh dunia, juga lukisan-lukisan Monet, Salvador Dalí, Carravagio, Renoir dan tak ketinggalan cerita tentang Mona Lisa, lukisan karya maestro Renaissance Leonardo da Vinci yang paling masyur sejagat.

Sekarang ceritanya memang benar-benar berbeda karena yang bersamaku adalah Sébastien. Sambil makan Kebab Turki yang kami beli sebelum kesini tadi, dia bercerita panjang lebar bukan tentang la Pyramide atau isi dari museum Louvre, tapi tentang dirinya yang diputusin pacarnya bernama Claire tahun lalu di tempat ini. Oh, jadi dia tidak punya pacar sekarang? Hampir tidak bisa kupercaya sebab kukira dengan wajah setampan itu bisalah punya dua atau tiga pacar sekaligus dan tidak mungkin menyandang status jomblo.
Aku baru tahu dari Séb bahwa museum Louvre adalah tempat favorit bahkan untuk orang Paris sendiri sebagai tempat rendez-vous , meeting point atau pacaran.  Orang Prancis lebih memilih ketemuan di museum daripada di mal. Aku jadi membayangkan museum-museum di Indonesia yang dingin dan tidak pernah dipakai tempat ketemuan atau berkasih-kasihan. Aku dan pacarku di SMA dulu juga tidak pernah kepikiran untuk pacaran di museum.

“Kami pacaran sejak kelas 2 SMA, dan kami putus karena dia jatuh cinta lagi sama cowok keturunan Italia yang sekampus dengannya” kata Séb dengan bahasa Prancis campur Inggris. Betul, aku memintanya untuk tidak bicara full bahasa Prancis daripada komunikasi ini menjadi tidak lancar.
Aku mengamati gerak geriknya yang sambil bercerita terus menerus mengunyah Kebab dengan semangat, seakan daging dalam Kebab itu adalah cowok Italia yang telah merebut kekasihnya.
“Kami jadian disini dan putus disini pula. Aku masih ingat dia itu cewek yang manis dan manja sekali”
“Kalian selalu pacaran disini?” tanyaku.
“Ya enggaklah. Kadang kami jalan-jalan, yeah, kemana saja. Kalau bosan, kami ketemuan di apartemenku atau di apartemennya dan kami...”
“Faire l’amour ?” tembakku. Séb terbahak.
“Kalian selalu ‘begitu’ ya kalau pacaran?”
“Jika ada kesempatan dan ceweknya mau, why not?”
Kami tertawa bersama.
       “Makanya aku menyesal Claire memutuskanku demi cowok Italia itu”
    “Mungkin dia pikir, cowok Italia itu lebih baik daripada kamu”
    “Kurasa tidak” katanya, matanya menyipit “Cowok itu bertato”
    “Memangnya kenapa?”
    “Yeah, you know, aku selalu berpikir bahwa cowok bertato itu pasti berandalan, drugs addict,  penganut seks bebas”
    “Jangan menghakimi dulu, Séb. Di Indonesia banyak orang bertato tidak begitu. Mereka baik-baik, sopan, beribadah, biasa saja”
    “Memang tidak semua. Mais d’après moi, menurutku, Claire akan jadi lebih baik jika terus bersamaku, bukan dengan cowok Italia yang bertato itu”
Aku tertawa lirih. Kamu hanya membela egomu saja, Séb. Coba kau yang memutuskan hubungan dengan Claire karena tertarik perempuan lain dan kau sendiri punya tato, masihkah kau berkata begitu?
    “Ohya, apa kalian seperti kami?” tanya Séb.
Alisku berkerut.
“Maksudku, apa kalian juga melakukan seks sebelum menikah?”
    “Kok nanyanya gitu sih?” aku bertanya balik dan agak sedikit risih mendengar model pertanyaan seperti itu. Selama ini, tidak ada cowok Indonesia seusiaku atau bahkan seusia Séb yang menanyakan hal tentang seks padaku. Ya, teman-teman sih sering ngomong soal ini, tapi dibawa dalam konteks becanda. Jadi wajar kan jika aku kaget?
“Yeah, aku pingin tahu aja, bagaimana gaya pacaranmu di Indonesia? Atau… kau termasuk yang punya prinsip tidak melakukan seks sebelum menikah?”
    “Dalam budaya ketimuranku sih hal itu memang dilarang sebelum ada pernikahan” jawabku berusaha senetral mungkin.
    “Itu kan menurut budayamu dan faham itu sudah tertanam sejak kau lahir. Tapi bagaimana dengan pandanganmu sendiri mengenai sex before married?”

Pertanyaan dilematis. Kau tahu, kurasa laki-laki di depanku ini adalah korban dari sistem pendidikan Prancis yang superior. Maksudnya begini, taraf pendidikan di negeri ini sangat tinggi dan sekolahnya rata-rata berat serta bikin stres. Tidak heran jika hal itu membuat orang-orang Prancis mempunyai sikap kritis, senang mendebat, teoritis, agak sombong terutama jika menyangkut soal keilmuwan, merasa diri superior dan meremehkan bangsa lain. Setidaknya beberapa sikap yang tadi kusebutkan ada pada diri Sébastien. Pertanyaannya tadi sangat kompulsif dan menjebak. Jika kujawab tidak setuju, pasti aku dibilang munafik. Jika aku jawab setuju, mungkin saja aku dibilang tidak taat agama dan norma ketimuran.

    “Kurasa itu tergantung individu masing-masing, Séb. Kalau pendapatku sendiri, diluar adanya peraturan adat atau agama atau apapun, lebih baik tidak usah dilakukan daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti hamil diluar nikah atau parahnya kita tertular penyakit AIDS dan lain-lain”
    “Sepertinya jawaban itu lebih kepada prinsip daripada pandangan? Prinsip yang kau dapat karena doktrin sejak kecil?”
     “Hmm, bukan begitu. Kupikir, sex before married hanya senang sesaat rugi permanen”
Wajah Sébastien tampak kurang puas, dia terus mengejar.
“Kalau kau yakin bisa melakukannya dengan cara aman? Euuh, seperti memakai kondom?”
    “Lihat dulu pasanganku seperti apa dan apakah aku melakukannya karena aku cinta padanya??”
    “Oh,..okey” dia menatapku “Jawabanmu lumayan juga” lanjutnya lalu tersenyum dan membuang pandangannya jauh ke seberang. Kau tahu kan sekarang? Sangat susah membuat orang Prancis terkesan. Jadi percuma deh berlagak sok keren di depan mereka!
    “Tapi, lihatlah nanti setelah kau tinggal disini untuk beberapa waktu, apakah prinsipmu itu akan tetap teguh, atau nanti perlahan luntur...” desisnya, lalu menatap tepat pada retina mataku.
*
    Aku masih asyik menikmati semilir angin di tepi kolam segitiga la Pyramide ketika maman menelpon Séb dan menyuruh kami berdua mampir ke kantornya. Ya, maman akan mengenalkanku pada teman-teman kantornya. Kami segera naik bus ke timur Paris. Tujuannya adalah distrik 11 tempat dimana kantor penerbitan tempat maman bekerja berada. Nanti setelah mampir ke kantor maman, Séb berjanji mau menunjukkan satu tempat yang pastinya spesial untukku.

    “Bukan tempat blinking seperti la Pyramide atau Eiffel” katanya.

Sampai di kantornya, maman memperkenalkanku pada koleganya. Koleganya yang sebagian besar telah mengetahui siapa aku langsung menyambutku dan berebutan bertanya ini itu. Setelah itu, maman mengajak kami makan di kantin bernuansa India yang letaknya tidak jauh dari gedung kantornya. Ah, lumayan. Setidaknya aku bisa ketemu nasi dan makan masakan India. Kau bayangkan, dari tadi aku baru makan Kebab Turki. Hm, bilang padaku, apakah perut Indonesiamu bilang itu sudah makan? Jika kau bilang belum, aku setuju denganmu!

Selesai makan, kami berpisah. Maman kembali bekerja dan kami meneruskan tujuan kami. Maksudnya tujuan Séb sebab aku samasekali tidak tahu, mau dibawa kemana. Kemudian, dengan gerakan yang pastinya spontan, Séb menggenggam tanganku untuk menyebrang. Oh yeah, setelah menikmati senyumnya yang menarik dan tatapan matanya yang bikin jantung mendadak berhenti, kini aku bisa menikmati genggaman tangannya. Tidak kutolak dan malah balas menggenggam tangannya seakan aku butuh dia lindungi ketika menyebrang  jalan.

Dalam peta yang selalu kubawa-bawa mengatakan jalan ini adalah Boulevard de Ménilmontant. Dengan menyeberangi boulevard, kami sudah berada di distrik lain, yaitu distrik 20. Pemberian nomor arrondissement  di Paris ini bisa kubilang unik. Jika membuka peta Paris, kau akan melihat sistem penomoran distriknya melingkar searah jarum jam, membentuk seperti obat nyamuk dengan distrik satu terletak tepat di museum Louvre.

Séb menunjuk sebuah gapura sewarna gading  dan bilang itulah tujuan kami sekarang.
“C’est le Cimetière du Père-Lachaise” katanya.
 Oo, meski bahasa Prancisku masih buruk, namun aku yakin kata cimetière itu sama dengan kata dalam bahasa Inggris cemetery yang artinya pemakaman. Ini, kuburan?

    “Betul” ujar Séb sambil tersenyum. Oh, inilah maksudnya bukan tempat ‘bling-bling’ tadi. Jelaslah. Ini tempat suram, tidak blinking samasekali. Seketika, bulu kudukku berdiri satu persatu. Wait, Sébastien mau mengajakku ke makam siapa?
    “Ini makam paling terkenal sedunia, kau tahu? Puluhan orang besar, terkenal dan penting semasa hidupnya, dimakamkan disini” kata Séb.
    “Tidak percaya? Itu makam Honoré Balzac, penulis terkenal yang hidup di abad 19, kau tahu kan?” tanya Séb seraya menunjuk sebuah makam dengan patung setengah badan. Aku menggeleng, sebab tidak tahu siapa itu Honoré Balzac.
    “Salah satu karyanya yang sangat terkenal dalam dunia kesastraan Prancis berjudul Le Père Goriot. Tahu, kan?”

Aku tetap menggeleng. Séb mengangkat bahu kemudian mengajakku berkeliling kuburan yang dingin itu dan aku masih tidak mengerti kenapa Séb membawaku kesini. Apa pentingnya?

    “Semua orang pernah berjaya namun selalu berakhir seperti ini, meninggal. Aku hanya ingin kita berdua mengingat hal ini” kata Séb, seperti membaca pikiranku. Ya, aku baru tahu cara Séb mengingat kematian, yaitu mengunjungi kuburan.

Lalu berlagak seperti guide yang mengantar turis, Séb mengajakku keliling-keliling kompleks pemakaman. Kami melewati makam komposer musik klasik Frédéric Chopin. Aku tahu, karena salah satu karyanya yang berjudul “Minute” jadi ringtone wajib di hape Nokianya Cyntia. Lalu ada makam Auguste Compte. Ini juga aku tahu, bapak positivisme dunia, kan? Ada makam dramawan Molière, Ferdinand de Lesseps, arsitek Prancis yang mendesain terusan Suez. Ada pula makam penyanyi Prancis di era tahun 50-an Edith Piaf dan makam vokalis grup musik legendaris The Door, Jim Morrison. Ya, kalau nama-nama itu aku kenal.

“Ada makam lagi yang akan kutunjukkan padamu dan kujamin kali ini ada hubungannya denganmu” kata Séb. Dia menunjuk ke sebuah pusara dan mataku langsung terpaku pada nisan yang sederhana dengan sedikit berlumut.
“Ayo!” Séb mengajakku berlutut. Aku menurutinya dengan alis berkerut. Kubaca dua nama yang terukir indah di nisannya dan seketika itu aku mengerti. Jean-Baptiste Clemenceau & Selène Clemenceau. Apa kira-kira kau bisa menduga siapa mereka?
“Ini makam kakek dan nenekmu Julie. Orangtuanya Marie. Aku sering diajaknya kesini, makanya aku tahu” kata Séb. Ah, aku tidak menyangka jika Séb akan mengajakku bertemu makam nenek dan kakekku. Aku segera bersimpuh dan mengucap doa. Ya, doa apa saja yang aku bisa untuk kedamaian arwah kakek dan nenekku di alam sana.
“Dan Marie, adalah adalah anak tunggal”
Aku merenung mengingat bahwa nasibku masih lebih baik dari maman. Aku masih punya mama dan Didier. Maksudku, diluar Alain dan saudara-saudara tiri ini.
    “Julie, aku minta maaf atas sikap Françoise padamu ya” kata Séb sambil menyusuri jalan keluar. Oh, sebetulnya, hampir saja aku melupakan masalah itu karena keasyikkan menikmati jalan-jalan seharian tadi dan ketemu pusara kakek dan nenekku dari pihak maman. Tapi pernyataan Séb, membuka lagi kesedihan yang baru saja lenyap dan terusterang hatiku langsung merasa tidak enak. Perutku tiba-tiba mual.
    “Setahun lalu, sejak papamu meninggal dan menulis surat wasiat agar kau kembali pada Marie, kami sudah tahu dan siap menerimamu sebagai saudara kami. Tapi tidak dengan Françoise”
    “Kau tahu juga tentang surat wasiat papaku?”
    “Marie cerita semuanya” jawab Séb.

Aku menarik napas dan kukatakan bahwa sebenarnya akupun berat meninggalkan Indonesia jika tidak karena surat itu. Kedekatanku dengan maman sebenarnya seperti kertas saja. Tipis sekali. Aku sudah kehilangan kasih sayangnya dan berpisah secara fisik sejak umur enam tahun. Jika tiba-tiba sekarang harus tinggal dengannya plus keluarga baru, sebenarnya tidak mudah untukku.

    “Kami sudah berusaha memberi pengertian pada Françoise tentang perubahan ini. Tapi tidak tahu, ya, kenapa sikapnya keras begitu..”
    “Sudahlah Séb..”
    “..dan aku tidak menyangka sikap itu diperlihatkan secara terang-terangan didepanmu” Séb menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku tahu dia sangat menyesali kejadian ini.
“Kami semua merasa sangat tidak enak padamu, Julie” lanjutnya.
Kau pikir hanya kau dan keluargamu yang merasa tidak enak? Aku lebih-lebih! Jika tahu kejadiannya seperti ini, aku takkan pernah menuruti surat wasiat papa itu. Biar saja aku hidup sendiri di Indonesia, tanah kelahiranku. Tapi aku kembali tersadar bahwa aku hanya emosi saja. Aku tidak boleh menyesali keputusanku pindah ke Paris.
    “Sejak kecil,” kata Séb seperti memulai sebuah kisah dan aku memutuskan untuk menjadi pendengarnya saja.
“.....sifat Françoise memang tidak ramah. Aku yang selalu mengalah demi kepentingannya. Aku dan Françoise, selalu berjarak. Kami tidak bisa dekat secara hati. Aku pikir dulu mamaku sangat memanjakannya hingga dia seperti itu” Séb diam sejenak, kemudian mengajakku duduk di salah satu bangku, masih di kompleks pemakaman. Aku duduk dengan hati tidak yakin. Sumpe lo? Curhat di kuburan?
“Aku belum cerita ya?” lanjut Séb “Mama kandungku masih hidup. Setelah bercerai dari papa, dia kembali ke tempat kelahirannya di Bordeaux. Setahun sekali setiap Natal, aku dan Françoise mengunjungi mamaku. Sekarang, dia sudah menikah lagi dengan seorang petani anggur tetapi belum mempunyai anak”
    “Kurasa, perceraian orangtua kami juga mempengaruhi mentalku dan Françoise. Aku mungkin lebih bisa menerima dan cenderung easy going. Tapi tidak untuk Françoise. Ketika papa memutuskan menikahi Marie-Anne, Françoise juga sempat uring-uringan. Untunglah Marie bisa mengambil hatinya dan sikap Françoise berubah padanya. Lalu, lahirlah Didier dan itu membuat Françoise makin menyayangi Marie. Tapi ketika hal tentang dirimu terungkap, semuanya kembali seperti semula. Aku pribadi tidak menyalahkanmu, kurasa semua itu gara-gara Françoise  yang tidak pernah mau berpikir dewasa!”

Aku menepuk pundak Séb dan bilang bahwa aku akan baik-baik saja, toh akupun sudah terlanjur berada disini. Aku ingin semuanya berjalan natural saja. Françoise yang membenciku akan kuanggap sebagai salah satu kerikil tajam yang menghalangi langkahku dan semoga saja tidak menganggu. Aku ingin menikmati hidup disini. Aku ingin bahagia. Yeah, kebahagiaan adalah pilihan dan menurutku itu bisa diusahakan.

    Puas curhat, kami memutuskan untuk pulang…
   
“Séb, makasih ya sudah menemaniku seharian ini”
    “Tidak apa-apa. Aku senang akhirnya bisa punya adik yang bisa begini dekat. Aku tidak pernah begini dengan Françoise”

Aku menatapnya dan kurasa mata itu cukup jujur. Yeah, sebagai kakak menurutku dia adalah kakak yang baik dan menyenangkan sekali. Aku menyayangkan sikap Françoise yang tidak bisa dekat dengan Séb. Padahal jika Françoise melihat ketulusan hati pemuda ini, aku yakin mereka berdua akan menjadi sepasang adik-kakak yang kompak. Oh, dulu ketika di SMA, aku selalu iri jika melihat teman-teman cewekku yang punya kakak laki-laki dan mereka terlihat saling menyayangi. Kakak laki-laki mereka menjemput teman-teman cewekku dengan motor atau mobil, kemudian mereka pulang bareng-bareng. Indah sekali. Menilik kondisiku dan Séb saat ini bisa kusimpulkan, kami berdua sama-sama haus cinta dan kasih sayang dari seorang saudara. Oh yeah, mungkin selain mengidap penyakit demam panggung, aku juga mengidap penyakit brother complex.

 “Ohya, Séb, bisakah aku meminjam internetmu? Aku mau mengirim email untuk teman-teman di Indonesia” kataku, setelah terdiam untuk beberapa saat. Tentu saja aku akan memberi kabar pada Naro bahwa aku sudah menginjak Prancis dengan aman dan sentausa plus mengirim foto-foto narsisku di menara Eiffel, foto-foto di Pyramide dan beberapa tempat yang kami lewati tadi. Plus, aku ingin memberi kesan padanya bahwa hidup di Paris itu begitu nikmat bagai surga dunia. Dia pasti keki minta ampun.

    “S’il te plaît, mademoiselle! Be my pleisure! Kau bisa memakai internetku sepuasnya. Gratis”
    “Gratis?”
    “Gratis, dong. Memangnya di Indonesia! Apa-apa bayar!”
“Astaga Séb bilang padaku, kapan kau akan berhenti mengejek Indonesia!?”
“Jika negaramu sudah semaju Prancis!” jawabnya sambil berlari menjauhiku karena takut kutinju. Aku mengejarnya keluar dari Père-Lachaise.
**

9
Neuf
   
Aku telat masuk kursus. Seharusnya sesi musim panas dimulai pada awal bulan Juni tapi aku baru masuk bulan Juli. Ketinggalan banyak materi membuatku berusaha mati-matian mengejarnya. Syukurlah, aku bisa mengejar ketinggalan itu karena aku belajar keras menghapal teori dan bisa menunjukkan kemahiranku dalam kelas percakapan. Ini berkat sehari-hari aku berusaha keras menggunakan bahasa Prancis dengan anggota keluargaku.

Teman sekelasku berjumlah 10 orang dan hanya ada 2 orang Asia, yaitu aku dan seorang cewek bermata sipit, Fa Yun San. Sisanya adalah orang Amerika, Inggris, Jerman dan Australia. Yun San berasal dari Beijing dan dia bilang padaku akan masuk  ke Institut d’Etudes Politiques de Paris.

    “Sciences Po? Kakak tiriku juga kuliah disana!” komentarku.

Ya, Sébastien memang kuliah di institut politik itu. Kau tahu, Institut d’Etudes Politiques de Paris atau lebih beken dengan nama Sciences Po termasuk salah satu Grandes Ecoles bergengsi di Prancis. Setidaknya tiga presiden Prancis serta banyak pejabat tinggi pemerintahan adalah lulusan institut itu. Jika universitas adalah sekolah tinggi dengan berbagai ragam disiplin ilmu dan sifatnya lebih teoritis, Grandes Ecoles adalah sekolah tinggi yang terspesialisasi dan konon lulusannya lebih bergengsi daripada universitas. Untuk masuk ke Grandes Ecoles calon mahasiswa harus mengikuti sekolah persiapan yang sangat berat. Kuliahnya pun berat. Tapi karena seleksi masuknya ketat, jarang ada mahasiswa Grandes Ecoles yang didrop out. Tidak seperti universitas yang rajin sekali mendrop out mahasiswanya, sebab seleksinya tidak seketat masuk Grandes Ecoles.

    “Aku ingin jadi warga negara Prancis dan berkarir di dunia politik Prancis” kata Yun San dan aku tercengang mendengarnya. Impiannya sangat besar dan agak-agak diluar nalarku. Aku merenung-renung, jika Yun San punya cita-cita sehebat itu, lalu apa impianku? Tujuan saja tidak punya selain menuruti surat wasiat Papa! Kutulis impian Yun San dalam sebuah email yang kualamatkan pada Narotama. Ya, dari dulu sudah biasa aku cerita mengenai apapun padanya. Meskipun kini aku terpisah ribuan kilometer darinya itu samasekali tidak mengubah kepercayaanku pada temanku itu.  Sejak menulis email pertama bersamaan dengan pengiriman foto-fotoku beberapa waktu lalu itu, aku jadi rajin menulis email pada Naro. Hampir setiap hari. Kuceritakan segala yang terjadi selama aku berada di Paris, tentang keramahan papa tiriku dan ketampanan Sébastien yang membuatku betah berlama-lama disisinya, bahwa ternyata aku memiliki seorang adik kandung hasil pernikahan maman dengan Alain yang merupakan kejutan untukku dan tentu saja kuceritakan tentang Françoise, adik kandung Séb yang sudah menunjukkan ketidaksenangannya atas kehadiranku sejak pertama kali melihatku. Kupikir, tidak ada salahnya email pada Naro itu aku jadikan sarana curhat sekaligus diary supaya bahasa Indonesiaku tetap lancar, tidak terkontaminasi bahasa yang aku pakai sekarang ini. Kau tahu sendiri, kan? Aku lebih sering menggunakan bahasa Inggris dan Prancis.

From: juliechantique@flexymind.com
To: naro_naruto@handsomeboy.com
Subject: Yun San’s dream

Dear Naro,
Aku punya teman baru, teman les bahasa Prancis. Dia orang Beijing dan namanya Yun San. Impiannya kau tahu? Ingin menjadi warga negara Prancis sekaligus politikus Prancis ternama. Gemetar aku mendengarnya. Kau bayangkan, dia mengucapkan itu didepan orang yang tidak punya cita-cita samasekali seperti aku.
Ohya, Françoise masih tetap jutek, tidak goyah meskipun aku berusaha ramah sama dia. Judesnya makin nambah saja. Kemarin dia menuduhku mengambil jepitan rambutnya. Jelas tidak mungkin!! Kau tahu sendiri kan? Aku paling anti pakai jepit jepit rambut kayak perempuan. Hehe..
Gimana kuliahmu? Dengar-dengar sudah mulai ospek, ya? bilang sama seniormu: OSPEK? So yesterday!!

Muaaachh!!
-Julie keren-

From: naro_naruto@handsomeboy.com
To: Juliechantique@flexymind.com
Subject: Re: Yun San’s dream

Yo, Jul!
Keren banget tuh temen kamu Yun San. Jangan mau kalah dong, impian kamu juga harus lebih gede darinya. Soal Françoise, kamu pasti bisa menghadapinya seperti kau menghadapi Nabilla n the gank dulu. Kalau dilihat dari fotonya yang kemarin kamu kirim itu, Françoise cantik juga ya? Boleh gak aku pacarin? Hehe, siapa tahu jadi baik sama kamu.
Hm, kok tahu sih aku disini sudah mulai ospek? Gak apa-apalah diospek sekalian bisa ngecengin senior cakep. Xixixi
Pi-es: Kapan-kapan YM-an yuk!!
^Naro^

From: juliechantique@flexymind.com
To: naro_naruto@handsomeboy.com
Subject: Dasar!

Hm, macarin Françoise? Langkahi dulu mayat Alain dan Sébastien. Lagipula gimana sama cewek kecenganmu itu, siapa namanya? Silvia?

From: naro_naruto@handsomeboy.com
To: Juliechantique@flexymind.com
Subject: Re: Dasar!

Silvia lagi jadi nelayan alias ke laut aja! Gak tahu kabarnya, Jul, maksudnya dia gak terlalu menanggapi perhatianku, hiks (^,_^)

Pi-es: Kapan mau YM-an???

Tentu saja untuk keperluan email-emailan ini aku sangat mengandalkan koneksi internet dari komputer Séb. Sébastien tak keberatan dan menunjukkan kepercayaannya padaku dengan memberikan kunci duplikat apartemennya jika sewaktu-waktu aku perlu untuk membuka internet dari komputernya. Sebagai balasannya, aku menunjukkan diriku ini perempuan yang tahu diri dengan rajin membereskan kamarnya. Jadi hubungan kami ini saling menguntungkan, bukan? Simbiosis mutualisme. Kamar Sébastien kau tahu? Cowok banget. Selalu berantakan dan tidak ada rapi-rapinya. Yeah, Monsieur Brugurière tentu tidak bertanggung jawab atas isi apartemen. Dia hanya mengurus bagian luar saja.

Tes TCF diadakan besok dan aku sekarang sedang sibuk mempersiapkan diri hingga hampir tak punya waktu luang. Kemarin aku pergi ke supermarketnya Abdul dan hanya ngobrol sebentar, tidak bisa berlama-lama seperti biasanya. Akhirnya penjaga supermarket mini itu tahu aku penduduk Mouffetard, bukan turis seperti sangkanya dulu. Sambil belajar aku berharap sekali ikut ujian langsung lulus. Aku ingin segera kuliah dan bukan jadi pengangguran seperti sekarang yang kerjaannya mondar mandir di seputaran jalan Mouffetard.
Sedang asyik belajar, aku dikejutkan oleh bel tamu. Kuabaikan karena kupikir ada Évelyne di bawah sana. Tapi bel itu bunyi lagi, berkali-kali.

“Évelyne?” panggilku dan akupun keluar kamar, menuruni tangga. Sepi. Oh, aku baru ingat, Evelyne sedang menyebrang ke apartemen, mengambil beberapa laundry disana untuk dicucinya. Aku turun ke ruang tamu dan membuka pintu.
“Bonjour,” sapa seorang pemuda berambut pirang agak keriting dan berlesung pipi ketika tersenyum “Aku mencari Françoise, betulkah ini rumahnya?”
“Ya, betul. Tapi.. Françoise sedang sekolah” jawabku.
“Sekolah?” tanyanya agak terkejut “Euh, sebetulnya begini...”
“Kalau boleh tahu, siapa namamu dan kamu siapanya Françoise?” tanyaku. Dia tampak malu, kemudian mengulurkan tangannya.
“Je suis Martin, son copain ” katanya.
“Aku Julie, kakak tirinya”
“Sebenarnya ada yang ingin kusampaikan pada orangtuanya. Tapi kau kan saudaranya. Tidak apa-apa, sama sajalah” kata Martin.
“Oh, begitu..” kataku mulai cemas.
“Aku ingin bilang bahwa sudah dua hari Françoise tidak hadir di sekolah. Apa dia sakit?”
Aku membelalak tak percaya. Setiap hari, Françoise selalu pergi ke sekolah bahkan sering diantar Alain. Tapi apa katanya tadi? Sudah dua hari tidak sekolah? Yang benar saja!
    “Apa kau yakin?” tanyaku pada Martin. Dia mengangguk yakin dan tampak jadi salah tingkah. Matanya tidak mau menatapku.
    “Oke, terimakasih kau mau datang kesini dan memberitahu hal ini. Terusterang saja kami tidak tahu jika Françoise berbuat itu. Setiap hari dia selalu pergi ke sekolah. Ya, aku yakin sekali” kataku. Kemudian Martin mengeluarkan kertas dan bolpen lalu menulis diatasnya.
    “Ini nomor teleponku. Tolong hubungi aku jika terjadi apa-apa dengannya. Terus terang semua temannya cemas sama Françoise. Dia....”
    “Kenapa?”
    “Ah, tidak. Oke, kurasa begitu saja. Aku pulang dulu” katanya setelah itu dia membalik dan aku melihat punggung Martin menjauh tapi sedetik kemudian dia berbalik lagi.
    “Kau sepertinya bukan orang Prancis?” tanyanya. Aku tak jadi menutup pintu.
    “Ohya, tentu saja. Aku orang Indonesia” jawabku. Dia mengerut alis yang menunjukkan ketidakpercayaan.
    “Tapi katamu tadi, kau saudara tirinya..”
    “Campuran Prancis tentunya. Ibu tiri Françoise adalah ibu kandungku” lanjutku dan dia tersenyum.
    “Sudah kuduga. Kau cantik sekali” pujinya, lalu benar-benar membalikkan badan dan pergi. Aku bengong sebentar kemudian meringis geli. Ada-ada saja! Aku masuk ke dalam sambil pikiranku terarah pada Françoise. Tidak masuk sekolah selama dua hari? Ada apa sebenarnya dengan anak itu?
**


10
Dix

Jasadku memang di meja makan sedangkan pikiranku melayang-layang memikirkan Tes TCF yang baru saja kulalui tadi siang. Aku berdoa semoga saja berhasil. Dimeja ini, seperti biasa, meskipun harus menghadapi sikap dingin Françoise, aku tetap berusaha menikmati dinner ala orang Prancis. Makan malam bersama keluarga bagi sebagian masyarakat di negara ini adalah wajib hukumnya.

Di meja, hanya ada aku, maman, Séb, Didier dan Françoise, sedangkan Alain dinas ke luar kota, belum pulang. Kulirik Françoise yang tampak tenang-tenang saja seolah tidak terjadi apa-apa kemarin. Ya, tentu saja dia tidak tahu kalau temannya, Martin, datang kesini mencarinya. Inilah waktu yang tepat untuk bilang, mumpung semuanya berkumpul.

    “Françoise,” panggilku “Kemarin temanmu Martin datang kemari ketika kau sekolah”
Terlihat Françoise kaget, tapi sedetik kemudian berusaha menguasai dirinya. Kurasa Françoise sedikit punya bakat akting yang bisa menyembunyikan rahasia besar yang sekarang sedang dipendamnya. Maman dan Séb melirikku, lalu sejenak menghentikan makan.

    “Ah oui, merci” jawab Françoise begitu saja, indifferent.
    “Benar. Dia mencarimu, lho” kataku lagi.
    “Ada apa dia kemari, Julie? Dia bilang sesuatu sama kamu?” tanya maman.
    “Dia tidak bilang apa-apa. Hanya mencari Françoise” kataku, mencoba untuk tidak bersikap provokatif padahal iya. Aku ingin Françoise menunjukkan reaksi kaget atau apalah yang nanti akan membuatnya mengaku, kenapa dia tidak masuk sekolah se89lama dua hari.
    “Kau bolos lagi Françoise? Kau bikin masalah lagi?” tanya Séb menatap tajam adiknya itu.
    “Non!” jawab Françoise.
    “Bohong!”
    “Cukup, Séb!” kata maman. Nah, seperti biasa, maman mulai membela Françoise.
“Marie, coba kau pikir, untuk apa Martin mencari Françoise, di jam sekolah. Bukannya dia bisa mencari di sekolah?”
    “Ini tidak seperti yang kau sangka, Séb” Françoise menyangkal, sendoknya telah diletakkan, artinya, dia mulai marah. Ah, rasanya sering sekali aku membuat anak itu marah di meja makan. Tapi kapan lagi waktu yang tepat untuk ini?
    “Selama dua hari ini, aku ada tugas bahasa Spanyol dan harus pergi ke kedutaan Spanyol dan untuk itu aku harus membolos di jam pelajaran lain agar bisa pergi kesana. Lagipula aku tidak bolos, aku ijin” jawab Françoise yang bagiku sangat masuk akal dan cukup diplomatis, tapi tidak buat Sébastien.
    “Tapi kenapa Martin sampai mencarimu?” Séb mencecar. Didier segera mengakhiri makan malamnya dan masuk ke kamar.
    “Ya tidak tahu! Tanya saja sana sama Martin!!” suara Françoise meninggi.
    “Ecoutes-moi , Françoise! Aku kakakmu, tolong hormati aku dengan bicara yang benar dan sopan. Rendahkan suaramu”
    “Séb,” kata maman “kurasa Martin hanya tidak tahu kalau Françoise sedang ada tugas itu dan...”
    “Bukannya aneh? Harusnya Martin tahu, mereka kan sekelas, Marie” Séb memotong omongan maman.
    “Martin tidak ikut mata pelajaran bahasa Spanyol, dia masuk kelas bahasa Jerman” jawab Françoise, masih dalam rangka membela diri. Suasana jadi tegang dan aku menahan napas. Salah tingkah!
    “Kau dengar itu, Séb?” tanya maman. Séb ikut-ikutan meletakkan sendok. Waduh!
    “Kuharap kali ini kau jangan membelanya lagi. Kau ingat dulu, ketika Françoise bolos dan akhirnya ketahuan, dia juga membuat alasan yang masuk akal seperti ini, bukan?” tanya Séb. Oh, akhirnya aku mengerti. Kejadian ini bukan yang pertama kali.    
“Iya, Séb. Tapi Françoise sudah berjanji untuk tidak mengulanginya lagi dan dia sudah tanda tangan di surat pernyataan jika melanggar lagi, dia akan mendapat hukuman yang lebih berat dari Alain” kata maman. Séb mendengus dan menatap Françoise lagi, sementara Françoise cuek meneruskan makannya.

Kemudian, maman berdiri dan membereskan meja makan. Aku terdiam berusaha membaca apa yang sedang terjadi dengan keluarga ini. Maksudku keluarga baruku. Séb mati-matian menuduh adiknya telah berbuat sesuatu –yang buruk- lagi, sedangkan maman yang notabene ibu tiri bagi Françoise, mati-matian membelanya. Aneh tidak menurutmu? Kecuali, jika itu dilakukan maman, agar dirinya tetap mendapat tempat di hati Françoise. Ya, mengambil hati dengan cara memanjakan? Membelanya meskipun salah? Oh, kupikir maman punya alasan yang lebih besar mungkin? Dia tidak ingin perkawinan keduanya ini hancur lagi gara-gara anak tirinya tidak menyukainya.

    Séb meninggalkan meja tanpa menghabiskan makan malam. Kini tinggal aku dan Françoise. Dia menatapku sambil menyeringai. Aku merinding melihat seringai itu dan merasakan aura persaingan diantara kami. Duh, Françoise seandainya kau tahu bahwa aku juga tidak pernah menginginkan datang dan tinggal di rumah ini. Seandainya kau tahu bahwa di Indonesia aku punya rumah yang indah di Kebon Jeruk. Seandainya kau tahu bahwa di negeriku aku berlimpahan kasih sayang dari saudara-saudara Papa, Kakek, Naro dan semua teman-temanku. Sebenarnya aku tidak butuh kau Françoise dan aku tidak harus bertekuk lutut padamu, seperti maman!

    “Jika maksudmu bilang itu untuk menjatuhkan aku di depan keluarga, kamu salah besar!” tukasnya.
    “Françoise, jangan salah sangka. Aku tidak ada maksud untuk menjatuhkanmu. Aku bicara jujur. Temanmu Martin memang datang kesini nyariin kamu”
“Tapi Marie tidak percaya, kan? Kau lihat tadi, bagaimana dia membelaku”
“Françoise, kenapa sih kamu tidak pernah bicara manis padaku? Hey, kita ini sudah satu keluarga. Mamaku dan papamu menikah. Kau dengar, kan? ME-NI-KAH. Artinya, anak-anak mereka menjadi kakak dan adik tiri. Artinya lagi, kau itu adikku. Kau cukup mengerti? Jika mengerti, kenapa kau masih saja menganggapku musuh, bukan kakakmu sendiri?”
“Sebetulnya aku juga tidak pernah menginginkan Marie. Hanya saja dia bisa membelaku di depan papa waktu aku kena masalah sehingga aku tidak jadi dihukum. Tapi, maafkan aku jika aku hanya bisa menerimanya, pas sa fille !!” kata Françoise ketus. Aku melongo. Ya, Tuhan, betapa kasarnya kata-kata itu. Seumur hidup, belum pernah ada orang berkata kasar begitu padaku, even Nabilla!
 “Kau tidak akan pernah menang lawan aku, Julie. Harap kau ingat itu, ya!!” tukasnya tajam, lalu tersenyum sinis dan meninggalkan aku.

Oh! Kurasa inilah awal perseteruanku dengannya. Di kamar, aku tidak bisa memejamkan mata. Aku masih kepikiran masalah Françoise tadi. Ih, kenapa sih aku musti repot-repot memedulikannya? Masa bodohlah! Kenapa aku jadi gelisah? Tapi, apa yang pernah terjadi pada Françoise sebelum aku datang? Rasa penasaranku memuncak. Jika Martin benar Françoise membolos dua hari, tentu ini bukan perkara sepele. Aku berada dipuncak penasaran dan kulihat jendela kamar Séb masih menyala. Artinya, dia belum tidur. Segera aku memakai mantelku dan keluar kamar.

    “Séb, coba ceritakan padaku, apa yang pernah terjadi sebelum aku datang ke rumah ini?” tanyaku sambil bersandar di tembok dan melipat kedua tanganku. Séb bergeming, sambil terus memetik-metik gitarnya.
    “Sébastien...?”

    Akhirnya setelah terdiam cukup lama, Séb buka suara. Dia cerita bahwa dulu Françoise sempat terjerumus dalam pergaulan nakal. Artinya, dia memakai obat-obatan. Françoise limbung ketika dia mendengar kabar Alain akan menikahi Marie-Anne, wanita teman kuliahnya dulu, yang tak lain adalah maman. Françoise belum bisa menerima keputusan itu dan menganggap papanya mengkhianati mama kandungnya.

“Tapi siapa yang bisa menghalangi papa?” tanya Séb, retorik. Setelah Alain menikah, Françoise masih belum bisa menerima maman. Sampai akhirnya, keluarga mendapatinya telah terjerumus obat-obatan. Françoise ditangkap polisi ketika memakai kokain di apartemen pengedarnya. Kata Séb, pengedarnya sengaja mencari anak-anak dibawah umur seperti Françoise untuk dicekoki barang terlarang itu. Alain berhasil membebaskan Françoise kemudian mengusirnya. Melihat itu, maman memohon pada Alain untuk bisa memaafkan Françoise dan Alain luluh. Sejak itu, Françoise perlahan mulai menerima maman.
“Dan ini terjadi lagi, ketika aku datang?” tanyaku mulai cemas. Kau tahu, aku paling sebal dibilang si pembawa masalah. Hey, aku datang dengan damai, tidak ada maksud untuk mengacaukan keluarga ini.
“Séb, Françoise benar-benar tidak menyukaiku, kan? Dia mulai bertingkah seperti dulu waktu Alain akan menikahi maman?”
“Sudahlah, Julie. Kukira bukan itu alasannya sekarang. Kurasa ada alasan lain yang...”
“Kenapa maman tidak bilang sama aku kalau kedatanganku akan membawa masalah di rumah ini??” tanyaku memotong kata-kata Séb tadi, dengan suara meninggi.  
“AKU TIDAK AKAN KESINI JIKA AKU TAHU!!” aku mulai emosi.
Séb memegang tanganku.
“Julie, sudah! Jangan bilang begitu!!” suara Séb terdengar tertekan. Dia meraih kepalaku dan membenamkan tubuhku dalam rengkuhannya “Kau samasekali bukan sumber masalah di rumah ini. Please, jangan bilang begitu”
“Tapi Séb, kenapa Françoise begitu benci aku?”
“Sst, sudahlah jangan pedulikan Françoise. Yang penting aku, Marie, papa dan Didier menyayangimu. Okey?” ujar Séb sembari menatapku, lama sekali. Kemudian seperti ragu-ragu kalau aku akan menolaknya, ia mengecup keningku. Aku tertahan sejenak dalam posisi yang sama. Terusterang aku terkejut.
Hening..
“Okey?” ulangnya, setengah memelas.
Aku mengangguk pelan dan menatapnya. Sejujurnya, pikiranku kini malah beralih pada apa yang terjadi di dalam dada. Oh, kau tahu? Ini sebuah debar yang aneh sekali. Semakin dalam Séb memelukku, aku makin tenggelam oleh debaran dada yang semakin ganjil ini. Sambil membalas pelukan itu, aku meyakinkan diri bahwa Sébastien adalah kakakku, bukan orang lain.
**

11
Onze

Aku sedang merasakan excitement sebagai mahasiswa baru. Yeah, aku lulus  tes dan dinyatakan sebagai mahasiswa Sorbonne IV jurusan Sejarah. Kau dengar, kan? Etudiante d’Histoire de l’Université de la Sorbonne IV Paris. Ini membuatku merasa beruntung sekaligus ini adalah awal petaka. Oke, kuceritakan bagian yang bagus-bagusnya dulu.

Mahasiswa di kelasku tidak sebanyak jurusan lain dan itu terasa makin sepi ketika menempati kelas-kelas yang besar dan beratap tinggi ini. Dulu aku mengira Sorbonne itu seperti kampus-kampus di Indonesia yang ceria dan ramah. Aku pernah diajak sepupuku mampir ke Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran waktu aku main ke Bandung, yang penuh dengan mahasiswa nyentrik dan selalu tersenyum ceria seakan kuliah itu bukanlah beban. Sorbonne, sangat angkuh dan dingin, membuat mahasiswanya selalu ingat bahwa kuliah disini harus serius, dan benar-benar mendedikasikan diri untuk menimba ilmu, bukan sekedar mencari gelar.

Selalu duduk di sebelahku, seorang gadis berambut panjang, pirang, bermata biru laut yang gayanya sangat Amerika; cuek dan masa bodoh. Dia memang terobsesi dengan penyanyi Avril Lavigne dan pastinya dengan segala yang berbau Amerika. Namanya Sédé. Oh, tentu itu bukan nama aslinya. Namanya Céline Desailly, disingkat CD dan pengucapan singkatan CD itu menjadi sédé di lidah orang Prancis.

Teman-teman Sédé bertebaran di seluruh Paris raya. Aku sering dibawanya ketemu teman-temannya itu di berbagai tempat nongkrong. Mereka terdiri dari berbagai macam profesi, golongan, umur dan warna kulit. Sebut saja mulai dari anak band yang beraliran Punk, Alternatif, Rock, seniman jalanan, sampai anak-anak pejabat di kantor pemerintahan walikota Paris. Sédé kenal semuanya dan mereka juga kenal Sédé. Bisa kubilang perempuan eksentrik yang bertindik di hidung dan lidah ini adalah AGP, Anak Gaul Paris. Tidak terlalu mengherankan jika kau tahu profilnya selain berstatus mahasiswi Sorbonne jurusan Sejarah, Sédé juga terkenal sebagai seorang seniman yang menjajakan lukisannya secara door to door. Dialah temanku paling dekat di kelas dan bohemian keren yang pernah kukenal.

Ketika berkenalan, kukira dia orang Amerika. Setidaknya keturunan Amerika. Tapi ternyata dia orang Prancis asli. Ketika itu dia tidak bicara bahasa Prancis padaku, melainkan bahasa Inggris. Aku sih senang saja melayaninya, mengobrol ngalor ngidul disertai tatapan sebal teman yang lain. Sédé mematahkan anggapanku kalau wanita Prancis itu dingin dan berjarak. Nyatanya dia sangat gila. Kadang-kadang aku memanggilnya sedeng, dan dia menyukainya. Ha, dia tidak tahu arti sedeng dalam bahasa slenge’an  Betawi artinya gila.

    Di sebelahku yang lain, duduk seorang pemuda berambut coklat terang agak gondrong, dengan kulit yang sangat putih, matanya berwarna hazel, hampir sewarna dengan rambutnya dan namanya Mathieu Gaillard. Oke, kuceritakan sedikit mengenai dirinya kenapa aku dan Mathieu jadi begitu akrab sekarang.

    “Aku pernah ke Indonesia kira-kira tiga tahun lalu. Waktu itu kakakku menikah dengan wanita Indonesia bernama Rita. Mereka menikah di Bandung, di sebuah hotel di daerah Lembang”
    “Ohya?” tanyaku bersemangat.
    “Aku punya kenalan beberapa orang Indonesia, temannya Rita, dan kami tetap berhubungan sampai sekarang. Salah satunya bernama Sarah, seorang dosen dan dia sedang S2 di Paris ini”
    “Wow!” komentarku, terbayang berapa orang Indonesia yang akan jadi temanku di sini nanti jika Mathieu mau memperkenalkan mereka padaku.
“Setelah itu aku bersama keluargaku pergi ke Yogja, Bali dan Bunaken. Wah, Indonesia keren banget, ya? Aku berencana mau kesana lagi suatu hari nanti”
 “Lalu, kakakmu masih menikah dengan orang Indonesia itu sekarang?”
    “Masih. Mereka tinggal di rue Dunkerque, distrik kesepuluh dan sudah punya dua anak. Akupun tinggal di daerah itu sekarang” jawab Mathieu. Sejak itu aku jadi sering ngobrol dengan Mathieu dan sering main ke apartemennya dan apartemen kakaknya.   

Sédé dan Mathieu Gaillard adalah dua teman terdekatku di kampus. Sédé menjadi dekat denganku karena aku senang melayaninya bicara bahasa Inggris berlogat Amerika, sedangkan Mathieu merasa punya keterikatan historis dengan Indonesia karena pernah kesana dan kakak iparnya adalah orang Indonesia. Dengan yang lain bukannya tidak dekat, tapi interaksiku dengan mereka tidak intens seperti dengan Sédé dan Mathieu. Ada Conchita Dénis cewek paling anggun di kelas. Nah, ini baru profil cewek Prancis asli. Anggun, cenderung kemayu, ramah tapi sangat menjaga jarak. Jika Conchita orang Indonesia, mungkin dia sudah dijuluki si jinak-jinak merpati. Aku juga akrab dengan Irène Martineau, juru catat di kelas. Tulisannya rapi, runut dan tepat seperti yang dikatakan dosen di kelas, lengkap dengan titik komanya. Fotokopi catatan Irène menyebar seantero kelas dan itu menobatkannya sebagai selebritis di bidang catatan.  Lalu ada Simon-Pièrre Luchini dan Léonard Valérien, dua lelaki yang sama-sama cakep, sama-sama keren dan saling menempel satu sama lain.  Gosipnya mereka berdua itu menjalin cinta. Aku sih tidak percaya, tapi mereka kerap kutemui nongkrong di kafe sambil ribut mendiskusikan sesuatu. Ribut-ribut mesra begitulah. Dengar-dengar mereka berdua itu adalah penulis sejak masih di lycée (SMA) dan novel remaja mereka pernah diterbitkan. Anehnya, seluruh cewek di kelas tidak ada yang mau berakrab ria dengan mereka berdua, kecuali aku. Mungkin karena aku agak-agak menyukai tipe wajah Léonard yang menurutku mirip seperti mantan kecenganku waktu SMP dulu.

    Oke, aku tidak akan membahas Simon dan Léonard yang jelas-jelas tidak tertarik pada perempuan untuk dijadikan pacar. Ada dua pria di kelas yaitu Etienne dan Flavien yang naksir berat Conchita. Sisanya kau tahu naksir siapa? Sédé? Salah besar, dan kemungkinan Sédé juga tidak peduli jika dirinya tidak ditaksir pria Prancis. Menurutnya, hati pria Prancis itu terlalu gemulai dan gaya bicara mereka terlalu berbunga-bunga jika sedang merayu. Sédé tidak suka keromantisan semacam itu. Sédé hanya bisa horny jika ketemu pria-pria Amerika yang funky, yang banyak sliweran di Sorbonne, yang saling menyapa ‘hi, dude!’ atau ‘wassup, Pal!?’ pada sesama teman Amerika mereka. Yeah! Cowok-cowok di kelas itu, naksir aku! Oh là là! Aku eksotis, begitu kata mereka. Jelas, aku agak-agak kaget. Selama di Indonesia aku selalu dihadapkan pada kenyataan bahwa pria-prianya punya definisi seragam mengenai perempuan cantik yaitu yang mempunyai postur tubuh tinggi semampai, seksi, berdada massive, berkulit putih bersih, rambut panjang hitam tergerai, plus berwajah sedikit indo. Sedangkan cewek yang berkulit sawo kematengan seperti aku ini, tidak akan masuk kriteria mereka.  Sedangkan disini justru sebaliknya, pria-pria Prancis modern cenderung menyukai cewek dengan rupa seperti aku. Aku menduga selera ini muncul bersamaan dengan mencuatnya sosok Anggun yang dinobatkan jadi diva internasional setelah bertahun-tahun malang melintang mewujudkan mimpi di tanah Prancis. Terusterang, ini agak sedikit menganggu belajarku.

Bagaimana tidak? Ada Jérôme Barthélemy yang sering mengajak pulang bareng dan kadang sekalian mengajak makan malam. Besoknya, André Naud mengajak nonton film di UGC. Dua hari kemudian, si hitam manis Fabrice Duval ngajakin nongkrong berjam-jam di depan Musée du Louvre. Will Smith made in France itu mengajakku melihat para seniman jalanan beraksi mempertontonkan performance art mereka di sekitar museum. Lalu ada si Damien Salvan yang mengajakku berayun-ayun memeluk senja di haluan bâteau mouche, yang agresif mencumbu La Seine dan aku selalu menolak ketika dia berusaha meniru gerakan perahu wisata itu ketika menciumi riak sungai. Yeah, belum yang lain yang jika kuceritakan padamu, kau pasti bosan dan buru-buru meletakkan buku ini. Intinya, aku belum pernah disukai banyak lelaki seperti sekarang! Gawatnya, aku tidak mampu menolak ajakan mereka meskipun belum satupun dari mereka yang menarik perhatianku. Aku hanya ingin menikmati kondisi ini, aku shock culture dan kehilangan konsentrasi belajar !!


Selain itu, aku merasa bahwa ilmu Sejarah bukanlah jalan hidupku. Di kelas, aku berjalan di jalur lambat, sementara yang lain berjalan di jalan tol. Ngebut. Seringnya aku duduk di belakang dan menganut paham ‘observe from behind better than talk”, sebuah dalih yang amat canggih tentunya untuk penyangkalan ketidakmampuan otak mengikuti pelajaran yang berlangsung sangat cepat, dinamis dan menabrak benda-benda lambat seperti aku ini. Aku merasa tidak lebih dari seorang penonton daripada mahasiswa jurusan Sejarah. Aku tidak pernah menunjuk tangan untuk menjawab, tidak pernah bertanya karena tidak tahu apa yang akan kutanyakan, tidak pernah terlibat diskusi atau debat canggih dengan teori. Inilah yang kusebut petaka. Genap satu semester, diam-diam aku stres dan rasanya tidak sanggup melanjutkan kuliah. Yang aku tahu dulu, ilmu Sejarah sangat mudah dan banyak diremehkan oleh manusia-manusia di negeriku Indonesia, bahkan tak jarang sejarah itu diabaikan.

Aku ingat ketika kelas 1 SMA dulu, guru Sejarahku selalu dilecehkan keberadaannya oleh teman-teman sekelas dan punya julukan ‘Patih Gajah Mada’ karena badannya yang tambun dan wajahnya lebar mirip dengan ilustrasi patih Majapahit itu di buku paket. Parahnya, guruku itu sering dikerjai murid-murid di kelasku. Padahal kupikir-pikir, guru sejarahku itu baik, sabar dan tidak pernah marah walau murid-muridnya tidak serius mengikuti pelajarannya. Seandainya teman-temanku tahu, ilmu Sejarah menjadi tidak mudah ditangan Sorbonne, seandainya mereka tahu dosen-dosen di sini semuanya serius, tegas dan killer. Aku pernah disemprot Profesor Marc Blancpaïn dan dikatai idiot di depan seluruh mahasiswa gara-gara aku tidak bisa membedakan antara Catherine de Médicis dan Marie Antoinette. Di kelas, aku menulis tapi tidak tahu apa yang kutulis sehingga catatanku tidak lebih dari coret-coretan aneh hasil melamun dan begitu kelas usai, aku lari-lari melobi Irène agar mau meminjamkan catatannya. Kuberitahu, meminjam catatan dari Irène, membuatku seperti Tony Blair yang sedang membujuk Ratu Elizabeth untuk berpidato menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Lady Diana. Angkuh, alot tapi berkelas. Butuh sejam untuk merayunya agar mengeluarkan bindernya dan menyerahkan padaku. Itupun dengan persyaratan super ribet seperti jangan tercoret, jangan basah, jangan terbolak balik halamannya, jangan lebih dari 1X1 jam. Intinya, meminjam catatan dari Irène adalah sebuah proses negosiasi penuh nuansa diplomasi. Dia selalu bertanya siapa saja yang akan memfotokopi catatan itu, siapa yang akan membawa bindernya ke tempat fotokopian. Salah menjawab, catatan itu batal kupinjam. Secara tegas aku bilang bahwa hanya aku yang akan fotokopi dan membawa sendiri binder itu ke tempat fotokopian. Jika aku jawab begitu, senyumnya mengembang dan keluarlah catatan sakti itu dari tasnya.


“Jangan sampai difotokopi pasangan homo itu, ya” katanya merujuk pada Simon dan Léonard. Aku mengangguk mantap dengan sedikit sikap diplomatis. Kau tahu inti dari ceritaku ini? Betapa indahnya dipercaya seseorang.

Baiklah, aku akan buat pengakuan bahwa tadinya aku bangga bisa lulus tes dan masuk Universitas Sorbonne. Aku bangga dan sempat menganggap diri pintar. Siapa yang tidak bangga coba? Seorang anak yatim dari Indonesia, yang berangkat dengan bekal bahasa Prancis seadanya, bisa tembus universitas beken di Eropa. Tapi, Ilmu Sejarah telah melemparkanku pada realita yang sebenarnya dan menghempaskan kebanggaan yang baru saja kuraih itu dari lantai empat gedung Sorbonne, terlempar ke rue des Écoles di bawah sana lalu tergilas mobil. Ohya, tidak berlebihan jika aku berpikir, aku putus asa. Hariku kuisi dengan rutinitas kuliah dari pagi sampai hampir setengah lima sore dilanjutkan dengan mengerjakan tugas dan berkutat di perpustakaan sampai malam. Pagi harinya, aku bangun sembari mengumpulkan semangat yang berserakan dimana-mana.

Sementara aku terbirit-birit mengejar ilmu seperti itu, aku menyaksikan teman-teman Prancisku santai sekali, tidak pernah belajar tapi nilai mereka bagus-bagus. Mereka mampu menghapal buku-buku teks yang tebalnya lebih dari 300 halaman. Tak hanya buku teks berbahasa Prancis, segala buku baik yang ditulis oleh profesor dari Inggris maupun Amerika tentang sejarahpun mereka lahap semuanya. Sedangkan aku, bisa memahami catatan Irène yang super lengkap itu saja sudah bagus.

Dengan apa yang aku alami ini, aku berkesimpulan, sejarah itu rumit, sejarah itu kompleks. Setiap detil dari sejarah itu membentuk kita seperti sekarang ini dan karena itulah dia tidak mudah.



12
DOUZE

    La vie est un long fleuve tranquille..Hm, Andai saja hidupku  seperti ungkapan yang dijadikan judul film oleh Etienne Chatiliez itu ya..*menghayal*
Nyatanya tidak!!
Jika kehidupan laksana  sungai panjang yang tenang tanpa riak, tanpa gejolak, apakah kau pikir itu hidup yang sebenar-benarnya hidup??

Suatu malam, ketika asyik berbaring sambil mempelajari catatan kuliah Histoire de l’Art et de l’Archéologie  hasil fotokopian dari Irène, seseorang menggedor pintu kamar disertai teriakan yang kuduga itu suara Françoise. Aku membuka pintu.

    “Julie, apa kau yang mengambil blus biruku?” tanyanya, tanpa tedeng aling-aling, sambil berkacak pinggang dengan mata yang melotot.
    “Excuse me!” kataku, dengan intonasi seperti Sédé biasa membentak jika diganggu cowok jahil di kantin.

Kau tahu, aku mulai tertular gaya Amerikanya si Sédé, terutama untuk menghadapi manusia sengak bernama Françoise ini. Oh! Wajar aku kesal. Bukan kali ini saja dia mencari barang-barangnya dengan bertanya padaku. Menurutku itu adalah alih-alih untuk menuduhku memakainya atau menyimpannya. Waktu itu dia menanyakan sepatu kets, kemudian pita, jepit, yang akhirnya dia sendiri yang menyadari kalau dia yang kelupaan menyimpan dimana. Tuduhannya padaku kemarin-kemarin tidak beralasan dan tidak terbukti samasekali. Kali ini dia menuduhku apa lagi? Blus biru? Tolong, deh! Tanpa kupersilahkan, Françoise masuk begitu saja ke kamar.

    “Kali ini aku pasti benar” gumamnya sembari mengobrak abrik lemari pakaianku.
    “Hey, Miss! What are you doing?” tanyaku dengan bahasa Inggris. Masa bodoh dia mau menjawabku atau tidak.  Ini sudah keterlaluan. Kutanya pendapatmu, bagaimana jika ada orang yang nyelonong masuk kamarmu tanpa ijin? Françoise menarik sebuah blus biru dari dalam lemari dengan ekspresi wajah yang menunjukkan jika anggapannya benar.
    “Ini maksudku!” ujarnya mengacungkan baju biru lengan panjang itu. Dengan sikap jumawa seperti seorang pemburu yang bangga berfoto dengan harimau lunglai hasil tembakannya, Françoise menghampiriku sambil menenteng bajunya.
“Aduh Julie, Julie...! Kau itu orang baru disini. Apa tidak malu orang baru sudah berani mengambil barang milik orang lain?”
    “Aku tidak mengambilnya!”
    “Tapi ini buktinya!”
    “Mungkin Évelyne yang salah menaruh baju itu. Dikiranya itu milikku. Kau tahu kan, ukuran badan kita hampir sama”
“Tu dis quoi ? Évelyne yang salah? Ce n’est pas logique ! Asal kau tahu, ya, dia bertahun-tahun kerja disini dan tidak pernah berbuat kesalahan kecuali ada orang yang tertarik dengan blusku ini dan mengambilnya”

Aku geram. Kupikir tindakan Françoise sudah keterlaluan dan harus dilawan. Oke, selama ini aku jadi anak baik dengan sikap diamku karena aku tak mau cari masalah. Aku capek! Aku tidak mau dijajah terus-terusan seperti ini. Kesabaranku sudah sampai pada titik tertinggi dan aku merasa aku siap untuk meledak. Aku tidak peduli lagi apa yang akan terjadi jika kini aku melawan Françoise. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin marah karena aku juga bisa marah!

    “Dengar ya Françoise, aku bukan maling! Aku tidak pernah menginginkan bajumu itu. Kalau mau, aku bisa membelinya sepuluh biji di mall La Fayette dari uang tabunganku. Aku hanya tidak suka pamer seperti kamu. Selama ini kau sangka siapa yang membiayai kuliahku, hein ? Papamu? Bukan Françoise, bukan! Aku yang membiayai kuliahku sendiri! Jadi jika kau menganggapku tidak punya uang dan menuduh mengambil blusmu itu, kamu salah!!”
Darahku mendidih.

    “Aku tidak peduli siapa yang membayari kuliahmu. Aku hanya bicara bukti. BUKTI! Kau lihat kan, bajuku ada di lemari bajumu! Itu tandanya kamu menginginkannya! Kamu maling!”
    “Tidak!!”
    “SI!!”
    “NON!!”
    “Ada apa ini? Hein, Ada apa!?” seru maman, yang tiba-tiba sudah berdiri di pintu kamar. Menyusul di belakang maman... Sébastien. Oh! Ya, semua orang jadi tahu sekarang: Disini ada pertengkaran. Françoise, secara emosional menjelaskan pada maman, dengan bahasa Prancis yang super cepat dan seketika raut wajah maman berubah. Aku menduga, maman percaya. Tanpa penjelasan super panjang dari gadis judes itupun kurasa maman pasti percaya padanya.
Iya, padanya. Bukan padaku.
    “Tidak, tidak begitu, Maman. Aku bisa jelaskan”
    “Dia menyalahkan Évelyne kita, Marie. Kau tahu sendiri kan Évelyne tahu ketika aku mencoba-coba baju ini di depan dia sewaktu baru kubeli dulu. Jadi mana mungkin dia mengira ini bajunya Julie!” teriak Françoise. Pernyataan itu makin membantingku  ke sudut.
    “Sudah kau keluar sana, Françoise. Aku yang akan menyelesaikan ini dengan Julie”

Dengan raut wajah tak puas, Françoise keluar kamar sambil mengomel panjang lebar. Kulihat Séb masih diam saja. Terusterang aku ingin sekali dibela olehnya di depan Françoise tadi, tapi sayang hal itu tidak dilakukannya. Secara imajinatif, aku menjitak kepalaku sendiri. Bodoh sekali kau Julie! Bisa-bisanya berharap dibela oleh kakak tiri. Mana ada sih orang yang mau membela adik tirinya yang sedang berseteru dengan adik kandungnya sendiri? Ah ya, aku memang bodoh sekali. Tapi aku ingin jika dia tidak membelaku, minimal dia tidak percaya pada adiknya. Mudah-mudahan dia percaya aku. Oh, seandainya Séb percaya Françoise, siapa lagi yang mempercayai aku di rumah ini?

    “Jadi Maman percaya apa yang dibilang Françoise?” tanyaku lirih. Bibir mamaku mengatup tanda bingung.
    “Aku hanya percaya bahwa sebelum kau ada disini, tidak pernah ada kejadian seperti ini” jawab maman.
    “Jadi..maman setuju pada Françoise, bahwa aku adalah seorang maling?”
    “Marie..” akhirnya Séb buka suara. Kulihat maman  yang tadinya menunduk spontan mendongak dan menatap putra tirinya itu dengan penuh perhatian. Seketika aku sadar wibawa yang dimiliki Sébastien di mata ibuku ini. Apa pendapatnya mengenai pertengkaran kami tadi? Aduh, mudah-mudahan dia tidak membela adiknya.

“Pikir pakai logika; Sebelum Julie datang, Françoise adalah anak perempuan satu-satunya. Sendirian. Tapi sekarang ada Julie, bisa saja Évelyne benar-benar lupa dan mengira baju itu milik Julie” kata Séb.
Oh! Aku hampir menjerit. Séb percaya aku! Terimakasih Tuhan, Kau mendengar doaku. Maman diam dan kali ini wajah itu tampak lebih tidak berdaya lagi. Aku duduk di sudut, terpekur. Tiba-tiba aku lebih menyukai keadaan kemarin dimana Françoise hanya membenciku karena aku tidak berkenan di hatinya daripada aku dituduh sebagai maling seperti hari ini. Tanpa kusadari airmataku sudah tumpah begitu saja, meski mati-matian aku menahannya.
Aku terisak-isak.

    “Jadi kau lebih percaya Françoise daripada Julie dan membiarkan masalah ini selesai tanpa diketahui siapa yang salah, Marie?” tanya Séb.
    “Aku hanya ingin semuanya damai, jangan ribut-ribut dan kuharap Alain tidak tahu masalah ini karena dia sudah cukup pusing di pekerjaannya” jawab maman.
    “Jawaban itu tidak relevan, Marie. Aku bertanya, apa kau lebih suka keadaan ini, dimana Julie jadi tersangka atas hilangnya baju Françoise dan membiarkan status maling dalam diri Julie melekat selama-lamanya di benak Françoise?” tanya Séb kali ini lebih tegas. Maman diam saja.
    “Oke,” Séb menarik tanganku “aku akan ajak Julie pindah ke apartemenku saja. Dia berada disini bukan untuk dituduh  pencuri. Ayo Julie kemasi baju-bajumu, kau akan tinggal bersamaku”
    “Jangan, Séb, aku mohon. Nanti kalau Alain tanya, aku harus jawab apa?”
Séb tidak peduli meski maman memohon-mohon. Rupanya Séb tidak seperti papanya yang gampang termakan aksi maman ketika memohon-mohon kayak gitu. Dia membantuku mengambil beberapa barang kemudian menarikku ke bawah. Aku turun tergesa-gesa dan kau tahu?, aku sedang tidak ingin memikirkan apa-apa lagi. Ternyata fatal sekali efek dari sebuah rasa kecewa. Yeah, aku tentu kecewa sekali dengan sikap maman terhadapku tadi yang terkesan berat sebelah.
**


13
Treize

From: Juliechantique@flexymind.com
To: naro_naruto@handsomeboy.com
Subject: akhir musim gugur yang menyedihkan

Dear Naro,
Aku sudah tahu rasanya dibenci dan itu sudah biasa. Kemarin Françoise menuduhku mencuri bajunya dan kini aku tahu, bahwa dibenci lebih baik daripada dibilang maling 

From: naro_naruto@handsomeboy.com
To: Juliechantique@flexymind.com
Subject: Re: akhir musim gugur yang menyedihkan

Julie, kau pasti akan bilang pernyataan ini klise, tapi sekali lagi kuingatkan bahwa: kemenangan akan memihak pada orang yang sabar. Jalan-jalanlah keluar and find your trully friend. Sorry, jika aku tidak bisa menghiburmu lebih dari ini...
Wish all the best from far!
~narotama rahardian~

Pulang dari kampus, aku berjalan menyusuri quai de la Tournelle sambil sesekali melihat keatas, memandangi pohon-pohon Oak yang meranggas dimakan musim gugur. Pohon-pohon Oak itu melambaikan ranting-ranting kurusnya seakan hendak berucap, nikmati keindahan ini sebelum salju-salju menutupi pandanganmu. Aku turun, tepat ke pinggiran sungai Seine dan bergabung dengan orang-orang yang sudah duluan ada disana. Sambil duduk disalah satu bangku di bawah pohon, aku melihat riak-riak kecil sungai Seine yang ditimbulkan angin dan riak yang besar ketika bâteau mouche  melintas. Dari tempatku duduk, di sebelah kananku terlihat jembatan Tournelle yang tidak begitu ramai dan ketika menoleh ke kiri, aku bisa melihat Nôtre Dame. Gereja gothic itu berdiri megah di île de la cité, pulau kecil yang bertengger di tengah sungai Seine. Aku belum pernah berwisata ke gereja itu. Mungkin nanti.

Bantaran sungai di sepanjang sungai Seine adalah satu pilihan dari ratusan tempat di Paris untuk nongkrong sendiri atau dengan orang-orang terdekatmu. Nongkrong disini tentu beda dengan nongkrong di tepi sungai Ciliwung, meskipun di bagian Ciliwung yang terpelihara seperti di Pasar Baru. Quai de Seine atau pinggiran Seine adalah wisata dalam kota yang murah meriah dan bisa memberikan sensasi damai yang luar biasa. Disaat suntuk di rumah, kau bisa pergi kesini. Melamun, merenung, membaca buku, tidur-tiduran atau tidak melakukan apa-apapun boleh-boleh saja. Seperti aku sekarang ini, yang sedang tidak mood pulang ke rumah memilih untuk melamun disini. Yeah, kau tahu, aku sedang ada masalah dengan Françoise, bahkan dengan maman, juga belakangan dengan Alain. Oh, aku tentu menyadari bahwa aku sudah buruk di mata Alain yang akhirnya tahu masalah baju Françoise. Masalah bertambah besar ketika kurator museum itu tahu aku tinggal sekamar dengan putranya, Sébastien.

    Alain pulang dari tugas luar kotanya, di hari kedua aku tinggal di apartemen Séb. Tidak seperti dugaanku kalau Alain pasti akan marah atau menegurku. Lelaki itu justru tidak menunjukkan reaksi apa-apa, hanya jika bertemu denganku, sikapnya lain sekali. Dingin. Aku jadi salah tingkah. Berhari-hari, Alain mendiamkan aku, tidak mengucap satu patah katapun padaku. Suatu hari di sebuah makan malam yang hanya dihadiri maman, Alain dan aku, akhirnya semua terungkap.

Alain, suami ibuku itu menatapku dengan tatapan orang kecewa, kemudian dengan intonasi datar dan dingin dia berkata:
“Julie, sebagai keturunan orang Timur, harusnya kau sadar jika tinggal sekamar dengan seorang pemuda yang belum kau nikahi adalah hal yang melanggar adat dan norma ketimuranmu, bukan begitu? Kita ini orang beradab, berpendidikan, jangan kau kira kami berkulit putih, berambut pirang dan berbangsa Prancis kami tidak tahu adab kesopanan juga. Biarlah itu terjadi dengan orang lain, jangan dengan keluargaku” tukasnya, dan itu membuatku sangat malu. Saat itulah baru aku sadar bahwa aku dan Séb hanya kakak-adik tiri. Mereka, maksudku maman dan Alain pasti sangat mengkhawatirkan kami berdua. Ya ampun, aku tidak menyangka jika sikapku yang reaktif kemarin dengan mengikuti saran Séb tinggal di apartemennya menimbulkan protes sedemikian tajam dari Alain. Ya, kurasa imejku makin buruk saja di mata lelaki setengah baya itu.
Ketika Séb pulang kuliah, aku langsung mendiskusikan ini dengannya.
    “Bagaimana menurutmu, Séb? Apa aku harus pindah lagi kesana?” tanyaku menunjuk bangunan depan.
    “Apa kau bisa menjamin jika kembali kesana, kau akan hidup tenang?”
    “Tu veux dire  ?”
    “Maksudku, kau kesini untuk kuliah, untuk mengejar cita-citamu. Jika suasana rumah tidak kondusif seperti itu, aku ragu kau bisa belajar dengan tenang”
    “Jadi saranmu apa?”
    “Tetap tinggal disini, jangan pedulikan mereka!”
    “Kau gila! Dengan aku bertahan disini, sama saja aku menciptakan jurang buatmu dan keluargamu. Non. Setelah aku dibilang pembawa masalah, dibenci, dibilang maling, sekarang aku tidak mau lagi dituduh pemisah anak dengan orangtuanya. Cukup Séb, cukup. Aku ingin tenang. J’en ai assez !!”
Séb memegangi tanganku berusaha meredakan amarah yang ingin kukeluarkan.
    “Aku akui, papa memang orangnya konvensional dan aku maklum dengan pemikirannya. Tapi, jika kita berdua berfikir tidak akan terjadi apa-apa diantara kita, niscaya tidak akan terjadi apa-apa. Kau percaya itu?”
Aku diam, seperti tidak yakin kalau tidak akan terjadi apa-apa antara aku dan Séb. Mungkin Alain bisa melihat apa yang tidak bisa kami lihat. Yeah, Alain benar menurutku.
    “Aku akan cari apartemen, dan pindah dari sini saja” tukasku.
“Jika kau pindah dari sini, bagaimana aku bisa melindungimu?”
    “Kenapa kau harus repot-repot melindungiku? Kau hanya kakak tiriku” kataku sinis.
    “Julie, maafkan aku! Aku memang hanya kakak tirimu, tapi apa salahnya kalau aku ingin melindungimu. Sorry, aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja. Terserah kau sendiri mau bilang apa”
    “Merci beaucoup!”
    “Julie, aku tidak bisa melepaskanmu....Aku...” Séb menggantung kalimatnya, seolah menelan kata-katanya sendiri. Kelimpungan. Maafkan aku, Séb, aku tetap akan pindah. Kukira kau pasti sudah mengerti alasannya.   

Di tepi sungai Seine, aku merentangkan tangan, menarik napas panjang, berharap angin sungai membawaku lepas dari segala masalah. Aku membuang napasku dan berkata bodoh. Selama hidup, manusia tidak akan lepas dari masalah kecuali dia ingin mengakhirinya dengan cara terkutuk. Semalam aku berpikir untuk mencari apartemen yang kecil-kecil saja. Yeah, kurasa aku adalah beban bagi maman dan keluarga Riquet. Sementara untuk kembali ke Indonesia kurasa lebih tidak mungkin lagi untuk saat ini. Aku sudah setengah jalan dan kalaupun pulang ke Indonesia harus membawa ijasah Sorbonne. Mungkin dengan pindah apartemen dan hidup sendiri, aku jadi lebih bisa konsentrasi belajar.

    “Satu kaleng Coca Cola, daripada kau bunuh diri lompat ke Seine” seru seorang gadis yang kuhapal benar suaranya, meletakkan kaleng cola dari Amerika itu ditanganku.
    “Dan satu bungkus sandwich supaya kau lupa persoalan hidup” seru suara satu lagi, seraya meletakkan sebungkus sandwich hangat di pangkuanku. Itu dua orang sahabatku di kelas, Sédé dan Mathieu!
    “Colanya aku terima, merci dan maaf aku sudah kenyang, Monsieur. Merci de toute façon” kataku, mengembalikan sandwichnya.
    “Ya sudah, untukku saja kalau begitu” kata Mathieu sambil melahap sandwich itu. Aku tertawa. Yeah, didepan teman-temanku ini, persoalan hidup seakan menguap begitu saja. Kadang aku ingin seperti Sédé yang hidup ala Bohemian kaya yang menclok sana sini sambil berjualan lukisan hasil karyanya atau seperti Mathieu anak rumahan yang hidup dengan damai, aman dan sentausa dengan uang seadanya saja. Entah mana pilihan yang ideal tapi menurutku, kedua temanku ini adem-adem saja hidupnya.
    “Guys, aku ingin mencari apartemen. Aku ingin keluar dari rumah” kataku, melempar isu.
    “Good, gal! Sudah waktunya. Kau hampir 18 tahun. Harus mandiri, dong!” Sédé mengompori.
    “Alasannya bukan karena kau menyerah pada Françoise, kan?” tanya Mathieu. Oh, tentu saja mereka juga tahu masalahku di rumah, selain Sébastien dan Narotama.
    “Atau menyerah pada Sébastien?” tanya Sédé menggoda. Mereka berdua ketawa bareng. Astaga, mereka mulai bergosip. Dua temanku ini sudah kenal Séb. Aku pernah mengajak Séb dan mengenalkannya pada Sédé dan Mathieu di kampus ketika ada acara perkenalan wisata dan budaya Afrika Selatan. Ketika melihat Séb, naluri kewanitaan Sédé bilang bahwa kakak tiriku itu menyimpan rasa cinta untukku.

Jelas kutampik pernyataan itu. Mana mungkin Sébastien menyukaiku! Itu pernyataan bodoh yang pernah kudengar. Ngawur banget! Wanita pujaannya, Claudine, yang pernah tinggal berseberangan dengan kamarnya dulu, digambarkannya setipe dengan Chloë Sevigny. Mantannya, si Claire yang memutuskannya di la Pyramide dulu itu, tak kalah cantik dan seksinya dengan Sophie Marceau. Kau tahu kan maksudku? Mana mungkin perempuan bertampang Asia seperti aku masuk kriteria cewek pilihannya? Benar-benar ngawur deh! Tapi aku tertawa saja digoda seperti itu dan jujur, aku senang perasaanku dikait-kaitkan dengan Séb. Ada lonjakan yang membuncah disudut hatiku ketika nama Séb disebutkan orang lain.

    “Bukan. Bukan karena Françoise, bukan karena Séb. Aku memang ingin keluar saja dari rumah itu. Kupikir sudah saatnya aku mandiri. Di Indonesia, aku sudah biasa dididik almarhum papa untuk hidup mandiri tanpa mama. Jadi kurasa, aku bisa. Tolong carikan aku apartemen yang murah, dong” kataku.
Sédé dan Mathieu mengangguk-angguk.

    “Asal kau tahu saja cara membayar sewa apartemennya dan biaya hidupmu sehari-hari” kata Sédé. Benar juga. Tapi itu sudah kupikirkan, kok. Aku masih punya simpanan uang dari papa dan aku sudah berencana mencari kerja untuk biaya hidupku sehari-hari. Kulihat banyak teman-teman yang kuliah sambil bekerja dan kurasa disini itu hal yang wajar. Bekerja full time atau sebagai tenaga freelancer terbukti bisa menghasilkan banyak Euro dan biasanya mereka gunakan untuk bersenang-senang saat liburan ke pantai-pantai di selatan Prancis. Di Indonesia fenomenanya juga sudah mengarah kearah sana, banyak mahasiswa yang mencari uang sambil kuliah. Itu aku tahu dari Naro ketika kuceritakan hal ini.

    “Ok, don’t worry, Pal. You can count on us. Akan kucarikan apartemen yang dekat kampus supaya kau tidak keluar ongkos lagi naik metro” kata Sédé.
    “Oh, merci beaucoup, Séd”
    “Dan akan kubantu mencari pekerjaan. Ohya, kau mau jadi pelayan kafe?” tanya Mathieu.
    “Pas de problème! Apa saja asal halal” kataku, mengangguk senang.

**

14
Quatorze
   
“APAAA??”
Maman, Sébastien dan Didier kaget mendengar rencanaku pindah ke apartemen. Yeah, semuanya, kecuali Alain dan Françoise. Malah, perempuan ABG itu tidak peduli, pura-pura tidak dengar dan asyik menyantap makan malamnya. Tapi dibalik kecuekan sikapnya itu, aku merasa dia senang mendengar berita ini.
    “Kau serius?”
    “Kau mau pindah kemana?” tanya maman.
    “Entahlah. Temanku yang akan mencarikan apartemennya” jawabku “Kurasa Alain benar. Jika aku sudah tidak bisa tinggal disini lagi, sebaiknya tidak tinggal bersama Séb dan harus pindah apartemen”
    “Kau bilang begitu, Alain?” tanya maman dan spontan Alain tampak sedikit salah tingkah.
    “Euh, maksudku tidak seperti itu, Julie. Aku hanya tidak ingin kau satu kamar dengan Séb. Tempat tinggalmu disini dan aku bilang kemarin itu bukan untuk mengusirmu”
    “Astaga...” maman menutup mulutnya.
    “Aku akan jelaskan, Marie...” Alain tergeragap.
    “Biar saja, jangan halangi Julie untuk pindah” kata Séb, tiba-tiba membuatku sedikit terkejut. Bukannya dia yang selama ini paling getol mempertahankan aku di rumah ini? Hey, ada angin apa ini? Kenapa sekarang dia setuju aku pindah?
    “Merci, mon frère !” bisikku.
    “Aku harap ini bisa membuat Françoise puas” lanjut Séb lagi “Ingat Françoise, Julie lakukan ini agar kau tidak ada alasan lagi berbuat nakal karena frustrasi di rumah!”
Françoise meletakkan sendoknya dan menatap Séb tajam. Oh, jangan mulai lagi dong, gumamku.
    “Seandainya Françoise tetap membuat masalah, kuharap Papa dan Marie tidak akan menyalahkan Julie karena membawa masalah di rumah ini” tukas Séb lalu berdiri meninggalkan meja makan.
    “Excusez-moi..” pamitnya, lalu keluar rumah menuju apartemennya. Semua kembali melanjutkan makan malamnya masing-masing dan aku melihat Alain dan maman saling bertatapan seperti ingin mengutarakan sesuatu tapi terpendam. Oh, Tuhan, semoga mereka tidak bertengkar gara-gara masalah ini. Justru aku ingin keluar dari sini agar semua damai, seperti yang selalu dikatakan maman.

Malam belum larut ketika kudatangi kamar Séb yang masih menyala. Dia belum tidur dan tampak sedang serius mengerjakan tugas kuliahnya. Kamarnya seperti biasa, berantakan, penuh dengan kertas-kertas bertebaran berisi catatan kuliahnya dan notasi-notasi lagu. Selain berotak cerdas karena bisa tembus Sciences Po, Sébastien juga seorang seniman yang pintar mencipta lagu. Salah satu karyanya pernah di ‘pentaskan’ di depanku judulnya “L’homme qui n’a jamais vu la lune” atau “Lelaki yang tidak pernah melihat rembulan”. Kata-kata dalam lagu itu menyentuh, bercerita tentang seseorang yang baru pertama kali merasakan cinta sejati, tapi sayangnya cinta itu justru melukainya. Pasti inspirasinya didapat dari pengalaman pribadi Sébastien dengan wanita-wanita yang pernah jadi kekasihnya. Menurutku, Sébastien berpotensi untuk menjadi artis. Lagunya bagus, suaranya merdu dan wajahnya enak dilihat. Seandainya dia tinggal di Indonesia, pasti banyak produser yang tertarik mengorbitkannya. Lembar demi lembar, kukumpulkan kertas-kertas itu dengan hati-hati dan bermaksud kuletakkan di sudut, dekat gitarnya. Tiba-tiba mataku tertumbuk pada salah satu kertas notasi di lantai. Disana, ada salah satu lagu judulnya “La soeur” artinya saudara perempuan. Alisku berkerut dan penasaran ingin membaca isi syair itu.

    “Taruh saja semua kertas itu di sudut dan terimakasih atas bantuannya, Julie.” kata Séb membuatku kaget dan urung membaca syair itu. Buru-buru kutaruh semua kertas disudut dekat gitar. Aku jadi salah tingkah.
    “Séb, aku kesini sebenarnya mau bilang terimakasih, karena kamu sudah membela dan mendukungku di depan Alain dan maman. Kau tahu kan?, keputusan pindah ini tidak kubuat dalam semalam dan sudah kupikirkan betul”
Séb menghampiriku, kemudian mengajakku duduk ditepi kasurnya.
    “Julie, aku harap kau tidak menyesal. Kau jauh-jauh pindah ke Prancis dan ternyata perlakuan seperti ini yang kau dapatkan. Kau pasti tidak menduganya samasekali, kan?”
Aku menggeleng. Kelu. Kenapa harus ada penyesalan?
    “Aku tidak menyesali keputusanku pindah ke Prancis dan---- aku sudah lupa bahwa tujuanku kesini untuk melaksanakan wasiat papa. Séb, kau tahu?, aku punya cita-cita sekarang, aku punya tujuan! Aku belajar banyak dari impian Yun San. Aku ingin lulus dari Sorbonne dan mendapat ijasah dari universitas itu”
Kutarik napas panjang,
“Aku ingin belajar keras, aku ingin sukses kuliah! Selain itu aku tidak ingin lagi mengusik keluarga ini, tidak mengusik ketenangan Françoise, ketenanganmu, Alain, maman, juga Didier. Kurasa satu-satunya cara adalah pindah dari sini. Aku ingin mandiri. Ya, aku ingin berusaha sendiri”
    “Julie, kau adalah gadis terbodoh yang pernah aku kenal” kata Séb, lalu tersenyum kecil, tangannya mendekati kepalaku dan mulai mengusap lembut rambutku, “Tapi kau juga gadis terpintar dan paling tabah yang pernah kukenal. Terusterang aku kagum padamu. Tidak mudah hidup seperti yang kau alami dengan umur semuda ini”
    “Aku sudah kehilangan kasih sayang mama, sejak umur 6 tahun dan kehilangan papa di usia 16 tahun. Tidak ada alasan bagiku untuk jadi anak manja” kataku lirih.
    “Yeah, kehidupan semacam itulah yang membuatmu bodoh, sekaligus pintar” kata Séb lirih, kemudian tersenyum lagi.
Aku ketawa mendesis. Mentertawai hidup yang aneh ini. Anak yatim yang pergi jauh mencari perlindungan ibu kandungnya, tapi kemudian ingin melepaskan diri begitu saja. Lebih parahnya, ibu kandungnya itu lemah, tak berdaya dalam cengkeraman sebuah kekuatan yang tak kasat mata. Hanya maman dan Tuhan yang tahu alasannya kenapa dia tidak membelaku.
    “Ya, sudah. Aku kesini hanya mau bilang terimakasih saja, kok”
    “Terimakasih juga sudah membereskan kamarku. Kapan kau mau pindah?”
    “Awal musim semi. Nanti bantuin aku mengangkut barang-barang, ya?”
    “Tidak mau! Emangnya aku kuli” katanya acuh. Aku tahu dia menggodaku, makanya, hadiahnya adalah lemparan bantal yang super keras ini. Ugh! Rasain!
    “Aww!” jerit Séb dan membalas memukulku dengan bantal yang lain. Kami main pukul-pukulan bantal dan tertawa bersama.
    “Julie, kau tahu? Aku akan kehilanganmu karena tidak ada lagi yang membereskan kamarku!” teriaknya keras, tak peduli malam yang telah larut dan kemungkinan menganggu penghuni lain.
    “Aku tahu! Aku tahu! Rasakan itu, Sébastien jelek!!” balasku, tak kalah kerasnya. Séb menimpa tubuhku dengan bantal hingga kepalaku nyungsep kebawah. Semakin aku teriak, semakin dia tertawa puas. Aku larut dalam canda dengannya. Ah, kurasa aku bukan saja larut, tapi sudah tenggelam kini. Tenggelam oleh perasaan yang ada di dada, yang enggan menguap keluar. Sejujurnya aku mengerti itu tapi lebih baik jika aku pura-pura tidak mengerti. Aku hanya ingin menikmati saja.


15
Quinze

Teman-temanku senang sekali membicarakan tentang dimensi waktu. Obrolan tidak serius namun dibuat seolah serius itu terjadi di kafetaria kampus ketika kami makan siang bersama. Simon dan Léonard terobsesi dengan trilogi “Back To The Future” dimana tokoh utamanya Doctor Emmet Brown justru terobsesi dengan ide-ide gila Jules Verne, penulis Prancis yang terkenal dengan karyanya ’80 days around the world’. Mathieu suka sekali dengan dimensi waktu ala film “Slidding Door” yang dibintangi Gwyneth Paltrow. Sedangkan Sédé dan Conchita senang dengan serial Amerika “Slide” dan film “The Time Machine”. Singkatnya, mereka terkagum-kagum dengan ide dimensi waktu yang memungkinkan seseorang terlempar ke suatu masa yang lampau atau yang akan datang.

“Aku ingin tahu, seperti apa diriku ini di abad 18” lontar Sédé.
“Atau di abad 25 nanti” timpal Conchita.

Ketika disuruh mengomentari diskusi, aku menjawab bahwa menurutku dimensi waktu itu terkait dengan keputusan apa saja yang kita ambil dalam hidup ini. Tiap detik kita akan selalu dihadapkan dengan berbagai opsi, berbagai pilihan jalan yang bercabang-cabang. Aku analogikan, seandainya kita punya 1000 pilihan jalan menuju ke suatu tempat dimana kita harus memilih 1 diantara 1000 jalan itu, hasilnya tentu akan berbeda dari 999 jalan yang tersisa. Aku setuju dengan semua ide cerita dalam film-film itu karena menurutku itu bisa membangkitkan imajinasi dan hiburan yang luar biasa menyenangkan. Kukatakan juga aku suka dengan pesan yang disampaikan film Slidding Door, yang karena berbeda 1 detik kejadian saja, sebuah keputusan yang kita ambil membuat kehidupan kita dan ‘kembaran’ kita sudah sangat jauh berbeda.

“Dapat kusimpulkan, dimensi waktu itu hadir akibat buah pikiran seseorang yang outputnya bernama keputusan. Jadi apa yang terjadi dengan kita sekarang, akibat keputusan kita dimasa lalu, atau apa yang akan terjadi dengan kita nanti, adalah hasil dari keputusan kita hari ini. Baik atau buruk hasilnya, itu adalah konsekuensinya, dimensi waktu yang kita pilih tetap harus kita jalani”

Sontak semua yang ada dimeja itu diam dan bengong mendengar jawabanku. Aku tidak akan menuduh mereka tidak mengerti atas apa yang kusampaikan karena aku bicara dalam bahasa Prancis. Tapi yang tidak kumengerti kenapa mereka sampai terpukau begitu.

Dan seperti yang kukatakan di depan teman-temanku tentang dimensi waktu, aku sadar sepenuhnya apa yang terjadi padaku kini, merupakan hasil keputusan yang melahirkan dimensi waktu yang baru dalam kehidupanku dan tentu saja mau tidak mau  harus kujalani.

Aku pindah tepat ketika salju-salju di Paris meleleh oleh kehangatan musim bunga. Hampir setahun sudah aku di kota ini dan keputusanku pindah ke apartemen membuatku seperti burung merpati yang lepas dari sangkarnya. Bebas dan merdeka. Inilah momentum paling menentukan dalam fase kehidupanku selanjutnya, sebuah turning point atau titik balik yang membuatku seperti terlahir kembali. Yeah, mungkin kau sudah maklum atas sifatku yang senang melebih-lebihkan sesuatu. Tapi percayalah, suasana hatiku menjadi lebih baik sekarang.

Kepindahanku di hari pertama ke apartemen yang baru hanya diantar Séb dan maman. Setelah  lima hari mondar mandir Mouffetard – apartemen, mengangkut barang dengan dibantu Sébastien, akhirnya di hari ke delapan ini, aku bisa bernapas lega karena sekarang kamar apartemenku sudah lumayan rapi.

Aku merebahkan diri ke kasur dan menatap langit-langit kamar. Yeah, hidup sendiri, bagaimana rasanya? Aku cek hapeku dan ada beberapa SMS dari teman-teman yang confirm soal kedatangannya. Kemarin aku meminta teman-temanku untuk datang malam ini ke apartemen karena aku mengadakan le crémaillère  dan Séb sudah janji mau memasak untuk acara itu.

    Jam lima sore, Séb sudah muncul di apartemen sambil membawa belanjaan persiapan pesta. Dengan sigap dia berlagak seperti koki profesional, memotong bawang bombay dengan cepat dan tipis, mengiris daging dengan gerakan seperti orang sedang akrobat, yaitu sebelum diiris daging dilempar-lemparkan, kemudian ditangkap di udara dan habislah daging itu diujung pisaunya, tersayat-sayat. Aku tertawa melihat tingkahnya yang kupikir sangat lucu. Aku tidak pernah tahu Séb bisa memasak tiba-tiba datang kesini dengan segala persiapan tempurnya menjadi koki dadakan. Dia memasak Veaux aux Champignon de Paris yaitu semacam tumis daging sapi dengan jamur Paris dan purée . Séb juga membawa sekotak macaroon, kue kecil yang terbuat dari campuran putih telur, gula dan tepung almond dibentuk seperti burger mini yang tengahnya dilapis bermacam-macam isi seperti krim, butter atau selai coklat, nanas atau rasberry.  Rasanya sangat enak dan lumer di lidah. Aku tahu,  macaroon yang dibawa Séb itu pasti dibelinya di Ladurée, resto di Avenue des Champs Elysées nomor 75. Ceritanya, aku pernah kesana bareng teman-teman sekelas dan pulangnya, aku cerita pada Séb bahwa aku jatuh cinta sama Ladurée karena macaroonnya. Waktu itu aku tidak percaya kata temanku yang bilang bahwa ‘kau akan merasakan surga begitu macaroon itu menyentuh lidahmu’. Ketika aku menyantapnya, aku langsung percaya, temanku itu tidak bohong.
Hm, yummy!! Jadi tidak sabar menunggu malam.

    Jam tujuh tepat, semuanya datang hampir berbarengan. Aku hanya mengundang Sédé, Mathieu, Conchita, serta Simon dan Léonard. Irène sebetulnya aku undang, tapi ketika tahu aku juga mengundang Simon dan Léonard, dia batal datang dan meminta maaf lewat SMS. Ya, hanya Irène dan Tuhan yang tahu alasannya kenapa dia sebegitunya tidak menyukai Simon dan Léonard.

    Ketika semua sudah berkumpul, Sédé mengeluarkan dua botol sampanye dan satu botol Jack Daniels yang dibelinya hasil patungan dia dengan yang lain. Aku yang tidak ingin ada alkohol dalam pesta ini, merasa sedikit kecolongan. Tapi kau tahu sendiri kan bagi orang Prancis, pesta tanpa sampanye dan alkohol bagaikan sayur tanpa garam. Maka kubiarkan yang lain menuangkan sampanye dalam gelas-gelas yang dibawa Sédé, sementara aku hanya ikutan mereka toast sambil minum sedikit, kemudian lanjut makan es krim. Sédé bergerak dan mendekati rak compact disc yang sudah kususun rapi. Matanya jelalatan dan mengambil salah satu compact disc lalu menyetelnya. Mengalunlah lagu “Topeng” yang menghentak dan tubuh Sédé semakin tidak terkendali.

    “Julie, Il s’appelle quoi, le groupe ?”
    “Pourquoi , Sédé , tu l’aimes ?”
     “Cool, Man! It’s really cool!!” teriaknya, diantara dentuman drum.
    “It’s Peterpan!” jawabku setengah berteriak mengimbangi lagu.
    “What!? Peterpang?”
    “Yeah, The best Indonesian band in the last ten years!”
    “Cool! Cool! Yeah, I love it! Tapi kenapa mereka tidak Go International seperti Anggung ?”
    “Peterpan juga sudah Go International, hanya belum sampai ke Prancis”
    “Sampaikan pada mereka, mereka juga harus menulis lagu dalam bahasa Prancis”
    “Sayangnya, mereka kini sudah bubar” jawabku dan cewek tomboy itu mengerutkan bibirnya tanda kecewa. Selanjutnya, Sédé berjoget habis, mengikuti beat lagu. Dalam beberapa saat, kamar ini sudah seperti tempat dugem.

Satu jam pesta berlalu, seorang tamu ‘tak kuundang’ datang dan ini cukup mengejutkan. Kau tahu siapa? Jérôme Barthélemy, ingat kan? Seorang teman sekelas yang dari awal kuliah dulu sudah mengejarku. Disaat yang lainnya menyerah karena aku tak kunjung luluh, pria bermata hijau pistachio dan berambut pirang kecoklatan itu tetap berjuang, sampai hari ini. Aku tidak dapat menyembunyikan wajah senangku ketika dia muncul sambil membawa seikat mawar merah yang masih segar dan kue bolu. Pesta makin meriah, kurasa. Tidak kusangka Jérôme akan datang. But wait, darimana Jérôme  tahu disini ada pesta? Oh, rupanya Simon dan Léonard yang memberitahu. Kau tahu, dari awal mereka berdua memang gencar menjodohkan kami berdua.

Tak lupa, kukenalkan Jérôme  pada Séb dan kakak tiriku itu hanya menanggapi dingin saja. Ketika pesta usai, semuanya pulang. Tinggal Jérôme  yang sepertinya tidak mau pulang cepat-cepat. Tapi demi melihat Séb yang tampak tidak begitu ramah padanya, Jérôme  menyerah. Aku melirik kakakku itu dan dari kilatan matanya aku tahu, dia tidak terlalu suka pada Jérôme.
**


16
Seize

Apartemenku ini kecil saja dan keberadaannya menyempil masuk-masuk gang sempit. Karena alasan itulah harganya jadi cukup murah perbulannya dibanding yang lain. Letaknya di Jussieu, masih di distrik kelima. Kuberitahu, distrik kelima Paris ini biasa disebut juga Quartier Latin. Katanya, daerah ini adalah kawasan gaul pelajar Paris. Yeah, kurasa memang begitu, karena daerah ini letaknya sangat strategis, dikelilingi berbagai kampus dan SMA-SMA beken.

Aku dapat apartemen ini atas rekomendasi Sédé. Usut punya usut, apartemen ini milik orangtua teman SMPnya dan tanpa banyak birokrasi yang berbelit-belit, aku bisa langsung dapat kamar disini. Sédé telah membuktikan ucapannya akan mencarikanku apartemen yang dekat kampus supaya tidak keluar ongkos lagi.  Di apartemenku yang mungil inilah, kujalani rutinitas kuliah dengan hati yang ditabah-tabahkan.

Dan seperti janjinya dulu, aku akan dijadikan seorang pelayan kafe oleh Mathieu. Sedikit meleset memang, aku tidak menjadi pelayan kafe, tapi penjaga toko buku kecil yang terletak di Place Monge, daerah antara Jussieu dan Mouffetard. Tidak seperti Sédé yang selalu mengandalkan koneksi, Mathieu mencarikanku pekerjaan secara door to door. Oh, bilang padaku, apakah hidup itu buruk jika kau masih punya teman-teman sebaik mereka?

Sédé memprovokasi agar aku memake over penampilanku agar terlihat lebih segar. Menurutnya, dengan penampilan yang segar, kepercayaan diri akan muncul dan itu membuat dunia menjadi terang benderang dan kehidupan otomatis akan berjalan dengan baik. Dia bilang sebetulnya ingin melakukan hal ini sejak awal melihatku. Katanya, rambutku yang panjang lurus dan hitam ini sangat kampungan. Wah, sembarangan dia. Tidak tahu apa, jika rambut panjang lurus dan hitam seperti ini sangat laku di tanah air sebagai model iklan shampo? Katanya lagi, jikapun tetap ingin panjang, harus ada sedikit layer agar lebih gaya dan diberi warna. Aku menatapnya dan sorot matanya begitu meyakinkanku. Aku luluh dan kami berdua bergerak menuju salon. Meskipun idenya terkadang gila, tapi Sédé benar. Kini aku merasa penampilanku semakin gaya. Rambutku yang dulu panjang dan hitam, kini hanya tinggal sebahu tapi berlayer-layer dan diberi high light warna pirang. Aku tak berhenti bercermin dan mendapati wajahku memang berubah total.  Kemudian, Sédé mengajakku ke butik kecil milik temannya dan membantu memilihkan beberapa paduan baju, celana dan rok.
“Sebagai orang Paris, malu jika tidak bisa berdandan. Nah, ingat-ingat ya, gaya yang cocok untukmu adalah gaya yang seperti ini. Sedikit tomboi tapi tetap terlihat sisi femininnya”

Aku mematut-matut diri di kaca. Kini aku berdiri dalam balutan rok kotak-kotak merah pendek dengan celana legging hitam ketat yang panjang. Baju atasku kemeja putih berkerah, dilapis sweater tipis hijau tua berkerah sabrina. Aku jadi mirip dengan pria Skotlandia yang berbaju adat, tapi herannya ini sangat keren!

    “Ups aku lupa” kata Sédé dan mengambil topi baret kotak-kotak sewarna dengan rok yang kupakai dan memblesekkan ke kepalaku.
    “Sip! You’re shinning like a model, babe!” serunya sambil berteriak-teriak girang.

Kuliah sambil bekerja sebagai penjaga toko buku membuat semangat belajarku meningkat. Terlebih setelah aku memutuskan untuk menerima cinta Jérôme Barthélemy dan menobatkannya sebagai kekasihku. Kau pasti tahu, selama ini aku belum pernah punya pacar bule. Waktu SMP aku hanya bisa mengagumi wajah blasteran Belanda-Jawa milik Mike, teman sekelasku, yang kubilang mirip seperti Léonard dan sejak saat itu aku mulai sedikit terobsesi untuk punya pacar bertampang bule. Jangan kau tanya bagaimana perasaanku, senangnya tidak ketulungan bahwa akhirnya aku punya pacar orang bule. Meski belum yakin benar apakah perasaanku pada Jérôme memang betulan cinta atau ketertarikan fisik saja, tapi tidak ada salahnya aku mencoba. Toh sepertinya Jérôme serius padaku. Buktinya Jérôme tampak bangga ‘menenteng’ku kemana-mana dan bilang pada semua orang bahwa dia berhasil menaklukan wanita dari daratan Asia yang keras hati. Aku juga bangga mengenalkan Jérôme pada semua yang kukenal. Kau tahu sebabnya? Sama seperti Séb, Jérôme juga orangnya cerdas dan pintar bahkan paling pintar di kelas kami. Nilai-nilaiku jadi merambat naik sejak bersama Jérôme. Kuberitahu, jika kau ingin prestasi dikelas meningkat, pacaranlah dengan juara kelas, intiplah caranya belajar, seraplah ilmu sebanyak-banyaknya darinya.

Dan seperti layaknya pasangan yang baru jadian, aku dan Jérôme mengeksplor hubungan ini habis-habisan. Dia mengajakku menyelami arti cinta dan mencintai. Hari-hari kami isi dengan kencan dan kencan hingga jauh ke Montmartre, daerah perbukitan elit di utara Paris, tempat para selebritis Prancis tinggal, lalu ngafe di Rosebud yang letaknya tak jauh dari Sacré-Coeur, menonton teater jenaka yang salah satu judulnya aku ingat, le fourberies de Scapin karya Molière, lalu ke Disneyland Paris dan naik turun roller coaster sampai mual.

    “Ayo ke puncak Eiffel” ajak Jérôme pada suatu siang yang cerah.
    “Ke Eiffel? Buat apa?”
“Akan kuteriakkan namamu dari atas sana biar seluruh dunia tahu, aku mencintaimu!”
Oh, yeah, kedengarannya sangat romantis. Akupun langsung setuju. Pulang kuliah, kami berlarian mengejar metro jalur sepuluh yang datang dari Gare d’Austerlitz kemudian turun di stasiun correspondance La Motte Picquet Grenelle dan menyambung perjalanan dengan jalur enam dengan tujuan Charles de Gaulle Étoile. Metro jalur enam ini datang dari sebuah tempat di timur Paris; Place de la Nation dan akan melewati stasiun Bir Hakeim-Champs des Mars Tour Eiffel. Disanalah kami akan turun untuk berjumpa dengan wanita tercantik di Prancis .
“JULIE CLEMENCEAU, JE T’AIME!!!” teriak Jérôme dari puncak Eiffel dan aku tak bisa menahan tawa melihatnya. Tapi berbeda denganku yang menganggap tindakan Jérôme ini sangat konyol, beberapa orang malah bertepuk tangan dan bersiul-siul, mengapresiasi salah satu bentuk seni mengatakan cinta ala orang Prancis. Jérômepun memaksaku untuk berteriak sepertinya tadi.
“Ayo, teriakkan namaku juga!” katanya sambil mendorong badanku mendekati pagar. Akupun menempel pagar dan mengeluarkan seluruh tenaga untuk berteriak.
“JÉRÔME BARTHÉLEMY!! I LOVE YOU TOO!!!” balasku tak mau kalah keras.

Orang-orang makin bertepuk tangan dan beberapa perempuan muda langsung menghampiriku dan mengecup pipi kiri dan kanan. Ah, ada-ada saja.

Puas berteriak-teriak, kami turun menuju Parc du Champs de Mars, tempat dimana pada tahun 1791 terjadi tragedi berdarah, yaitu penembakan brutal yang dilakukan oleh Pengawal Nasional terhadap demonstran yang menuntut penggulingan dan pengadilan raja Louis XVI. Aku juga ingat, inilah tempat yang pertama kali kukunjungi ketika baru tiba di Paris dan akhirnya bertemu dengan Sébastien. Jérôme segera menyeretku untuk berfoto-foto dengan background menara itu.

“Ayo!” ajaknya setelah puas berfoto-foto. Dia  menarik tanganku, turun ke la Seine mengejar bâteau-mouche yang akan berangkat menuju pemberhentian selanjutnya. Beruntung, ketika kami naik, segera saja perahu wisata itu angkat sauh, menjauhi jembatan d’Ièna. Kami terapung-apung dan kulihat menara Eiffel semakin lama semakin menjauh. Terkesiap aku seperti mengalami déjà vu. Penglihatan ini sama dengan ketika aku menjauhi menara RCTI sewaktu akan berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta. Terngiang perkataan seseorang: 
Kau akan melihat menara yang jauh lebih indah dan akan melupakan menara RCTI itu, begitu kata Naro kala itu. Aku tertegun. Kau benar, Naro, menara Eiffel memang jauh lebih indah ketimbang menara RCTI. Tapi jika aku boleh mengkhayal, Eiffel ini pindah ke Kebon Jeruk, tentu akan lebih indah lagi, bagaimana menurutmu, Naro?Ideku bagus tidak? Jérôme menyenggol tanganku untuk menunjukkan hasil jepretannya dan itu membuyarkan lamunanku.

“Hm, Naro, Dewi dan Cyntia pasti akan iri melihat ini” kataku.
“Siapa mereka?”
“Dewi adalah teman sebangkuku di sekolah, Cyntia adalah sepupuku dan Naro adalah tetangga”
“Mereka memuja Eiffel?”
“Pertanyaannya retorik banget sih! Kurasa semua orang di dunia ini memujanya dan ingin bertemu dengannya. Termasuk orang Prancis sendiri, kan?”
“Aku tidak”
“Kau tidak memujanya?”
“Aku memujamu” ujar Jérôme sembari mengecup kening dan bibirku. Wow! Jika tahu pacaran dengan Jérôme seenak ini, daridulu aku menerima tawarannya menjadi kekasihnya!! Kukabarkan ini pada Naro sekaligus kukirimi foto-fotoku bersama Jérôme, biar dia lebih percaya.

From: Juliechantique@flexymind.com
To: naro_naruto@handsomeboy.com
Subject: pacar baruku

When somebody loves me, everything is beautiful..oh yeah, i’m falling in love!
Ini pacar baruku, namanya Jérôme Barthélemy. Gimana menurutmu, Naro? Dia tampan seperti Devon Sawa, bukan?

~Julie Barthélemy~Ups,
Julie-Anne Clemenceau, maksudku! ^_^

Euforia hidup penuh kebebasan ini juga sangat kurasakan betul. Sejenak, aku jadi lupa persoalanku dengan keluarga Riquet. Apa kabar dengan Alain, Françoise juga Didier? Aku tidak tahu perkembangan mereka lagi kecuali Séb yang masih setia mengunjungiku di apartemen membawakan aku sesuatu atau titipan maman untukku. Oh yeah, bahkan aku juga sedikit lupa dengan Séb karena kehadiran Jérôme yang mengisi hari-hariku. Tapi, tidak bisa kupungkiri, aku juga merindukan saat-saat bersama Séb, saat berada di dekatnya. Mungkin karena aku kangen dengan sikapnya yang overprotective terhadapku itu dan jujur saja aku menyukainya. Apalagi sejak pacaran sama Jérôme, Séb sering sekali mengingatkanku agar selalu berhati-hati. Suatu malam Sébastien berkunjung ke apartemenku sambil membawakan lauk untuk makan malamku. Dia mendapati kamarku dalam keadaan berantakan plus sprei yang kusut masai. Jérôme memang baru saja pulang tepat setengah jam sebelum Séb datang.

“Abis bercinta sama Jérôme, ya?” tembaknya bikin aku kelagepan.
“Oh, euh..tidak juga..”
“Semoga kamu tetap Julie yang memegang teguh pada prinsip dan pandangannya sendiri mengenai seks” tukas Séb tegas, lalu segera menuju dapur untuk memanaskan makanan.

Oh, yeah, jika tidak diingatkan, aku memang hampir lupa pada ucapanku sendiri tentang sex before married yang dulu pernah aku bicarakan dengan Séb di la Pyramide. Secara fisik pesona Jérôme sulit ditampik dan dia adalah cowok yang menganut paradigma umum layaknya semua pemuda di Prancis, yaitu pacaran tanpa bumbu seks adalah hambar. Tidak kusalahkan pemikiran itu pun tidak lantas negatif menanggapinya, karena hal itu adalah bagian dari budaya mereka dan tentu saja dianggap wajar. Aku sendiri belum merasa siap dan selalu menolak tiap-tiap Jérôme mencumbuku dan mengajak untuk bercinta dengan alasan aku masih memegang teguh adat ketimuranku. Tapi aku sendiri ragu apakah sikap menolakku itu atas dasar keteguhan prinsip ketimuranku atau setiap kali bercumbu dengan Jérôme, yang hadir dalam bayanganku adalah Séb?

“Bagaimana jika Paris mengubahku?” tanyaku.
“Setidaknya, temukanlah orang yang tepat, yang benar-benar kau cintai dan dia juga mencintaimu, bukan orang yang memanfaatkan tubuhmu sebagai pelepasan nafsu saja” jawab Sébastien.
Aku terkesiap mendengarnya dan memandangi punggungnya yang sedang sibuk memanaskan lauk pauk untuk makan malamku. Mendadak aku merasakan hatiku sendu..
**
Aku berkemas untuk pulang setelah sepanjang hari bekerja. Aku melihat hape dan ada SMS dari Séb yang mengingatkan aku supaya jangan telat makan. Aku menarik napas sambil membayangkan andaikan saja Jérôme adalah Sébastien. Tidak. Aku tidak mau terpengaruh kata-kata Sédé. Dia berulang kali bilang bahwa yang kucintai itu sebenarnya bukan Jérôme, tapi Sébastien. Menerima Jérôme sebagai pacar adalah kamuflase dan tipuan yang paling sempurna di dunia, katanya. Kusumpal mulutnya dengan tanganku dan kusuruh dia mencabut dakwaannya itu. Sédé berontak sambil bilang bahwa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Séb adalah cinta Tristan dan Iseult, Romeo dan Juliette atau cinta yang tidak kesampaian.

“Kulihat kalian berdua tersiksa oleh status sebagai saudara tiri” dakwanya. Aku menggeleng.
“Ayolah, Julie. Aku juga melihat sinar matamu, sangat merindukan Séb. C’mon, be honest, baby!”
“Be honest, be honest, gigi lo gendut!”
“What?”
Aku tertawa. Rasakan! Tidak mengerti umpatanku dalam bahasa Indonesia, kan? Tapi mungkin Sédé benar, semakin intensif pertemuanku dengan pacarku itu, semakin aku merasa jika Jérôme itu mirip Sébastien. Oh,ya, ini gawat. Apa sih yang sebenarnya terjadi padaku? Tidak. Aku tidak boleh berpikir bahwa aku mencintai Sébastien. Pacarku adalah Jérôme dan aku ingin mencintai dan menerima dia seutuhnya.
    Mathieu sama saja dengan Sédé, berdiri di pihak Sébastien. Dia menemuiku tepat ketika aku baru keluar dari toko buku. Sambil menawarkan diri menemaniku jalan kaki, Mathieu memaksaku untuk mengakui ‘perbuatan’ yang menjadikan Jérôme sebagai pelampiasan karena tak bisa bersama Séb.
    “Kupikir, kalian jadi seperti detektif yang mengintimidasiku untuk mengaku salah” kataku. Mathieu hanya senyum-senyum saja mendengarnya. Oh, kenapa orang Prancis selalu obsesif terhadap sesuatu?
    “Sepenting apa sih jawabanku, Mat?” tanyaku.
    “Tidak penting memang. Aku hanya ingin kau mengakui saja jika yang dalam hatimu adalah Sébastien”
Aku tersudut dan tidak tahu cara menghindari mereka berdua. Aku terkepung oleh pernyataan-pernyataan mereka yang kebanyakannya menyudutkanku. Lepas dari Mathieu, Aku masuk ke apartemen dan menghempaskan diri ke kasur. Lelah sekali. Kusambar hape dan kubuka SMS dari Jérôme yang bilang tu me manques , kita ketemuan malam ini di apartemenku?

Aku tersenyum dan semakin yakin bahwa pilihanku tidak salah. Segera saja aku bangkit, menyambar  handuk dan mandi. Aku ingin ketemu Jérôme sekarang!